
Kenzo semakin intens melihat kearah gadis yang nerada di depanya itu.
ingin sekali laki laki itu, merengkuh dan memeluk raga yang terlihat rapuh itu. tapi, laki laki itu, tak mempunyai keberanian yang lebih.
"sudahlah Anggun, nggak usah sedih lagi, kita berdo'a saja, semoga, dia tenang di sana," ucap Kenzo, yang hendak menyentuh bahu gadis itu.
tapi, diurungkan karena ucapan dari Anggun. " bicara itu memang mudah kak. tapi, jika sudah menjalani, akan lain lagi ceritanya," Anggun berucap dengan nada lirih.
Kenzo menghela nafas besar mendengar ucapan gadisnya itu. karena, memang benar apa yang di katakan gadis itu.
itu sebabnya banyaknya, manusia manusia yang bisa menjudge seseorang, karena memang tidak merasakan apa yang di rasakan oleh orang itu.
mereka, akhirnya terdiam cukup lama, dengan fikirqn masing masing.
...****************...
sementara itu, di rumah sakit, Sheina tampak mengerutu karena kedua aajabaynya, tidak bisa di hubungi. bahkan Kevin yang biasanya on time pun kini hanya bercentang satu.
Sheina menghela nafas panjang, seraya menoleh kearah sofa di mana, kedua orang tuanya, telah terlelap sedari tadi.
sementara Sheina, gadis itu bahkan sulit untuk memejamkan matanya. entah apa yang terjadi, tapi rasanya sulit saja terpejam.
Sheina memutuskan untuk keluar dari kamar karena merasa bosan. dan lagi, infusnya telah di cabut dari tadi sore.
membuat gadis itu, sudah leluasa bergerak. Sheina segera turun dari ranjang. dan segera membuka pintu.
gadis itu, segera mengayunkan kakinya, berjalan menyusuri lrong rumah sakit.
jika kalian fikir, rumah aakit itu, sangat sepi, kalian salah besar karwna nyatanya. rumah sakit di sini sangat ramai.
ramai dari keluarga pasien yang berbondong bondongenjenguk keluarga mereka.
memang, peraturan di sini seperti itu, semua keluarga, boleh menginap dan menjenguk agar kesan di rumah sakit ini, tidak terlalu horor.
setelah berjalan cukup jauh, akhirnya Sheina telah sampai di sebuah taman rumah sakit. gadia itu, duduk di sana, seraya memandangi, bintang bintang di langit.
"apa sebenarnya yang terjadi,? kenapa aku merasa ada yang janggal,?" tanya Sheina entah pada siapa.
dan dari kejauhan, ada yang memperhatikan gadis cantik itu, dari balik pohon.
"ingin sekali aku menghiburmu, tapi,.." orang itu, tak melanjutkan perkataanya. dia memilih meninggalkan tempat itu, dengan sejuta rasa di dada.
dan di saat bersamaan, ada yang mengamati dari balik kaca mobil. kemudian, tak berselang lama, mobil itupun jalan meninggalkan area rumah sakit.
__ADS_1
"nona Sheina sedang berada di taman rumah sakit Bos," orang itu melaporkan apa yang baru saja, dirinya temui.
"hah, untuk apa gadis itu berada di sana malam malam begini,?" tanya orang itu di seberang sana.
"sepertinya, istri bos sedang ada masalah,terlihat dari raut wajahnya yang seperti kelelahan," jawab orang itu, memberikan penjelasan berdasarkan apa yang dirinya lihat.
"baik, kau segera pantau dan laporkan apapun yang kamu temui," titahnya.
tak lama, ponsel di matikan dan orang itu, segera menjalankan tugas dari bosnya itu.
...****************...
sementara itu, di tempat lain, Rian seperti sedang gelisah memikirkan sessuatu. tak lama, laki laki itu, menyambar jaket dan juga kunci motornya.
srmudian ia keluar dari kamar, dan melewati ruamg tamu, di mana orang tuanya berada. karena ini baru jam setengah sspuluh. dan menurut mereka, ini masih sore.
"Rian, kamu mau kemana nak,?" tanya Pak Gibran saat melihat Rian berjalan dengan tergesa gesa.
"aku mau ke rumah sakit Pah Mah, sepertinya,Sheina ada masalah, karena Edy melaporkan, jika gadis itu, sedang ada du taman belakang," ucap Rian.
Pak Gibran dan Bu Selvy, hanya bisa menganggukan kepala." pergilah, hati hati jaga dirimu," pesan Bu Selvy pada putra semata wayangnya.
"hmm, assalamu'alaikum," ucapnya seraya mwmpercepat langkahnya, menuju motornya. dengan kecepatan penuh, laki laki itu, mengencangkan laju kendaraanya.
tak lama, kuda besi yang si tumpanginya, kini sudah sampai di depan rumah sakit. dan dengan segera, laki laki itu, turun dan mengayunkan langkahnya, mendekat mobil yang di kendarai Edy pengawalnya.
"Bos," ucapnya tersentak saat pundaknya, di tepuk oleh Rian.
"kau boleh kembali, tapi, tetap sisakan yang lain, untuk berjaga jaga di sini," ucapnya.
"baik bos, kalau begitu, saya pergi dulu," Edy langsung melajukan mobilbnya, meninggalkan area rumah sakit.
Rian segera bergegas menuju tempat yang di beri tahu sebelumnya.
sesampainya di sana, Rian masih melihat istri kecilnya, termenung di sana..
dengan perlahan, laki laki itu, mengayunkan kakinya, mendekati bangku taman itu.
"nggak baik, lama lama di sini, udaranya dingin," ucapnya, seraya menggosok gosok kedua telapak tanganya.
sontak saja, Sheina yang sedang melamun pun, ssgera terkejut dan secepat kilat, menoleh kearah sumber suara.
"Bapak, ngapain bapak ada di sini,?" tanya Sheina dengan ekspresi wajah yang sulit di artikan.
__ADS_1
"lho, ini kan tempat umum, masak saya nggak boleh kesini,?" tanya Rian seraya tersenyum tipis.
sesaat Sheina tertegun, bukan karena terpesona akan ketampanan gurunya itu, melainkan karena, ucapannya yang terdengar konyol.
"hah, kenapa pula, aku harus menanyakan hal itu, Sheina Sheina, kau ini," gerutunya, oada dirinya sendiri.
"kenapa kamu ada di sini,?" tanya Rian. membuat Sheina, menoleh sesaat.
"terserah saya lah di sini,atau di mana, kan saya bukan manusia," ucap Sheina penuh penekanan.
membuat Rian menghela nafas berat." maafkan aku," ucapnya penuh sesal.
"heh, sampai kapanpun, saya tidak akan pwrnah memaafkanmu," Sheina berkata dengan penuh penekanan.
kemudian dirinya bangkit dari duduknya, dan hendak melangkahkan kakinya. namun tiba tiba,..
Bruk
Rian menubruk gadis itu, dan memeluknya debgan erat. Sheina yang awalnya terkejut, sesaat setelahnya, langsung meronta ingin di lepaskan.
"lepaskan saya," ucapnya meronta dan mencoba untuk melepaskan diri.
tapi, dengan kuat, Rian mendekap tubuh mungil gadis itu.
"aku nggak akan lepasin kamu," ucap Rian semakin erat memeluknya.
Sheina dengan bersusah payah, mencoba melepaskan diri. namun, dekapan gurunya itu semakin erat.
hingga sebuah ide muncul dari kepalanya. dan dengan sigap, gadis itu, menggigit tangan Rian. hingga membuatnya mengaduh kesakitan.
"awh," pekik Rian dan dengan segera, Sheina melepaskan diri dari kungkungan laki laki kurang warqs itu.
"dasar guru mesum, " hardiknya. " selain suka menghina, ternyata anda juga suka mesum pada seorang gadis ya, sungguh memalukan," Cibir Sheina.
gadis itu, terlihat sangat geram dan mengayunkan langkahnya, ubtuk meninggalkan area itu.
namun, sebuah suara dan kata kata, berhasil membuat gadis itu, berhenti sesaat.
"apa mungkin, seorang suami, berbuat mesum pada istrinya sendiri,?" tanya Rian.
BERSAMBUNG.....
Nb: mampir sini yuk, di karya kakak kece Anisyah S bagus lho ceritanya,
__ADS_1