
Kenzo yang mendengarnya, tersenyum tipis. " boleh aja sih, besok kamu sekolan kan,?" tanya laki laki itu. dan hanya di balas Anggukan oleh gadisnya.
"kalau begitu, besok Mas antar dan jemput kamu oke," Kenzo tersenyum tipis.
"eh, tapi besok aku mau ketemu dan berangkat sama Sheina dan Neneng," Anggun ingin menolak.
hal itu, membuat Kenzo menggelengkan kepala. " nggak boleh, sekarang ini, kamu dalam bahaya sayang, aku nggak mau kamu terluka walau seujung kukupun," Kenzo berkata dengan lembut namun juga terdengar tegas.
dan dengan pasrah, gadis itupun akhirnya menurut saja. dan setelah perbincanganya itu, Kenzo dan sang papah akhirnya memutuskan untuk pulang karena hari memang sudah sore.
*****
sementara itu di tempat lain, sepasang suami istri masih terlelap dengan masih posisi yang sama. siapa lagi jika bukan Rian dan Sheina.
mereka sama sama masih terlelap. dan tak berapa lama, mereka sama sama menggeliat dan Sheina mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.
tak lama, setelah mengumpulkan nyawanya, gadis itu mulai mengedarkan pandanganya ke seluruh ruangan.
dan matanya terpaku saat melihat ada seorang pangeran tampan yangasih saja terlelap dalam balutan dunia mimpinya.
Sheina tersenyum tipis. dan tanganya terulur menyentuh wajah suaminya itu.
"hehe nggak nyangka bisa ada di posisi ini," Sheina terkekeh kecil. dan tangan lentik itu turun ke dada bidang suaminya.
namun, dengan cepat, Rian menangkap tangan mungil itu. membuat Sheina terperangah kaget dan denga.n terburu buru, gadis itu beringsut dari tempat tidurnya.
"mau krmana sayang,?" tanya laki laki itu dengan nada serak khas bangun tidur.
"emm aku mau ke kamar mandi," Sheina berkata dengan gugup. namun, dengan cepat sang suami menariknya. hingga gadis itu jatuh di pelukan sang suami.
"aku masih merindukanmu," Rian mulai menjelajahi tubuh istrinya itu.
hingga gadis itu, mulai men**h pelan. Rian tersenyum tipis dan akhirnya, mereka mengulang hal yang sama di sore itu.
baru di jam lima sore, Sheina dan Rian keluar dari kamar dengan saling bergandengan dan aama sama tersenyum tipis.
"eh, pengantin baru baru keluar kamar, " goda Pak Rayn yang membuat mereka berdua menundukan kepala karena malu.
"sudahlah jangan di goda terus mereka Pak," Bu Rianti mengingatkan sang suami. Pak Rayn hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
dan mereka kini duduk di meja makan dan segera menyantap makanan mereka.
"Sheina, sekali lagi, Bapak minta maaf, karena telah membuat kamu menderita," Pak Rayn berkata penuh penyesalan.
Sheina yang mendengarnya, menggelengkan kepalanya. " enggak Pak, Sheina yang seharusnya minta maaf," gadis itu tampak menggenggam tangan sang Ayah.
"apa itu artinya kamu telah menerima kehadiran suamimu,?" tanya Bu Rianti menatap anak dan menantunya.
"Sheina akan mencobanya Bu, lagipula di sini ada anak yang akan hadir," tanganya mengelus perut yang masih rata itu. " Sheina nggak mau egois dengan memupuk rasa benci ini," gadis itu tersenyum tipis.
mereka hanya menganggukan kepala dan melanjutkan aksi makanya.
tiba tiba, Neneng datang dari dapur dan mendapati ada yang aneh di meja makan. mata gadis itu membulat sempurna saat menyadari ada gurunya di sini.
"lho, kok di sini ada pak Rian,?" tanyanya yang masih kebingungan.
"kamu duduk saja dulu," Bu Rianti mempersilahkan Neneng untuk duduk.
Neneng yang mendengarnya, hanya menurut saja. sembari matanya tidak terlepas dari sosok pria yang ada di depanya.
"kenalkan ini Suami Sheina," Pak Rayn berucap seraya menunjuk ke arah laki laki itu.
"su-suami,?" tanya Neneng tergagap. dan mendapat anggukan dari semua orang yang berada di sana. swketika itu juga, tubuhnya serasa tersengat aliran listrik yang cukup kuat.
hingga membuatnya, hampir saja lemas. umtungnya, gadis itu menyadari hal besar. hal besar yang mengatakan jika dirinya bukanlah siapa siapa.
"hah, kok boleh,?"tanyanya dengan memperbsiki rasa yang tersimpan di dada.
rasa yang batu saja tumbuh ketika mendapatkan perlakuan kecil nan manis dari seorang laki laki.
"boleh dong, karena ini urgent," Bu Rianti tersenyum tipis.
Sheina sebenarnya agak sedikit heran pada perubahan wajah Neneng. namun, gadis itu menepisnya.
mana mungkin apa yang di fikirkanya benar. karena memang, Neneng masih kecil untuk kenal arti Cinta dan perasaan.
"Pak Bu, kalau boleh, Rian meminta izin untuk membawa Sheina pulang ke rumah," laki laki itu, meminta izin untuk membawa sang istri kerumah prinadinya.
"Nak Rian, Sheina itu sudah menjadi tanggung jawabnya Nak Rian. jadi, bawalah kemanapun kamu berada. dan sebisa mungkin bahagiakan dia," Pak Rayn menasehati menantunya.
__ADS_1
"pasti Pak, karena saya sangat mencintainya," Rian berkata sembari menatap sang istri dengan penuh cinta.
"awh sayang sakit," Rian mekik sesaat saat di rasakan ada cubitan panas dari sang istri.
"makanya, jsngan natap aku kayak gitu, akukan malu," bisiknya.
"kenapa harus malu, Mas ini suamimu Sheina," laki laki itu tersenyum tipis.
"tau ah bete di goda terus," Sheina segera beranjak dari duduknya menuju kamar.
semua orang, menertawakan tingkah Sheina yang begitu menggemaskan dan saat Rian tersenyum, ada seseorang yang menatapnya dengan lekat. dan dalam.
"kalau begitu, saya permisi semuanya," Rian pun ikut bangkit dsn menyusul sang istri tercinta.
Ceklek
suara pintu di buka dari luar dan menampakan laki laki tampan tengah tersenyum di ambang pintu.
"sudah siap semua,?" tanya Rian setaya duduk di tepi ranjang.
"sudah, hanya baju aja, nggak usah di bawa. biar kita nggak usah capek bawa baju ganti kalau nginep," Sheina tersenyum tipis.
Rian hanya mengangguk dan tersenyum tipis. lalu, menarik tubuh istrinya, hingga gadis itu jatuh dalam pelukannya.
"Mas boleh tanya sesuatu,?" tanya laki laki itu. Sheina mendongak menatap mata elang sang suami.
"mau tanya apa Mas,?" tanya gadis itu. sembari memainkan jari di dada bidang Rian.
"emm kamu masih ada rasa sama Adrian,?" tanya Rian. membuat Sheina seketika terdiam. dan menundukan kepala
Rian yang tak mendapat jawaban, menarik dahu gadis itu. membuat mata mereka saling beradu. " jawab saja dengan apa yang kamu rasakan. karena memang, disini Mas yang salah oada awalnya," Rian berkata dengan senyuman tipis.
Sheina hanya menganggukan kepala dan kembali tertunduk. Rian yang melihatnya, hanya bisa menghela nafas panjang.
memang, semua ini salahnya. yang merebut milik orang lain. jadi dirinya juga hatus menerima konsekuensinya. yaitu belum mendapat hati sang istri sepenuhnya.
"Mas marah,?" tanya Sheina takut takut. Rian menggelengkan kepala.
"untuk apa marah, karena di sini, mas yang bersalah," Rian menghela nafas
__ADS_1
Bersambung....