
sontak saja, ucapan yang keluar dari mulut laki laki yang Sheina sangat hindari itu, membuatnya terhenti dan berbalik arah.
" jangan halu deh," ucapnya seraya berlalu pergi dari sana. meninggalkan Rian yang sedikit tersenyum tipis.
"sangat menggemaskan," ucapnya seraya terkekeh kecil. tiba tiba, laki laki itu, sangat ingin sekali bisa satu rumqh dengan gadis itu.
dirinya sudah membayangkan seperti apa rumah tangganya nanti, jika Sheina sudah tau kalau mereka sudah menikah.
"ah, membayangkannya saja, aku sudah merasa bahagia, apalagi, jika sudah benar benar menjadi kenyataan,? hmm mendebarkan," gumamnya, seraya, beralu pergi dari sana.
Sheina kembali ke ruang rawatnya dan segera membuka pintu dengan pelan pelan. takut, jika kedua orang tuanya, tetbangun dari tidurnya.
setelah masuk kw dalam, Sheina segera melangkah, penuh ke hati hatian, karena takut berisik.
di atas ranjangumah sakit itu, Sheina tak dapat memejamkan matanya. walaupun, diriya sudah memaks untuk bisa terejam, tapi nihil.
"apa yan sebenarnya yang telah terjadi,?" tanya gadis itu, entah pada siapa. hatinya selalu gelisah dengan pernyataan gurunya itu.
"siapa yang menikah,?" tanya gadis itu. " ah bodo amat lah, paling juga hanya mengada ada," lanjutnya, kemudian, berbaring dan memejaman matanya.
tak lama kemudian, gadis itupun terlelap dalam balutan dunia mimpi yang indah.
...****************...
sementara itu, di sebuah ruangan di luar negri, seorang wanita, tengah menerima telepon yang bersumber dari bawahannya.
"jadi, mereka tengah mengejarku dan juga orang yang mencelakai gadis itu," tanyanya di sertai serigaian licik di bibirnya."oke, kalian segera pantau saja, semuanya," lanjut wanita itu, kemudian menutup panggilannya.
"ada apa ,?" tanya seorqng laki laki,yang baru saja masuk ke ruangan itu.
"mereka mencari kita," ucapnya, tersenyum tipis dan seraya menatap tajam sebuah foto.
"haha sudah saya duga "ucapnya tertawa terbahak bahak.
"Hanum, apa kita langsung menghabisi mereka semua,?" tanya Laki laki itu.
"nggak perlu Om, kita bergerak perlahan aja, perlahan, tapi mematikan " ucap Hanum.
Yap, orang itu ada lah Om Rio dan dan Hanum. mereka adalah musuh keluarga Adiguna Grup dan HTM corp.
ada suatu hal, yang membuat keluarga besar mereka berdua.
__ADS_1
"kita pakai ketiga anak bo**h itu,?" tanya Hanum dengan menunjuk ke arah tiga anak manusia, yang tengar terbaring di ranjang dan dalam keadaan tak sadarkan diri.
"yaa mau bagaimana lagi, mereka juga memiliki musuh yang sama," ucap Om Rio tersenyum menyerigai.
"terus bagaimana dengan dua anak manusia, yang kamu tabrak hari itu,?" tanya Om Rio saat mengingat kejadian itu.
"hmm gadis itu selamat! malah temenya yang mati," gerutu Hanum.
Om Rio tersenyum tipis dan mematikan rokok yang berada di tanganya.
"kamu tenang saja, kita akan menghancurkan mereka hingga tak bersisa," ucap Om Rio seraya menginjak batang rokok itu, hingga hancur.
kemudian, mereka berdua, tertawa terbahak dan kembsli memasuki ruangan masing masing. entah apa, yang di rencanakan oleh kedua iblis berwujud manusa itu, semua tidak ada yang tau.
......................
pagi harinya, di rumah sakit, semua tampak berjalan seperti biasanya. hanya saja, ada yang berbeda dari Sheina.
gadis itu, tampak sedikit pendiam dan sesekali, mengecek ponselnya.
"sayang, kamu kenapa,?" tanya Bu Rianti saat menyadaru perubahan putrinya itu.
Bu Rianti menjadi gelagapan swndiri menanggapi pertanyaan putriya.
bagaimana mungkin, dirinya mengatakan kalau sahabat sahabatnya, dalam keadaan tidak baik baik saja.
bisa bisa, Sheina akan histeris dan kondisinya akan kembali drop.
"Bu," ucapnya seraya menepuk bahu wanita paruh baya itu. membuat Bu Rianti, gelagapan di buatnya.
"iya Sheina, ada apa,?" tanya Bu Rianti seraya tersenyum tipis.
"ibu ngelamun ya, dari tadi, Sheina panggil panggil kok nggak nyaut " tanya gadis itu.
"eh, maaf nak sebenarnya, ibu sedang pusing," jawab wanita paruh baya itu.
"hah, Ibu sakit, sebaiknya, kita periksa swkarang aja, mumpung kita swdang berada di rumah sakt," ucap hsfos itu, mengajak Ibunya.
dengan cepat, Bu Rianti menolaknya, " nggak usah sayang, sebelum masuk ke sini, Ibu sama Bapak, sudah periksa," ucap wanita itu, berbohong.
Sheina segera menganggukan kepala, pertanda mengerti.
__ADS_1
tak lama, terdengar pintu di ketuk dan tak berselang lama, Anggun dan kedua orang tuanya, masuk ke dalam ruang rawat itu.
"Sheina," teriaknya seraya berlari dan memeluk sahabatnya itu.
"Anggun, loe kemana aja, kenapa saat gue guw sadar, loe nggak ada di samoing gue,?" tanya Sheina seraya mengerucutkan bibirnya.
hal itu. membuat hsti Anggun, bagai di himpit batu besar. sangat sesak dan nyeri ke ulu hati. bagaimana, Anggun mengatakannya,
"oh iya, bagaimana keadaan Kevin,?" tanya Sheina dengan nada ceria dan wajah sumringah. " pasti, saat ini dia sedang ketawa tawa, karena gue masih di sini kan,?" tanya Sheina dengan nada sinisnya.
nereka semua tau, jika yang di ucapkan Sheina hanyalah bercandaan semata. karena mereka, memang suka bertengkar.
belum sempat, Anggun menjawab, Bu Rianti memanggil Anggun.
"Anggun, ikut ibu sebentar," pinta wanita itu. dan Anggun hanyq menurut saja. sementara Sheina, gadis itu hanya tersenyum tipis tanpa mengetahui apa apa.
sesampainya di luar kamar rawat itu, Bu Rianti segera mengatakan semuanya pada Anggun.
"Nggun, Ibu minta tolong, untuk kali ini, jangan ceritakan semuanya pada Sheina ya nak," ucapnya seraya mengatupkan kedua tangannya, pada Anggun.
membuat gadis itu, merasa kebingungan sendiri." memangnya, ada apa Bu,?" tanya Anggun.
"Sheina mengalami gagar otak yang lumayan parah di bagian otak luarnya. dqn itu, membuat Sheina akan meras pusing, jika ada berita yang menurutnya, sangat mengejutkan," ucap Bu Rianti, dengan setetes air mata di kelopak yang mulai keriput.
Anggun yang mendengarnya, tercengang karena ternyata, kondisi sahabatnya separah itu.
"memang, sudah pernah kejadian Bu, sheina pingsan,?" tanya gadis itu penasaran.
"sudah dan itu, hampir membuat dia koma kembali," ucapnya.
hal itu, sukses membuat Anggun terlonjak kaget dan menutup mulutnya. "jadi, sampai sat ini, Sheina belum tau tentang semua kabar itu,?" tanya gadis itu.
Bu Riantienggelengkan kepala lemah." belum Nggun, Ibu belum sangggup untuk memberitahu ini padnya," ucap wanita itu seraya menitihkan air matanya.
"sudah Bu, semua akan baik baik saja, nanyi setelah semua membaik, Anggun akan bantu bicara sama Sheina.
BERSAMBUNG......
Nb: mampir juga ya kak, di karya kak author kece yang satu ini, di jamin nggak nyesel hehe judulnya, Ranjang Panas Om Duda by: Morata
__ADS_1