Pembalasan Gadis Abnormal

Pembalasan Gadis Abnormal
Chapter 27


__ADS_3

dan interaksi antara Sheina dan Kevin itu, membuat Rian yang berada di meja guru, terbakar api cemburu dan tak menyadari, jika pulpen yang berada di genggamannya, patah menjadi dua.


Rian terus saja memandangi mereka dengan tatapan membunuhnya dan berulang kali, membuang nafas kasar untuk meredam amarahnya.


bel istirahat berbunyi dan membuat semua siswa berhamburan keluar. termasuk juga Sheina dan Kevin.


mereka bahkan tak canggung sama sekali, saat melewati meja gurunya, dengan saling merangkul.


"permisi Pak," ucap Kevin saat berjalan di droan meja guru. dimana Rian berada.


namun,langkah mereka terhenti saat mendengar ucapan Rian dari belakang. yang membuat Sheina dan Kevin menoleh.


"Sheina, " panggil Rian.


Sheina hanya menoleh dan menunggu ucapan gurunya itu selanjutnya.


menyadari bahwa Sheina hanya diam, Rian melanjutkan kata katanya.


"tolong bawa ini ke ruangan saya, " ucap Rian seraya menunjuk tumpukan buku yang berada di atas meja.


Sheina hanya mengangguk dan kemudian merapikan buku itu, dan segera membawanya ke ruang guru.


"hati hati nanti kecantol loe, " ucap Kevin meledek. membuat Sheina mendengus kesal seraya memukul lengan laki laki itu. membuat Kexin tertawa pelan.


dan tawanya terhenti., saat melihat tatapan tajam dari gurunya itu.


"jangan kebanyakan bercanda, ayo cepat bereskan," ucap Rian terdengar tak suka. membuat Kevin mengulum senyum.


karena merasa Rian sedang mengalami kecemburuan akut. membuat Kevin memutuskan untuk keluar dari kelas. karena memang, perutnya, sudah berdemo ingin di isi


"Sheina nanti kalau udah selesai, loe nyusul ya, " ucap Kevin yang sudah berada di ambang pintu.


"sip, pesenin gue seperti biasa ya, " ucap Sheina seraya tersenyum tipis. dan hal itu, membuat Rian semakin kesal di buatnya.


Sheina. berjalan di belakang Rian, karena memang gadis itu tak ingin berada di samping laki laki itu.


dan di sepanjang koridor sekolah, Rian selalu menoleh ke bekakng. ingin rasanya Rian mengajak gadis di belakangnya itu, untuk berbicara.


namun, keinginannya, ia urungkan karena melihat situasi dan kondisi.


karena selain lingkungan sekolah yang tampak ramai, juga karena Sheuna sedari tadi hanya diam seraya terus berjalan seraya menundukkan kepala. membuat Rian menjadi sungkan.

__ADS_1


setelah sampai di depan ruang guru, Rian segera nasuk kedalam dan di ikuti oleh Sheina di belakangnya.


membuat para Guru, menoleh kearah Rian dan Sheina seraya tersenyum tipis dan saling berpandangan. seakan menyiratkan sesuatu dalam kode mata mereka.


"Siang Pak Rian, Siang Sheina, " ucap beberapa guru secara bersamaan.


membuat Sheina tak langsung menjawab, gadis itu, terdiam untuk beberapa saat. kemudian, tersenyum manis dan membalas saoaan mereka.


"Siang Bu Winda yang cantik, " sapa Sheina menggoda wali kelasnya itu.


"Duh, Sheina yang pendiam, sekarang sudah pandai menggombal ya, " ucap Bu Winda seraya mengacak acak rambut Sheina.


Sheina hanya membalasnya dengan tersenyum tipis. dan senyuman itu, berhasil membuat hati Rian semakin terpana olehnya.


"ehem ada yang terpana nih sepertinya, " ucap Oak Andi seraya berdehen.


"ya, nggak papa kali pak, terpana sama calon istri sendiri, " celetuk Pak Andi. membuat mereka terkekeh kecil seraya menatap wajah Rian yang tampak memerah karena menahan malu.


sementara itu, Sheina yang tak mengerti, hanya diam dan memilih untuk meletakkan tumpukan buku tersebut, diatas meja Rian.


setelah swlesai, Sheima keluar dari ruangan Rian dan menghampiri para gurunya yang masih asyik bercanda di ruangan istirahat. seraya sesekali, meledek Rian.


"semuanya, Sheina permisi dulu, nau makan sama teman teman," ucap Sheina seraya berjalan membungkuk di depan para gurunya.


"iya Sheina sekalian mengakrabkan diri, sebagai calon istrinya Rian, " timpal Pak Andi seraya tersenyum tipis.


Deg


ucapan pak Andi, yang baru saja, di katakan, membuat Sheina menegang seketika.


bagaimana mereka bisa tau, jika Sheina adalah cslon istrinya Rian,? eh apa tadi calon istri,? sejak kapan Sheina menerima lamaran dari Rian,? ih ogah.


"apa maksudnya,? " tanya Sheina merasa bingung melihat situasi dan kondisi di hadapannya iitu.


"sudahlah, kalian jangan menggoda Sheina terus, " ucap Rian pada akhirnya. dan hal itu, membuat para gurunya itu, menjadi bertambah malu.


"cieelah di belain calon suami ," ledek pak Andi yang memang, senang sekali meledeknya.


"Pak Andi jangan bicara sembarangan ya, saya bukan calon istrinya, " ucap Sheina dengan tegas.


membuat semua guru menjadi bingung.

__ADS_1


"nggak usah malu Sheina, lagipula, Pak Rian hanya guru magang di sini, jadi jikapun ada hubungan dengan muridnya, saya rasa sah sah saja. karena Guru juga manusia biasa yang bisa jatuh cinta, apalagi, jatuh cintanya sama kamu, " ucap Pak Andi menggoda.


namun, sungguh gombalan para gurunya itu, tak membuat Sheina bangga sedikit pun. justru dirinya merasa muak dengan semua ini.


"iya sih pak, tapi kan saya bukan tipe semua laki laki, saya justru bertanya pada diri saya sendiri, memang, di dunia ini, sudah kehilangan wanita cantik ya, sampai ada yang memilih saya,? " tanya Sheuna. yang bermaksud menyindir Rian.


membuat Semua orang, yang berada di sana. menatap Sheina dengan ekspresi tak percaya.


bagaimana bisa, seong yang pendiam, mengeluarkan kalimat setajam itu. dan hal itu, membuat Rian, langsung memasang wajah dingin dan tak bersahabat.


Yap. para guru di sini, sudah mengetahui jika Rian dan Sheina akan segera menikah. tapi, mereka tak mengetahui jika lamaran Rian, di tolak oleh Sheina.


mereka hanya tau, kalau Sheina akan segera menikah setelah Sheina lulus sekolah nanti. padahal, kenyataannya, hubungan mereka tak swmulus itu.


karena pada kenyataannya, Rian harus mati matian memperjuangkan hubungan mereka.


para guru pun, memutuskan untuk keluar dari ruang guru. meninggalkan Rian Dan Sheina sendirian di sana.


Sheina hanya terdiam dan sesekali menghela nafas panjang seraya sesekali tanganya, mengetikan pesan, oada kedua sahabatnya.


Sheina : gaes tolongin gue,


Anggun : loe kenapa,?


kevin : loe di mana,?


Sheina : gue..


belum sempat Sheina menuliskan balasan pada kedua sahabatnya itu, Rian sudah mengambil Ponselnya terlebih dahulu.


membuat Sheina terkejut dan menatap dingin laki laki di sebelahnya.


"maaf, kembalikan ponsel saya, " ucapnya seraya memasang ekspres datarnya.


Rian yang mendengarnya, hanya bisa tersenyum miris oada gadis di sampingnya itu.


"sampai kapan kamu membenci saya,? " tanya Rian menatap sendu.


"huh, sampai bapak berhenti mengganggu saya dan berharap lebih akan hubungan ini, karena sampai kapanpun, saya tidak akan pernah menganggap kita pernah ada hubungan," ucap Sheina seraya bangkit dari duduknya dan menuju pintu keluar.


namun, dengan segera, Rian menarik tangan Sheina. sehingga tubuh gadis itu, ambruk di atas tubuh Rian.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2