Pembalasan Gadis Abnormal

Pembalasan Gadis Abnormal
Chapter 63


__ADS_3

"loe kok tumben yang original,?" tanya Sheina yang merasa penasaran.


karena memang, ketiga remaja itu, sangat menyukai pedas.


"hehehe, lagi pengen aja, makan yang nggak pedas," ucap Anggun tersenyum tipis.


tak lama kemudian, makanan yang mereka pesan telah sampai. dan dengan segera, Sheina melahapnya.


langit sudah mulai berwarna jingga, dan matahari yang mulai tenggelam. menadakan hari akan segera malam.


dan mereka semua, memilih untuk pulang ke rumah masing masing.


"makasih ya Ian, tukang ojek kesayangan aku, atas tumpanganya," ucap Sheina seraya menahan senyum.


"enak aja, aku udah ganteng gini di bilang tukang ojek," gerutu Adrian.


sontak saja, ucapan laki laki itu, membuat Sheina tertawa.


"yaudah ya, aku pamit dulu, salam sama camer," bisik Adrian di telinga Sheina.


bluusshh


seketika, wajah Sheina langsung berubah menjadi merah padam karena merasa terbang dengan gombalan kekasihnya itu.


"ish jangan gitu ah, aku kan jadi malu," ucap Sheina teraenyum malu malu.


tak lama, Adrian melajukan motornya, melesat meninggalkan kediaman kekasihnya.


Sheinapun, segera masuk ke dalam rumah. " assalamu'alaikum," Sheina masuk kedalam rumah dan langsung menuju kamar untuk membersihkan diri.


Sheina masuk ke dalam kamar dan segera membersihkan diri dan setelah itu, menuju ke ruang keluarga.


disana, kedua orang tuanya berada. Sheina segera duduk di sebelah sang Ibu.


"eh, anak Ibu udah pulang," ucap Bu Rianti. " gimana pemotretanya,?" tanya Wanita itu pada anaknya.


Sheina menoleh dan mentap sang ibu barang swbentar. " nggak gimana gimana sih Bu," ucap Sheina malas." tadi, kenapa Ibu nyuruh Sheina bareng sama laki laki itu,?" tanya Sheina pada akhirnya.


karena sedari tadi, gadis itu masih di landa penasaran yang membuncah.


"Ibu hanya menghargai kedatangan nak Rian sayang," ucap Bu Rianti mengelus kepala anaknya.


Sheina yang mendengar itu, hanya bisa menghirup udara sebanyak mungkin dan menghembuskannya pelan.


"apakah kamu masih menaruh dendam padanya,?" pertanyaan itu jeluar dariulut Bu Rianti.

__ADS_1


Sheina yang mendengarnya, langsung mendongak dan mematap dalam wajah ibunya


"sangat. bahkan, sampai saat ini, Sheina masih tak terima jika orang itu, mendekati keluarga kita," Sheina berucap dengan mata berkaca kaca.


sungguh, memang hati Sheina masih terasa sakit jika mengingat tentang kejadian itu.


"sayang, Ibu minta maaf ya, atas semua yang menimpamu dulu, membuatmu sanpai mengalami trauma seperti itu," ucap Bu Rianti seraya mendekap putrinya erat.


"enggak masalah Bu. oh ya, tadi ada salam dari Ian, katanya buat calon mertua," ucap Sheina tersenyum senang.


"wah, ternyata anak Bapak dan Ibu, udah sudah berani berbicara soal mantu dan mertua ya," goda Pak Rayn.


Sheina yang mendengarnya langsung memukul pundak Bapaknya pelan." ush itu kan yang ngomong, Ian bukan Sheina," gadis itu tamlak cemberut.


sontak saja, kedua orang tuanya itu tertawa. " hmm lucu banget sih anak Ibu," Bu Rianti mendekap kembali putrinya.


"semoga, kebahagiaan selalu menyertai kamu selamanya sayang," ucap Bu Rianti seraya mengecup kepala anaknya.


"Aamiin," semua orang meng-Aaminkan ucapan Bu Rianti.


setelahnya, Sheina berpamitan pada kedua orang tuanya menuju kamar.


setibanya di dalam kamar, Sheina segera merebahkan tubuhnya, di kasur empuk miliknya.


"assalamu'alaikum," ucapnya. setelah menekan tombol hijau.


"Wa'alaikum salam, lagi apa,?" tanya Adrian.


"rebahan," jawab Sheina singkat. entah mengapa,?Sheina sangat malas hari ini. apalagi, dengan pemotretas yang baru saja, gadis itu lakukan.


"emm salam aku udah di sampaikan,?" tanya Adrian yang mengetahui jika ke kasihnya sedang tidak baik baik saja.


dan benar saja, wajah gadis itu langsung memasang wajah memerah menahan malu. "ish Ian, kenapa harus di bahas sih," rajuk Sheina.


membuat Adrian seketika tergelak di seberang sana. " yaudah, kamu tidurnya jangan malam malam," pesan laki laki itu pada sang kekasi.


"siap pak ketua," ucap Sheina seraya mengangkat tanganya seperti orang hormat.


"assalamu'alaikum," ucap Adrian.


"wa'alaikum salam," ucap Sheina seraya menutup ponselnya. kemudian, gadis itu membungkus tubuhnya dengan selimut.


...****************...


sementara itu, di sebuah ruangan kecil, tampak Rian tengah berbincang bincang dengan laki laki di depannya dengan serius.

__ADS_1


"oke, baik kalau begitu, saya permisi keluar dulu, terimakasih atas kerja samanya," ucapnya seraya menjabat tangan laki laki di depanya itu.


"sama sama Pak, mungkin semua akan jadi sekitar tiga hari sampai seminggu," ucap laki laki itu tersenyum.


lalu, Rian keluar dari dalam ruangan itu, dan langsung menuju mobilnya.


"maafkan aku Sheina, tapi hanya cara ini yang bisa aku tempuh untuk mendapatkanmu," lirihnya. kemudian melajukan kendaraanya.


lima belas menit kemudian, laki laki itu, telah sampai di depan sebuah rumah yang berukuran sangat besar.


bahkan, lebih besar dari rumah yang dirinya tempati dengan kedua orang tuanya.


dengan segera, laki laki itu, masuk kedalam rumah yang bergaya khas eropa tengah itu.


saat dirinya sudah sampai di depan pintu utama, tiba tiba, pintu itu terbuka sendiri secara otomatis.


ia melihat semua pelayannya, berbaris rapi dengan menundukan kepala hormat. Rian sangat tersenyum puas melihat isi di dalam rumah barunya itu.


sangat sesuai dengan keinginanya. yaitu, dengan foto dirinya bersama Sheina tadi pagi yang berukuran sangat besar.


bahkan di atas meja meja, terjejer rapi foto gadis itu. Rian mendapatkan gambar itu, dari orang suruhanya.


Rian melangkahkan kaki, menaiki satu persatu anak tangga, menuju lantai atas.


sebenarnya, Rian memiliki akses menuju lantai dua, yaitu dengan menggunakan lift. tapi, sepertinya laki laki itu, ingin berlama lama, menikmati pemandangan dinding rumahnya.


saat dirinya membuka pintu kamarnya, Rian tersenyum puas. karena di depan sana dirinya melihat fotonya bersama Sheina terpajang di tengah tengah.


perlahan, laki laki itu, melangkahkan kaki menuju ranjang, dan duduk di sana.


"semoga nanti, kamu menyukai design rumah ini sayang," gumam Rian seraya meraih foto dalam figura kecil dan memeluknya.


sepertinya akan ada acara besar yang akan di selenggarakan oleh Rian. terbukti, dengan laki laki itu, membeli rumah mewah dan besar ini.


jika kalian mengira Rian hanya berorofesi sebagai guru, kalian salah. karena pada kenyataanya, Rian memiliki beberapa usaha yang cukup sukses.


seperti pabrik konveksi, pabrik kertas, dan masih ada beberapa restaurant kecil yang berada di beberapa wilayah.


setelah puas memandangi foto gadis pujaanya itu, Rian beranjak dari duduknya menuju pintu keluar.


saat Rian turun menuju kantai bawah, semua pelayan yang berada di sana, langsung menundukan kepala.


"dengar sini semua, sebentar lagi, rumah ini akan kedatangan Ratu di rumah ini, jadi saya harap, kalian bisa bersikap sopan padanya nanti," ucap seseorang yang memang bertugas memberikan informasi ini pada para Maid itu.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2