Pembalasan Gadis Abnormal

Pembalasan Gadis Abnormal
Chapter 106


__ADS_3

sesanpainya di dapur, Sheina segera menghampiri parq Maid yang sedang bekerja. sehingga membuat mereka semua yang berada disana, terkejut bukan main.


"Nyonya, apa yang anda lakukan disini,?" tanya si kepala Maid yang bernama Bi Lili.


"saya ingin membuat sesuatu Bi," jawab Sheina enteng. gadis itu dengan cekatan segera mengeluarkan barang barang yang di perlukan dari dalam lemari es dan menatanya di atas meja.


"Nyonya, biarkan saja kami yang memasaknya, Nyonya istirahatlah," pinta salah satu Maid yang merasa ketakutan.


"tidak perlu," cegahnya " saya ingin bisa membuat keluarga suami saya bangga dengan masakan saya," tangan lentik gadis itu terlihat sangat lincah saat memotong dan merajang sayuran.


gadis itu sangat asyik memasak hingga tak menyadari, jika sang suami telah berada di belakangnya.


"kamu nggak perlu bersusah payah untuk membuat keluarga Mas suka sama kamu dengan kamu menjadi milik Mas saja, mereka telah bahagia," bisiknya tepat di telinga sang istri.


sontak saja, hal itu membuat Sheina terlonjak kaget dsn dengan cepat, segera menoleh kesumber suara.


"astaghfirullah Mas, ngagwtin aja sih," gerutunya seraya mengelus dada karena kaget.


bukanya menjauh, Rian justru melingkarkan tangan kekarnya di perut sang istri. dan berkali kali mengecup daun telinga Sheina.


membuat gadis itu, bergidik karena merqsa geli dengan perlakuan sang suami.


"ish Mas geli ih, aku mau masak jadi nggak bisa ini," tegur gadis itu karenaerasa geram karena sedari tadi hanya di ganggu saja.


"ya udah kalau begitu kita masak sama sama," Riberkata dengan sangat enteng. seperti tanpa beban dalam hidupnya.


laki laki itu mulai memnguoas bawang dan memotong motong sayuran yang hendak di masukan ke dalam kuali.


namun, dengan cepat, Sheina mencegahnya. dirinya tqkut jika sang suami akan membuat masakan ini hancur.


" Mas jangan," tangannya menarik tangan Rian yang hampir membuka tutup kuali.


Rian yang mendengarnya, segera menoleh. " kenapa sayang," tanyanya merasa bingung.


"emang Nas bisa masak apa?" tanya Sheina spontan. lalu kemudian segera menutup mulutnya karena merasa kurang ajar pada suaminya sendiri.

__ADS_1


padahal, dulu sebelum hati Sheina mencair, gadis itu bahkan bertindak kasar pada suaminya. yang bisa di katakan KDRT.


namun sekarang setelah hati Sheina benar benar tertaut dengan Rian, lihatlah apa yang terjadi. gadis itu bahkan tak berani untuk mencela suaminya itu.


betapa besar kekuatan cinta yang di miliki oleh Rian. laki laki itu berhasil mengubah si jutek galak dan barbar selembut putri salju.


"eh, kamu jangan ngeremehin Mas ya," ucap Rian dengan ekspresi wajah tidak sukanya. namun percayalah hal itu hanya untuk mengerjai sang istri.


karena dalam hatinya, laki laki itu mana berani memarahinya. terlalu takut jika sang istri akan kembali kabur.


"eh, Maaf Mas, Mas marah ya,?" tanya Sheina yang mendadak menunduk ketakutan.


hal itu lamgsung membuat Rian merasa bersalah. laki laki itu segera menarik sang istri kedalam pelukannya.


"Maaf, maaf ya sayang, Mas tadi hanya bercanda," Rian mengelus kepala sang istri dengan penuh kasih sayang.


Sheina yang mendengarnya, segera mendongak menatap garis tegas sang suami. " Mas beneran gak marah kan,?" tanya gadis itu sekali lagi.


Rian hanya menganggukan kepala. membuat Sheina sedikit bernafas lega. entah mengapa, semakin kesini, ssmakin sensitif saja dirinya.


karena mungkin hormon kehamilan yang terlalu banyak, membuat gadis itu semakin cengeng saja. apa lagi dengan kejadian mimpi semalam yang menurutnya sangat menyeramkan.


membuat Sheina semakin dilanda ketakutan berlebih.


"kita lanjutin masak, atau mau lanjutin pelukannya,?" goda Rian pada sang istri.


hal itu membuat Sheina seketika tersadar dari lamunanya dan segera melepaskan pelukannya.


kemudian, mereka kembali melanjutkan acara masaknya yang sempat tertunda karena ada Drama yang baru tayang. hehehe.


"omong omong, semua Maid kemana Mas?" tanya Sheina yang baru menyadari, jika para Maid itu menghilang.


"Maa suruh mereka ke rumah belakang. karena Mas ingin menikmatiasak berdua denganmu," Rian yang sedang merajang tomat, terswnyum tipis.


"oh, tapi kenapa tadi para Maid begitu takut melihatku masuk dapur,?" tanya Sheina yang mengingat kenapa tadi Maid begitu ketakutan saat dirinya memasuki area dapur.

__ADS_1


"itu karena Mas akan memecat mereka, jika mereka membiarkan istri Mas mrnyentuh alat dapur," tanpa berdosa sama sekali, Rian mengatakan hal itu.


seakan akan apa yang laki laki itu lakukan sangat terpuji. Sheina yang tengah sibuk mengaduk sayur, menghentikan aktivitasnya.


gadis itu berbalik mematap sang Suami dengan tatapan tajamnya. hal itu membuat Rian, juga ikut menghentikan aktivitasnya.


"Sayang, kenapa kamu melihat Mas seperti itu,?" tanya Rian dengan memasang wajah kebingungan karena laki laki itu belum menyadari, apa kesalahannya.


Sheina yang memdengar pertanyaan dari Suaminya, semakin menatap garang ke arah laki laki itu.


"Mas masih tanya, apa kesalahan Mas,?" tanya gadis itu berkacak pinggang.


Rian yang melihatnya, menelan kasar salivanya. " kenapa lagi ini bocah," gumamnya dalam hati. kemudian, laki laki itu menggelengkan kepala. karena memang, dirinya tidak mengerti.


"Mas tuh tsu nggak sih, kalau Mas tuh udah semena mena sama orang kecil. bagaimana perasaan Mas kalau berada di posisi mereka," tanya gadis itu setengah mengomel.


Rian yang mrndengarnya, hanya bisa tersenyum kikuk. karena apa yang di sampaikan oleh istrinya itu,emang ada benarnya. laki.laki itu sering bersikap semena mena pada bawahanya.


"sayang, Mas ngelakuin ini itu karena,..." belum sempat laki laki itu membela diri, ucapannya sudah terlebih dulu di potong sama bocah SMA yang berstatus istrinya itu.


"cuma apa hmm, cuma ingin melindungi aku,? aku nggak butuh di lindungi karena aku bukan anak kecil lagi." terangnya


Rian yang mengetahui, jika istrinya akan ssgera meledak kemarahannya, segera membawanya untuk segera duduk. lebih baik dirinya tidak bamyak omong karena itu akan lebih baik tentunya.


Sheina yang masih merasa kesalpun, berulang kali menumedel sendiri setelah di rasa cukup, Sheina kembali menatap sang suami dengan tatapan yang sulit di artikan.


"janji sama aku, jangan melakukan hal yang semena mena lagi pada orang bawah," Sheina berkata dengan nada datar nyaris tanpa ekspresi. hal itu malah sukses membuat Rian terlonjak kaget.


karena baginya, mode ini adalah mode yang paling menyeramkan dalam sejarahnya.


"iya sayang, aku janji sama kamu untuk tidak berlaku semena mena pada orang lain," ucapnya cepat. namun, percayalah jika itu hanyalah ucapan Rian belaka.


karena sejujurnya, sifat datar dan dinginnya, tetap kental terasa.


setelah lima belas menit, masakan mereka skhirnya jadi. dan kini, Sheina mulai membuat kue untuk di bawa je rumah sang mertua

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2