
tak lama, Neneng keluar dari kamarnya dan melihat kearah Sheina yang hanya menggunakan baju lengan panjang dan celana panjang.
sejenak, gadis itu menatap Sheina dengan ekspresi bingung.
"kamu kenapa lihatin aku kayak gitu,?" tanya Sheina pada Neneng.
"kak Sheina yang kenapa,? kok udara sedingin ini, makah pakai baju panjang, sama celana panjang aja,?" tanya Gadis itu yang merasa kebingungan.
"hah, Dingin apanya, orang gerah gini kok," Sheina menggerakan tanganya ke udara.
"hah, panas gimana,? dingin banfet lho ini," Neneng masih kekeuh dengan pendapatnya.
mendengar hal itu, Sheina menjadi terdiam sejenak karena merasa sangat aneh. kenapa Neneng berkata, jika udara sangat dingin, padahal kenyataanya, udara sangat panas di sini.
"mungkin gadia ini hanya bercanda," Sheina bergumam dalam hati. tak lama, kedua gadis itu, keluar dari rumah, dan mendapati, Bi Inem dan Pak Hari yang sedang duduk santai di teras rumahnya.
"pak, Bi, Sheina pinjem Neneng bentar ya, kita mau jalan jalan keliling Desa ini," Sheina berucap. seraya tersenyum tipis.
bukannya menyahut, kedua manusia setengah baya itu, saling berpandangan. seperti ada yang mereka ingin katakan.
Sheina yang melihatnya, menjadi bingung sendiri. " boleh kan Pak, Bi,?" tanya gadis itu. karena Sheina mengira, jika kedua manusia paruh baya itu, tak mengizinkan mereka pergi.
"boleh Neng, tapi apakah Neng Sheina beneran mau pakai kaos gitu saja,?" tanya Bi Inem dengan ekspresi wajah tak percaya.
Sheina meneliti penampilannya. dan menurutnya, tidak ada yang salah dengan penampilannya. "memang, kanapa ya Bi, saya salahkah kalau pakai pakaian seperti ini,?" Sheina bertanya. karena gadis itu, meras bingung.
wanita paruh baya itu, menggelengkan kepala dan tersenyum tipis. " nggak kok Neng, Bibi cuma heran aja, di sini kan dingin banget. terus, Neng Sheina cuma pakai kaos tipis,?" tanya wanita paruh baya itu di akhir kalimatnya.
hal.itu, membuat Sheina semakin bingung saja. awalnya, gadis itu mengira jika Neneng sedang bercanda. namun, pemikiran Sheina terbantahkan. karena sekarang, Bi Inem juga mengatakan hal yang sama.
karena Bi Inem tidak akan berbohong untuk mengerjai dirinya.
" ya udah Bi, kami jalan dulu ya," Pamit Sheina pada pasangan suami istri paruh baya itu.
"iya Neng, kalian hati hati ya," Bi Inem. kembali ke tempat duduk bersama sang suami.
"kenapa, Ibuk gelisah seperti ini,?" tanya Pak Hari.,saat melihat istrinya tampak tidak tenang saat sedang duduk.
"nggak Papa Pak, Ibu cuma merasa ada yang aneh saja sama Neng Sheina," Wanita paruh baya itu, menatap sang suami sebentar.
"sudah Bu, semoga tidak ada yang aneh aneh,' Pak Hari mencoba menenangkan sang istri.
__ADS_1
Bi Inem hanya menganggukan kepala dan mereka berdua, kembali berbincang tentang masalah mereka.
****
sementara itu, Sheina yang sedang berjalan jalan keliling kampung, terhenti di depan gapura. yang bertuliskan pasar aneka ragam itu.
"kita mampir ke pasar ini Dulu yuk Kak," Neneng mengajak Sheina masuk kedalam gapra.
dan setibanya mereka di sana, Sheina begitu sangat takjub saat melihat isinya.
"wah, ramai banget ya Neng," ucap Sheina dengan ekspresi wajah berbinar.
"iyalah Kak, namanya juga pasar, ya pasti ramai. kalau pemakaman, baru sepi," Neneng berkata seraya tertawa lepas.
Sheina mendegus kesal. dan mengikuti langkah gadis yang hanya terpaut satu tahun dengannya itu.
tiba tiba, mata gadis itu terkesiap saat matanya menangkap ada makanan yang sangat ia inginkan saat ini..
dengan cepat, gadis itu segera mendekat dan mengambil makanan yang sangat dirinya idamkan itu.
"kak, ayo jalan," ucap Neneng menepuk pundakku dan membuatku seketika menoleh kearahnya.
Neneng hanya menganngguk dan melihat Sheina, yang membeli beberapa manisan.
setrlah membayarnya, mereka berdua, segera melanjutkan aktivitas jalan jalan mereka.
"Kak Sheina suka banget ya, sama manisan ini, sampai beli banyak gini,?" Neneng bertanya,seraya memasukan manisan itu kedalam mulut.
"emm kebetulan aja, aku lagi kepengen aja sama ini makanan," Sheina tersenyum tipis.
mereka kini tengah duduk di batu di tepi sungai. seraya berbincang bincang. sesekali, Sheina menghirup udara yang masih terasa segar di sini.
"hmm seger bsnget di sini," ucapnya seraya menghirup udara banyak banyak seraya memejamkan matanya.
"iyalah Kak, disini mah adem udara masih asli, nggak kayak di kota, sedikit panas dan sedikit pengap." Neneng berkata seraya memasang wajah tidak enaknya.
karena mungkun gadis itu, merasa ucapannya menyinggung perasaan anak majikan orang tuanya.
Sheina yang menyadari perubahan ekspresi wajah Neneng, hanya bisa tersenyum tipis." nggak Papa Neng, aku bukan manusia baperan," mereka berdua tertawa seraya melihat kesekeliling.
****
__ADS_1
sementara itu, Rian semakin kelimpungan karena sudah dua hari ini, Sheina tidak bisa di lacak ke beradaanya.
hal itu, membuat Rian semakin uring uringan dan yang paling terkena imbasnya, adalah Edy. supir sekaligus bodyguardnya itu, tak jarang terkena semprot.
tiba tiba, ponselnya berdering. membuat Rian menoleh dengan cepat dan segera menyambar benda pipih miliknya itu.
"halo, apa kau sudah menemukan keberadaan istriku,?' tanya Rian.
"belum Bos. tapi, anak buahku, perbah mendapati Nona Sheina bertemu dengan mantan pacarnya di jalan x. mereka terlihst seperti swdang bertengkar hebat. karena terlihat Nona Sheina menampar laki laki itu dengqn berderai air mata mereka_ " belum sempat melanjutkan ucapannya, Rian telah terlebih dulu menutupnya.
gegas, laki laki itu, menyambar kunci motornya dan segera menaiki kuda besinya, melajukanya, dengan kecepatan tinggi meninggalkan area perumahan elite itu.
lima belas menit kemudian, Rian telah sampai di tempat yang di sebutkan oleh bodyguardnya itu.
mata elangnya menelisik. mencari seseorang yang berada di tengaah tengah puluhan orang itu.
dan tak lama, netranya menangkap sosok yang ia cari cari. Rian tidak ingin mencari masalah fdengan muridnya.
sehingga laki laki dewasa itu, memilih untuk menunggu hingga latihatnya selesai.
tak lama, setelah menunggu kurang lebih tiga puluh menit, anak anak futsal itu, keluar dari lapangan.
"Adrian!!" laki laki itu, segera menoleh saat terdengar namanya di panggil. dan disana, tampak gurunya itu berdiri di dekat sebuah pohon.
"ada apa Pak,?' tanya Adrian mendekati gurunya itu.
"kamu bersama Sheina,?'"tanya Rian dengan menatap twjam muridnya itu.
"maksudnya,?" Adrian balik bertanya karena memang, dirimya tidak mengerti.
"kamu jangan sok polos ya, saya tau kalau Sheina, sempat kesini saat hari sudah sore. sekarang, cepat katakan dimana istriku?" tanya Rian penuh penekanan.
Adrian yang mendengarnya tersenyum sinis. " kalau anda tidajlk busa bahagiakan dia, setidaknya, jangan menberi luka" laki laki itu, menatap tajam gurunya.
"walaupun saya sangat sayang padanya, tapi saya tidak sepicik itu, sampai harus menculik istri orang," Adrian kembali melangkah menuju tempat latihan
BERSAMBUNG.....
Nb: mampir yuk di karya kak Rahayu Ningtyas Bunga Kinanti
__ADS_1