Pembalasan Gadis Abnormal

Pembalasan Gadis Abnormal
Chapter 103


__ADS_3

sepanjang perjalanan menuju rumah, baik Sheina ataupun Rian, sama sama tak mengeluarkan sepatah katapun.


mereka sama sama tenggelam dalam lamunan masing masing. tak lama, mereka telah sampai di depan rumah berukuran minimalis itu.


dan dengan segera, mereka turun dan segera masuk dalam rumah.


ceklek


suara pintu di buka dan meteka berdua segera mengganti pakaian tanpa harus mandi. karena memang harimasih siang.


"sayang, kita ke Dokternya kapan,?" tanya Rian yang menghampiri sang Istri yang sedang duduk di kursi meja Riasnya.


"sekarang lah Mas, aku suda nggak sabar mau lihat muka anak kita," Sheina mengelus perut yang masih tampak rata.


karena memang, baru satu bulan mengandung itu. Rian yang mendengarkan ucapan Sheina tersenyum tipis.


tangan laki laki itu, melingkar di perut sang istri dan mengelus perut rata tersebut. "semoga, anak kita sehat dan tak ada kekurangan satu apapun." Rian kembali mengecup kening istrinya.


Sheina membalikan tubuhnya dan saat ini, mereka menatap satu sama lain.


"aku mencintaimu," Rian membawa Sheina kedalam pelukannya dan sesekali mengecup puncak kepala istrinya.


mereka kini saling memandang dengan tatapan saling mendamba tangan Sheina terulur memeluk lwher sang suami.


dan di balas oleh tangan Rian yang melingkar di pinggangnya. kemudian, perlahan lahan, wajah Rian mirimg dan segera menyambar benda kenyal tak bertulang di depan matanya.


lama mereka saling terpagut, keduanya, melepaskan dengan wajah Sheina yang memerah karena malu. kemudian segera menyembunyikan di dada bidang sanh suami.


"kenapa, malu,?" goda Rian pada sang sang istri.


Sheina yang mendengarnya, segera mendongak dan menatap sang suami. " ish aku malu," rengeknya seperti anak kecil yang merajuk karena di goda.


Rian tergelak di dalam kamar. dan hal itu membuat Sheina semakin merasa malu.


"udah ah jangan di goda terus aku malu," Sheina malah mencubit tangan sang suami. "ayo kita pergi," gadis itu segera menarik tangan sang suami.


Rian terhenti sejenak dan menatap penampilan sang istri dari atas sampai bawah.


"kenapa, ada yang salah,?" tanya Sheina saat menyadari jika sang suami melihatnya seperti itu.


"kamu yakin mau pergi ke rumah sakit dengan penampilan seperti itu,?" tanya Rian.

__ADS_1


Sheina yang mendengarnya, hanya menganggukan kepala. " memangnya kenapa sih,?" tanya gadis itu bingung.


tanpa menjawab, Rian segera mengambil jaket dan segera mengenakanya di tubuh sang istri. "Mas nggak melihat tubuh kamu yang mulus itu di lihat oleh orang lain," Rian segera mengenakannya dan mengecup pipi Sheina.


gadis itu hanya tersenyum tipis dan membalas kecupan sang suami di pipi. " makasih ya, sudah menjadi suami yang pengertian ," ucapnya tersenyum tipis.


Rian juga ikut tersenyum dan menarik sang istri untuk segera turun ke lantai bawah. " kita makan dulu ya, " laki laki itu segera menarik kursi dan mendudukan sang ratu rumah tangga di kursi meja makan.


"mau makan apa,?" tanya Rian. Sheina menoleh dan tersenyum tipis " sosis goreng aja Mas sama susu coklat," Rian mengangguk dan mengambilkan dua sosis goreng dan sekotak susu coklat.


"makasih Mas, kan seharusnya aku yang layanin kamu," Sheina tampak merasa beraalah.


Rian menggelengkan kepala dan meraih tangan sang istri lalu menggenggamnya. " kamu adalah ratuku," ucap Rian dan mengecup jemari lentiknya.


Sheina merasa terharu dan segera memasukan potongan Sosis bakar ke dalam mulutnya.


dan baru saja gadis itu memasukkanya, tiba tiba,..


huek huek.


Sheina muntah dan swgera berlari ke arah toilet yang berada di samping dapur. Rian yang melihatnya, segara berlari dan menyusulnya.


"sayang kau tidak pa pa,?" tanya Rian begitu cemas saat laki laki itu telah sampai di belakang sang istri.


Rian yang mendengarnya akhirnya bisa bernafas lega. dan segera menggendongnya, menuju kamar mereka.


"Mas," cegah Sheina saat sang suami akan melangkah kan kakinya ke anak tangga.


"iya sayang ada apa,?" tanya Rian.


"aku mau makan sosis yang tadi," rengek Sheina. Rian yang mrndengatnya, akhirnya menurut. dan mendudukanya di kursi meja makan.


Sheina segera membuang muka saat mendapati ada roti dan sereal diatas meja. " Mas singkirkan itu dari hadapanku," serunya dengan menah mual.


Rian dengan sigap segera membawanya kedapur dan memperingatkan Para Maid agat tidak menyajikan makanan yang tak disukai oleh sang istri.


"bagaimana, sudah kenyang,?" tanya Rian menghampiri sang istri.


Sheina menganggukkan kepala. " udah Mad, ayo berangkat," Sheina segera bangkit dari duduknya.


Rian hanya tersenyum karena melihat tingkah sang istri. dan segera mengikuti langkah sang istri menuju mobil.

__ADS_1


Edy yang memang telah siap, segera masuk ke dalam mobil saat melihat majikannya keluat dari rumag.


"Ed, kita ke rumah sakit ibu dan Anak yang terbaik yang ada di kota ini," titahnya seraya masuk ke dalam mobil.


"baik Tuan," Edy segera menjalankan mesin mobilnya menuju rumah sakit tujuanya.


selama perjalanan, Sheina tak henti hentinya bermanja manja pada sang suami.


"Mas, nanti kalau anak kita cewek, kamu mau kasih nama siapa,?" tanya Sheina seraya mengelus perutnya.


"Arsyila Nirmala Putri," jawab Rian mantap dan tersenyum tipis.


'wah nama yang bagus," Sheina menyentuh tangan sang suami. " bagaimana jika laki laki,?" tanya gadis itu.


Rian menunduk menatap sang istri. kemudian mengecup kening gadis itu.


"Arsello Aditya Putra Hutama," jawabnya kembali tersenyum tipis.


*****


lama mereka mengobrol, hingga tak terasa kini mobilnya telah sampai di rumah sakit di kota itu.


mereka segera masuk ke ruang Dokter Sindy yang memang merupakan Dokter kepercayaan keluarga Hutama.


"selamat siang Nyonya dan Tuan Hutama, ada yang bisa di bantu,?" tanya Dokter Sindy tersenyum ramah.


"iya Dok, saya merasa mual jika mencium aroma sereal dan roti tawar, aneh nggak sih Dok,?" tanya gadis itu malu malu.


Dokter Sindy yang mendengarnya, hanya terswnyum tipis. tingkah gadis di depannya itu sangat menggemaskan.


"itu hal yang wajar Nyonya, karena anda masuk dalam trimester pertama," Dokter cantik itu segera menjelaskan swcara Detail.


kini Sheina sedang berbaring di brankar dan sedang di periksa oleh Dokter Sindy.


"nah Tuan, Nyonya, coba anda lihat ada dua titik di sana. sepertinya bayi kalian kembar," ucap Dokter Sindy seraya mengarahkan alat USG.


Sontak saja, hal itu membuat Rian dan Sheina, terkejut dan sangat bahagia. bahkan, Rian tak henti hentinya mengelus perut istrinya.


"terimakasih atas semua yang telah kamu kasih, terimakasih karena kamu telah bersedia mengandung anak anakku," Rian menghujani dengan beberapa kecupan.


Sheina hanya tersenyum tipis dan mengelus kepala sang suami yang masih betah di atas perutnya

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2