Pembalasan Gadis Abnormal

Pembalasan Gadis Abnormal
Chapter 99


__ADS_3

Sheina yang mendengarnya, semakin merasa bersalah pada sang suami.


"maaf," cicitnya dengan meremas ujung kainya. hal itu, membuat Rian menatap sang istri.


"itu bukan salah kamu sayang, memang Mas sepertinya harus berjuang untuk mendapatkan hatimu sepenuhnya." Rian berkata dengan mendaratkan kecupan bertubi tubi.


Sheina yang mendengarnya, hanya tersenyum tipis. tiba tiba, gadis itu teringat akan sesuatu.


"mas, apa kamu masih berhubungan sama pacarmu itu,?" tanya Sheina sedikit gugup.


Rian yang mendengarnya, tersenyum tipis. " mwmangnya kenapa,? kamu cemburu,?" tanya laki lakiitu seraya mentoel dagu istrinya.


Sheina yang mendengarnya, menggelengkan kepala. memang kenyataannya begitu. gadis itu belum merasakan yang namanya cemburu.


"maaf Mas," cicitnya. Rian hanya tersenyum tipis dan mengelus kepala sang istri.


"kenapa harus meminta maaf, Mas nggak marah. Mas faham apa yang kamu rasakan," Rian kembali memeluk sang istri.


Rian mengeratkan pelukanya dan mengelus perut rata sang istri. " makasih ya sayang, kamu sudah mau membantu Ayah untuk mendapatkan Bundamu kembali " Rian kini berjongkok dan mengelus serta mengecup lembut Perut Sheina.


"memang, apa yang Mas bicarakan sama Dedek bayi,?" tanya gadis itu polos.


Rian mendongak dan menatap mata indah sang istri. " Mas cuma bilang, buat dia bujuk Bundanya supaya mau menerima kehadiran Ayahnya," Rian mengelus pipi sang istri.


Sheina yang mendengarnya, menangkap tangan kekar suaminya dan mengecupnya. " mamaf ya Mas, selama ini sudah membencimu. bahkan, aku sempat memperlakukan kamu dengan kasar," Shiena tampak menunduk.


"tidak sayang, Mas memang pantas mendapatkan ini semua. dan mas sudah mendapatkan karmanya. dengan di tolak oleh mu." Rian tersenyum getir saat mengingat hal itu.


" kamu tau, Mas rasanya hampir gila. waktu itu. saat kamu dengan garang menolak Mas,"


"maaf Mas tapi hatiku benar benar sakit," Sheina kembali mengeluarkan airmata kesedihan.


Rian yang melihat itu, langsung memeluknya dengan erat. " sudah, jangan nangis. sekarang kita siap siap untuk pulang kerumah kita,".Rian menarik tangan sang istri.


dan mereka bersiap siap untuk segera pulang. karena memang, waktu sudah menunjukan pukul lima sore.


Rian dan Sheina, kini telah aampai di lantai bawah dan di sana, sudah ada pak Rayn dan Bu Rianti yang tengah duduk di ruang tamu.

__ADS_1


"pak, Bu, kami izin untuk pulang. nanti kalau ada waktu, kita main kemari," Rian menyalami kedua orang tua sang istri.


"iya Nak, kalau ada masalah, harus di selesaikan berdua. dan usahakan jangan sampai orang luar tahu," Bu Rianti memberikan nasehat.


Sheina dan Rian yang mendengarnya, hanya menganggukan kepala dan tersenyum tipis.


"kalau begitu, saya permisi assalamu'alaikum," Sheina dan Rian menyalami dua manusiq setengah baya itu.


******


"Mas, kita mampir yuk ke Makam Kevin ya, ada yang mau aku sampaikan," Sheina menoleh ke arah sang suami yang sedang menyetir.


Rian yang mendengarnya, hanya mengangguk dan terswnyum tipis. limabelas menit kemudian, mereka telah sampai di area pemakaman.


"ayo sayang, kita turun" Rian mengajak sang istri dan mereka turun dengan bergandengan tangan.


"assalamu'alaikum," Sheina berjongkok di samoing kuburan sahabatnya itu.


"Vin, semoga aaat ini loe sudah bahagia ya," Sheina tampak menyeka air matanya. " gue cuma mau bilang, kalau gue berterimakasih banget sama loe karena loe udah nyelamatin gue," Sheina tersenyum tipis.


Rian yang melihatnya, ikut berjongkok dan mengelus pundak sang istri. Sheina menoleh dan tersenyum manis.


Sheina dan Rian berjalan bergandengan meninggalkan area pemakaman itu.


"sayang, kamu jangan larut dalam kesedihan, ingat di dalam sini ada anak kita," Rian mengelus perut sang istri.


"mas, kita makan bakso itu yuk," tunjuk Sheina pada oenjual bakso yang sedang Mangkal itu.


Rian menoleh pada istri tercintanya itu. " sayang, kita makam di restaurant sana saja ya," Rian mencoba membujuk Sheina.


"nggak Mas, aku mau makan di tempat yang itu," Sheina menggerutu kesal.


Rian yamg mendengarnya, hanya bisa menghela nafas panjang. laki laki itu harus bersabar. karena memang, dirinya menikahi gadis yang masih labil.


jadi, harus ekstra sabar untuk menghadapinya. Rian segera menghentikan laju kendaraanya di depan abang penjual bskso.


"Mang, baksonya di bumgkus ya," Sheina menepuk pundak suaminya. membuat laki laki itu menoleh

__ADS_1


"mau makan di sini," Sheina langsung turun. " Mang, makan disini ya," Sheina berkata dengan bersemangat.


Rian yang melihatnya segera turun dari mobilnya.dan mengjampiri sahabatnya. " sayang, kita bungkus saja ya," tawar sang suami.


Sheina yang mendengarnya, menggelengkan kepalanya. " nggak mau!! mau makan di sini," Sheina merajuk seperti anak kecil.


Rian yang melihatnya, hanya menghela nafas dan ikut duduk bergabung dengan istri tercintanya.


sebenarnya, Rian belum pernah makan yang ada di tempat seperti ini. tapi demi sang istri, laki laki iti menyanggupinya.


"enak nggak,?" tanya laki laki itu pada sang istri. Sheina hanya menganggukkan kepala. " besok hari minggu, kita ke rumah Mamah sama papa," Rian menepikan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.


Sheina yang sedang menikmati baksonya, mendongak. mematap sang suami. "mau ngapain," tanyanya seraya meneguk es teh manis di depannya.


Rian terswnyum tipis " mereka pasti senang. karena kita sudah berbaikan. apalagi, jika mereka tahu, akan ada anggota baru yang akan lahir ke dunia," Rian mengelus tangan Sheina.


gadis itu hanya menganggukan kepala. dan melanjutkan makannya. " Mas nggak makan,?" tanya Sheina.


saat gadis itu baru menyadari jika sedari tadi, hanya dirinya saja yang menikmati bakso itu.


Rian hanya menggelengkan kepala dan membuka ponselnya. untuk sekedar menunggu sang istri selesai makan.


"oh iya Mas, gimana tentang kasus tabrak lari kemarin, apa sudah ada kabar,?" tanya Sheina. menghentikan aksi makannya.


"belum sayang, sepertinya kita kesulitan menangkap mereka," Rian tampak menatap sekitas sang istri.


"aku harap, mereka segera tertangkap.agar Kevin di sana bisa tenang," Sheina tampak menghela nafas.


"kamu tenang saja sayqng, sebentar lagi Mas yakin mereka akan segera mendapatkan ganjaranya," Riam berkata dengan penuh keyakinan.


selesai makan, mereka berdua memutuskan untuk segera pulang ke rumah. " Mas," Sheina menyenderkan kepalanya ke bahu sang suami.


"kenapa sayang," Rian yang sedang menyetir dan fokus ke jalan, menoleh dan mengecup rambut sang istri. laki laki itu tampak bahagia. karena akhirnya Sheina mau bermanja denganya.


"para Ibu Ibu itu ngenalin aku nggak ya,?" pertanyaan yang membuat Rian menghentikan mobilnya


"maksudnya,?" tanya Rian yang memang tak mengerti akanmaksud istrinya itu.

__ADS_1


"iya, Mas nggak ingat sama kejadian kemarin,?" tanya Sheina cemberut


Bersambung.....


__ADS_2