Pembalasan Gadis Abnormal

Pembalasan Gadis Abnormal
Chapter 39


__ADS_3

mereka berdua, sangat berharap, jika Sheina dapat meraih kebahagiaan dengan Adrian. karena Anggun dan Kevin tau, dari kecil Sheina tak pernah mendapatkan kebahagiaan.


Kevin dan Anggun tau dari cerita Bu Rianti saat mereka sedang mengobrol sembari mununggu Sheina bersiap siappada saat itu.


"ayo pulang, loe mau di sini aja," ucap Anggun tersenyum tipis kearah Kevin. karena masuh merasa senang dengan Sheina. tanpa merubah ekspresi wajahnya.


sontak saja, senyuman Anggun yang begitu manis, membuat Kevin sedikit terpana. hingga Anggun, menepuk pundak laki laki itu.


"malah nglamun nih si curut, woy," sentak Anggun seraya menepuk pundak Jevin dengan keras.


membuat Kevin, gelagapan dan menggaruk tengkuknya yanf tidak gatal.


"hah, gue mikirin apa sih,? jangan ada kata baper di sini, gak boleh," Kevin bermonolog. seraya mengenakan helmnya.


sementara Anggun, gadis itu memasuki mobilnya dan segera mengendarai meninggalkan area sekolah.


meninggalkan tatapan seseorang, yang menatap dengan pandangan tajam. siapa lagi, jika bukan Rian.


bahkan laki laki itu, menatap Sheina dan Adrian seperti ingin menguliti mereka hidup hidup. hih, mengerikan.


Shandy menghampiri Rian, dan menyapanya untuk sekedar menarik perhatian laki laki itu.


"siang Pak," ucap Shandy tersenyum semanis mungkin. agar gurunya itu, sedikit terpana. tapi, terkadang kenyataan tak seindah harapan.


karena kenyataanya, Rian hwnya menganggukan kepala dan berlalu pergi tanpa melihat gadis itu sedikitpun. membuat Shandy, menggeram kesal karena merasa di abaikan.


"awas saja, kalian semua akan mendapatkan balasanya," gumanya seraya melangkah pergi.


...****************...


sementara itu, Sheina dan Adrian, sedang menikmati perjalanan mereka menggunakan motor. sesekali, mereka bercanda hingga mengundang gelak twwa dari keduanya.


"loe ternyata lucu banget sih, nyesel gue nggak kenal loe dari dulu," ucap Adrian seraya menengok kebelakang. agar suaranya terdengar oleh Sheina.


"hehe gie emang suka ngelawak sih Ian, makanya gue imut imut karena sering tersenyum," ucap Sheina dengan mimik wajah seperti orqng yang jumawa.


membuat Adrian yang melihat itu, menjadi semakin merasa gemas.


tak lama, mereka berdua sampai di gerbang perumahan Sheina.


tapi, gadis itu merasa heran karena Adrian tak membawanya ke rumahnya, malah melewati rumahnya.


tiba tiba, perasaan twk7t, muncul di dalam otaknya. bagaimana kalau dirinya di culik,? kan Sheina dan Adrian baru kenal beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


"loe mau bawa gue kemana,?" tanya Sheina tiba tiba membuat Adrian menoleh ke belakang. kemudian tersenyum simpul. kemudian, kembali fokus ke depan menatap jalan yang sedikit terjal itu. tanpa berniat menjawab omongan Sheina.


"loe nggak lagi mau nyulik gue kan,?" tiba tiba, pertanyaan konyol itu, meluncur dari mulutnya. membuat Adrian terkekeh geli mendengar penuturanya..tak lama, mereka tiba di sebuah danau buatan yang sangat indah.


membuat Sheina yang sedari tadi menggerutu, langsung menghentikan suaranya. karena melihat pemandangan yang indah di delan matanya.


" tuh, gue mau culik loe ketempat yang indah, gue penculik yang baik hati bukan,?" tanya Adrian.


membuat Sheina yang mendengarnya, mengerucutkan bibirnya karena du sindir seperti itu.


"lagian di tanya ngfak di jawab, salah siapa coba kalau gue nganggepnya, loe mau nyulik," ucap Sheina.


Adrian mendekat dan berdiri tepat di belakangnya. kemudianberbisik di telinga gadis itu.


"iya gue may nyulik hati loe, loe bersedia hati loe gue culik,?" tanya Adrian masih dwlam posisinya.


membuat siapa saja, yang melihat interaksi mereka, seperti orang yang sedang di cium.


blushh


perkataan Adrian yang baru saja keluar, mampu membuat wajah gadis itu memanas. bahkan wajahnya sampai merah padam.


"ma-maksud loe apa,?" tanya Sheina seraya menyembunyikan wajahnya yang menahan malu.


"l-loe nembak gue,?" tanya Sheina masih tergagap. Adrian hanya menganggukan kepala, oenuh keyakinan.


"tapi, gue kan,-" ucapan Sheina terhenti saattangan Adrian,menempel di bibirnya.


"gue nggak mau loe ngomong apapun tentang hal yang menyakuti hati loe sendiri," ucap Adrian seraya mrngelus puncak kepala gadis itu.


"tapi, jujur gue belum ada rasa sama loe," ucap Sheina. membuat Adrian seketika menghentikan gerakan tangannya di kepala Sheina.


Deg.


jantungnya, serasa ingin lompat dari tempatnya mendengar ucapan dari Sheina.


namun, swbisa mungkin laki laki itu, harus mencoba untuk tersenyum walau rasanya sakit.


"loe marah,?" tanya Sheina yang mencoba memberanikan dirinya menfongakan kepala, untuk melihst reaksi wajah Adrian.


Adrian menyunggingkan senyuman manis dan menggrlengkan kepala.


"ngapain gue harus marah, loe berhak melakukan apapun, asal loe merasa bahagia," ucap Adrian tersenyum tipis.

__ADS_1


"maaf, tapi gie beneran belum bisa, karena sepertinya, ini terlalu mendadak buat gue,"ucap Sheina kembali menunfukan kepala.


"nggak masalah. lagipula, loe bilang, ini terlalu mendadakan kan,? gue akan selalu perhatian sana loe, agar pwrasaan di sini cepat berkembang," ucapnya seraya menunjuk di dadanya sendiri.


Sheina tersenyum dan menganggukan kepala. jijur, dirinya mwnang ada ketertarikan pada Adrian. tapi, jika harus langsung menjalin hubungan itu terlalu cepat menurutnya.


kemudian mereka berdua kembali naik keatas motor dan pulang kerumah masing masing. tentunya, mengantarkan Sheina terlebih dahulu.


sesampainya di depan rumah, Sheina dan Adrian, di sambut oleh kedua orang tua gadis itu.


"assalamu'alaikum," ucap mereka kompak seraya turun dari motornya.


"wa'alaikum salam," ucap Bu Rianti yang bangkit dari duduknya. menyambut anak dan temanya itu


"kalian dari mana,?kok Ibu lihat, kalian dari belqkang sana,?" tanya Bu Rianti seraya menunjuk ke arah belakang.


"kami dari melihat danau buatanBu," ucap Sheina tersenyun tipis. Bu Rianti yang mendengarnya, hanya menganggukan kepala.


"kalau begitu, saya permisi Bu, Na, assalam'alaium," ucap Adrian menyalami Bu Rianti, kemudian menepuk pundak Shrina.


"hati hati di jalan," ucap Sheina tersenyum manis. membuatBu Rianti, yang melihat anaknya seperti itu, mulai memahami situasi.


Adrian hanya menganggukan kepala dan segera melajukan motornya, meninggalkan rumah Sheina.


"ayo masuk," ucap Bu Rianti seraya menepuk pundak putrinya dengan pelan. membuat Sheina, terlonjak kaget.


"astaghfirullah Bu, " ucapnya seraya mengelus dada karena masih merasa terkejut.


"padahal Ibu tadi cuma menepuk. pundak kamu pelan lho, kok bisa kaget,?" tanya Bu Rianti pura pura bingung.


"eh,itu " Sheina tak bisa melanjutkan perkataanya. karena memang, ia tak tau harus ngomong apa.


"makanya, kalau lihatin pacar, jangan segitunya, kan jadi kaget," ucap Bu Rianti berbisik.


Deg


membuat jantung Sheina, bekerja ekstra keras mendengar ucapan ibunya.


"apa jangan jangan ibu tau kalau aku tadi sama Adrian,?" Sheina bertanya tanya sendiri dalam hati.


"nggak usah bengong, nanti paxarmu nungguin loh," ucap Bu Rianti kembali berbisik.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2