
Pak Diki, akhirnya menceritakan semua oada gadis cantik itu.
" Kevin meninggal setelah melakukan oprasi pada kepalanya. nyawanya tak bisa di selamatkan karema ada pembekuan darah di bagian otak bagian dalam," Pak Diki berkata dengan tenang.
Deg
jantung Sheina seperti terhenti saat mendengar ucapan Pak Diki.
"Ke-Kevin meninggal," lirih Sheina dengan tubuh bergetar. gadis itu ingin bangkit dari duduknya dan menghampiti Pak Diki.
tapi, seakan kaki kakinya tak bertulang. sehingga Sheina, kembali jatuh terduduk.
"Keviinn !! huhuhu " teriak Sheina seraya menangis tersedu sedu. " kenapa kalian tidak ada yang memberitahuku,?" tanya gadis itu menatap ke dua laki laki parug baya itu.
"maaf nak, tapi bapak tidak ingin kondisimu. drop lagi," Pak Diki berkata dengan nada penuh penyesalan.
"dimana makamnya,?" tanya Gadis itu dengan ekspresi datar.
dengan cepat ketiga orang dewasa itu, menghampiri dan membawa gadis itu ke sebuah tempat.
dalam perjalanan, Sheina tampak terdiam dengan wajah datar dan mata kosong.
di dunia ini, Sheina merasa jika hanya dirinya yang tidak tau menahu apa apa. bahkan pernikahan yang di lakukan sekali seumur hidup saja, dirinya tak mengetahuinya. dan baru mengetahui saat dirinya telah terbangun tanpa benang.
sungguh, memang semua orang mempermainkan hati dan perasaanya.
tak lama, taksi itu, memasuki swbuah tempat pemakaman umum. mata Sheinaenyipit menangkap seperti ada kuburwn baru di sana
sesampainya di tempat pemakaman, taksi segera berhenti.dan Sheina segera berlari menghampiri kuburan baru yang dirinya lihat tadi.
mereka bertiga, yang melihat Sheina berlari, segera menyusul gadis itu.
"Kevin!!" teriak Sheina. tubuhnya ambruk di atas kuburan yang masih basah itu.
"huhu maafin gue, gara gara gue, loe sampai kehilangan nyawa," Sheina menangis sejadi jadinya itu.
Sheina tak menyangla, jika sahabat baiknya itu, akan pergi dari hidupnya secara tragis. apalagi, kepergianya, di sebabkan oleh dirinya.
secara tidak langsung, dirinya adalah seorang pembunuh, begitu fikirnya.
"Sheina, kau tidak boleh menyalahkan kejadian ini, ini semua sudah takdir," Bu Rianti mencoba menenangkan putrinya itu.
"kenapa nggak Sheina aja yang pergi Bu, kenapa harus Kevin." ucap Sheina menangis terswdu sedu.
"kamu nggak bleh bicara seperti itu, ini semua sudah takdir nak," Bu Rianti semakin erat memeluk putrinya itu.
"jika saja, Kevin tidak menyelamatkan aku, mungkin aku tidak perlu menikah dengan laki laki seperti dia," ucap Sheina melerai pelukan sang Ibu dan dengan perlahan, melangkah mundur.
__ADS_1
sementara itu, di belakang sana, Edy tampak melaporkan semua yang dirinya lihat dan dengar pada sang tuan.
"nona sekarang ada di pemakaman Bos," ucap Edy.
"bagus pantau terus istri saya," ucap Rian dari seberang sana.
Sheina segera berlari menghampiri taksi yang di pesanya itu. dengan lelehan air mata, yang membanjiri wajah cantiknya.
"jalan Pak," ucap gadis itu, seraya mengusap air matanya, yang mengalir seperti anak sungai.
dirinya sangat amat terpukul atas kejadian ini. apalagi, dirinya adalah orang terakhir yang di beritahu.
"kemana neng,,?' tanya Pak Supir itu, kebimgungan karena penumpangnya itu, tak memberi alamat yang pas.
"ke desa Z," ucap Sheina datar. supir itu segera mengangguk mengerti.
disepanjang jalan, Sheina tak hrnti hentinya menangis.
"Ya Allah, maafkan gue Vin, gara gara gue, loe nggak bisa di selamatkan gue emang pembunuh!" hardik Sheina pada dirinya sendiri.
tak lama, netranya menangkap ada seseorang yang sangat dirinya rindukan. dan dengan segera, Sheina menghentikan taksi tersebut.
"stop pak" Sheina segera keluar dari dalam taksibdan menghampiri laki laki yang dirinya kenal.
"Adrian!!" teriak Sheina karena memang gadis itu sangat merindukan kekasih yang baru menempati relung hatinya, dan menetap di dalamnya itu.
namun, perlahan senyum itu pudar, saat Adrian menyadari, jika gadis pujaanya itu, telah bersuami.
"mau apa loe kesini,?" tanya laki laki itu, dengan wajah datarnya.
membuat Sheina, menatap tak percaya apa yang ada di depanya itu.
"Ian,kenapa kamu tiba tiba mutusin aku,?" tanya Sheina dengan wajah memelasnya.
hal itu, membuat Adrian tersenyum miring dan menatap tajam gadis di depannya itu.
" loe mau tanya, gue kenapa mutusin loe,?" tanya Adrian dengan senyum miringnya.
Sheina yang mendengarnya, hanya menganggukkan kepala. berharap, apa yang keluar dari mulut laki laki itu, adalah kabar baik.
"itu karena loe nggak pernah ada di dalam hati gie," ucap Adrian pelan dan datar. tapi cukupembuat gadis itu mematung.
Deg
jantung Sheina. seakan ingin lepas dati tempatnya, saat laki laki yang dirinya harapkan menjadi penolong, malah mengatakan hal seperti ini.
"a-apa maksud kamu,?" tanya Sheina terbata. tenggorokannya, seakan tercekat di kerongkongan.
__ADS_1
"loe tau, gue nggak pernah cinta sama loe, karena gue cuma anggap loe, sebagai taruhan!!" Adrian berkata, dengan dada bergemuruh.
bukan karena bergemuruh karena amarah pada Sheina. tapi, amarahnya pada dirinya sendiri. yang bisa bisanya, mengatakan hal gila itu pada pujaan hatinya itu.
Plak
satu tamparan, Sheina layangkan di wajah mulus laki laki itu.
"b3r3n9s3k loe," umpat Sheina setelah menampar wajah tampan Adrian. " sehatusnya, gue nggak percaya dengan semua omongan yang keluar dari mulut loe," sambungnya seraya berderai air mata.
"plis Na, jangan nangis, jangan buat aku semakin bersalah," Adrian berucap dalam hati dengan mengusap air mata, yang juga ikut jatuh.
dan dengan cepat, gadis itu meninggalkan tempat itu, danemilih masuk kedalam taksi.
"jalan pak," ucap Sheina dengan mengusap air matanya.
"neng itu mobil hitam di belakang, masih mengikuti kita," pak supir itu, masih melirik di antara kaca sepion itu.
" kita lewat jalan tikus aja pak," ucap Sheina menatap lurus kedepan.
sesampaimya di gang tikus, Sheina memilih untuk turun dan segera membayar taksi itu.
kemudian, gadis itu, mengayunkan kakinya, mendekati pangkalan ojek yang ada di sana.
"bang bisa tolong saya, antarkan ke alamat ini " Sheina berkata. seraya kenyodorkan sebuah kertas.
"wah jauh banget ini neng, kalau mau, dua ratuas ribu," tawar si tukang ojek.
dan tanpa adegan tawar menawar, gadis itu langsung menyetujuinya.
"baik!! ini," gadis itu menyerahkan dua lembar uang berwarna merah itu.
"ngebut ya bang jalannya," ucap gadis itu, seraya menoleh ke belakang.
hatinya lega, saat menyadari, jika mobil hitam itu, sudah tidak terlihat lagi.
"huh, lega" gumamnya. " bang, lewat jalan tikus bisa nggak,?"tanya Sheina.
"bisa neng," tukang ojek itu, segera membawa motornya melewati jalan tikus.
sementara itu, Edy tampak begitu kesal karena kehilangan jejak istri bosnya
Bersambung....
Nb : mampir yuk di karya kakak author kece yang satu ini,
__ADS_1