
Dengan perlahan, Rian beranjak dari duduknya, dan memilih untuk menjauh dari gadis itu.
membiarkan amarahnya menguap. "ssh aku nggak menyangka, Sheina akan sekasar dan semenakutkan ini jika swdang marah," gumam Rian mendesah pelan.
tak lama, Rian melihat, Sheina keluar dari kamar, dengan membawa kopernya.
beegegas, laki laki itu, menghqmpiri dan menarik tangan gadis itu.
"sayang, kamu mau kemana,?" tanya Rian pada sang istri.
"lepaskan,!" santak Sheina dengan menepis tangan suaminya itu.
"plis aku mohon, kamu jangan seperti ini," Rian berucap saraya mengatupkan kedua tangannya di dada.
"lepaskan!!" bentak Sheina ber api api dan dengan berlari secepat yang dia bisa.
dan dengan panik, Rian mengejar sang istri, hingga terjadilah aksi kejar mengejar seperti film india hehe canda ya gaes biar nggak sedih.
hingga Sheina telah sampai di depan kerumunan Ibu Ibu yang sedang mangkal di tukang sayur.
"toloong !! toloong saya, saya di culik," Sheina berteriak seraya berlari menghampiri kerumunan orqang orang yang berada di sana.
"neng ada apa,?" tanya salah satu ibu ibu yang mengenakan hijab.
"tolong Bu, saya di culik sama Dia!" Sheina meunjuk kearah Rian yang berada di belakangnya.
sontak saja, Rian membulatkan matanya, saat istrinya itu, meneriaki dirinya seorang penculik.
"bukan!! saya suaminya!! " ucap Rian lantang. seraya menatap tajam kearah Sheina.
bisa bisanya, gadis itu menyebut dirinya, sebagai pwnculik.
"bukan dia mrnculik saya,!" Sheina berucap seraya menagis sesenggukan.
hal itu, membuat para Ibu Ibu itu, merasa iba dan kasihan. mereka langsungenghampiri dan menenangkan gadis itu.
"hiks hiks tolong bawa saya pergi," Pinta Sheina pada mereka.
salah satu ibu ibu, yang mengenakan daster berwarna Pink itu, segera menghampiri gadis itu dan menenangkannya.
"tenang Dek, adek aman bersama kami," ucapnua seraya mengelus kepala Sheina dengan lembut.
menenangkan gadis itu, agar bisa lebih tenang. " saya mohon, kembalikan istri saya, " Rian berucap dengan tegas.
__ADS_1
membuat Sheina, melangkah munfur dan bersembunyi di belakang tubuh wanita verdaster Pink itu.
"masnya nggak liat nih si neg ketakutan, jangan jangan memang benar kamu penculik!" seru Ibu Itu.
membuat Rian terdiam karena dirinya bimgung, bagaimana, cara agar semua orang percaya, jika mereka adalah pasangan sah.
"kalaupun benar dia istrimu, pasti ada yang kamu lakukan hingga gadis cantik ini, merasa begitu ketakutan," timpal yang lainya.
hal itu, membuat Rian semakin kelabakan di buatnya dan memilih meninggalkan tempat itu.
laki laki itu, kembali kerumah dan memutuskan anak buahnya, untuk mengawasi gerak gerik istrinya.itu.
sementara di depan komplek itu, Sheina tampak gemetar setelah kepergian laki laki itu. tubuhnya jatuh merosot di paping yang keras.
"neng, neng masih mau di sini,?" tanya salah satu dari emak emak itu.
Sheina mendongak dan menatap sejenak kumpulan emak emak itu.
"terimakasih atas bantuanya, kalau begitu saya permisi dulu, " Sheina berucap seraya menyetop taksi online yang baru saja dia pesan.
dengan terburu buru, gadis cantik itu, segera menaiki dan taksipun, meninggalkan area perumahan elit itu.
dan dari belakang, tampak sebuah mobil berwarna hitam, mengikuti taksi yang di tumpangi Sheina.
"nona Sheina menaiki taksi Online bos,!" Edy berucap seraya memantau dari kejauhan.
Edy mengangguk mengerti dan terus mengikuti taksi yang di tumoangi istri kecil Bosnya itu.
"maaf neng, sepertinya. taksi kita ada yang mengikuti," papar laki laki setengah baya itu.
Sheina menoleh dan memang benar, ada yang mengikutinya sedari tadi. " biarkan saja Pak, saya mau pulang sebentar," Sheina berkata, dengan nada pasrah.
sepertinya, gadis itu sudah merqsa lelah, hingga membuatnya memilih pasrah.
tapi sebelum dirinya menyerah. Sheina akan sekuat tenaga, untuk pergi dari laki laki itu.
karena sampai sekarangpun, Sheina masih memendam dendam di hatinya. apalagi, dengan tindakan yang di lakukan Rian, membuat Sheina semakin jijik di buatnya.
karena melamun terlalu lama, Sheina tak menyadari, jika taksi yang di tumpanginya, telaj sampai di kediaman orang tuanya.
"neng, sudah sampai," ucap Si sopir taksi.
"eh, iya makasih pak, tunggu di sini sebentar, karena saya tidak akan lama," Sheina berucap seraya turun dari taksi itu.
__ADS_1
Sheina segera melangkahkan kakinya, menuju rah orang tuanya.
di dorong, pelan pintu utama. dan di sana. Sheina melihat kedua orang tuanya, sedang, duduk santai di ruang tamu.
membuat Sheina, tersenyum tipis. " ternyata, gue memang nggak di harapkan disini " ucapnua sendu dan mengahapus setitik air mata, yang sebentar lagi akan jatuh itu.
"Sheina," seru Bu Rianti yang mendengar ucapan putri tunggalnya itu berada di belakang mereka.
"hmm apa kalian bahagia, saat aku tidak ada di rumah,?" tanya Sheina tersenyum penuh luka.
"apa maksudmu nak, jelas Ibu sangat sedih karena kamu, anak kami satu satunya," Bu Rianti mencoba meraih tubuh putri kesayanganya itu.
mamun, dengan cepat gadis itu, menepis tangan wanita yang. bergelar Ibunya itu.
apa yang sebenarnya, merasuki gadis itu, hingga membuatnya begitu sangat kasar. apakah itu akibat rasa sakit yqng timbul,? entah lah tapi yang pasti, Sheina saat ini menjelma sebagai gadis arogant.
"maaf Bu, hati Sheina masih terlalu sakit, jadi Sheina mohon, jangan sentuh Sheina dulu," gadis itu, melangkahkan kakinya, keluat dari rumah orang tuanya itu.
"Sheina, jangan pergi nak," Bu Rianti memohon dengan kedua matanya, yang sudah basah oleh air mata.
namun sepertinya, hati Sheina sudah membatu. karena terbukti, gadis itu, tak menghiraukan panggilan Ibunya.
belum sempat Sheina melangkah keluar rumah, Pintu utama rumah itu, telah di buka dari luar dan tampak Pak Diki masuk dengan tergesa gesa.
"ada apa Pak,?" tanya Pak Rayn pada bawahanya itu.
"semua orang, nanti malam sibuk dengan acara di rumah pak Rt, terus gimana acara tiga harian Kevin Pak,?" tanya Pria paruh baya itu dengan nada paniknya.
tanpa dirinya sadari, ada seseorang yang mematung dengan tatapan nanar lurus ke depan.
"a-apa maksudnya ini,?" tanya Sheina dengan tubuh gemeter. sontak saja, Pak Diki dan Pak Rayn yang baru menyadari hal itu, tampak terkejut.
"Sheina, sejak kapan kamu di sini nak," tanya Oak Diki yang tampak terkejut.
"jawab saja pertanyaan Sheina pak Diki,?" pinta gadis itu memelas.
sejenak, kedua laki laki paruh baya itu, saling berpandangan. karena mereka sepertinya sangat bingung harus jujur. atau tidak.
"sementara itu, Bu Rianti sudah terduduk lemas dan menangis sejadi jadinya. ia menangisi keadaan ini.
"sudahlah tidak ada yang boleh di rahasiakan," Sheina berucap sangat tenang.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
Nb mampir yuk di karya kakak kece Nezha Ageha