
setelah puas menangis, Sheina segera memasukan alat tes kehamilan itu, ke dalam tasnya. dan dengan cepat, Sheina membasuh wajahnya.
agar tidak terlihat seperti habis menangis karena. Sheina tidak ingin keluarga Neneng tahu.
setelahnya, gadis itu terlelap karena merasakan tubuhnya tiba tiba, sangat lemas.
****
ke esokan harinya, Sheina dan Neneng, berpamitan pada BiInem dan Pak Hari. ada rasa haru dan sedih yang menyelimuti hati kedua manusia paruh baya itu.
karena ini, adalah kali pertama, mereka berdua, melepaskan Neneng pergi sendiri. ya walaupun, itu ke rumah Sheina.
"kamu baik baik ya, di sana jangan menyusahkan Nyonya dan Tuan, dan juga Neng Sheina," Pesan Bi Inem pada anak gadisnya itu.
"iya Bu, Ibu tenang aja, Neneng ke sana, untuk mendapatkan uang banyak dan belajar yang giat," Neneng memeluk kedua orang tuanya itu.
setelah berpamitan, Sheina dan Neneng, segera menaiki kendaraan umum untuk sampai di tempat tujuan.
dua jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di terminal. dan mereka menggunakan taksi, untuk sampai di kediaman mereka.
"assalamu'alaikum," Sheina mengucapkan salam, saat mereka berdua, telah sampai di depan kediaman orang tuanya.
"wa'alaikum salam," suara seseorang bergegas membuka pintu. "eh, Non Sheima," kaget sang ART saat membuka pintu. dan mendapati sang anak majikan berdiri di depan pintu.
"Nyonya,!! Tuan,!!" teriak Bi Wati pada kedua majikannya yang saat ini sedang berada di ruang tamu.
"ada apa sih Bi, kok teriak teriak,?" tanya Bu Rianti saat mereka telah sampai di depan pintu rumahnya.
"i-itu," tunjuk Bi Wati dengan ucapan terbata bata.
seketika itu juga, Bu Rianti dan Pak Rayn terbelalak keget. namun sedetik kemudian, mereka berbinar. karena anak semata wayangnya, telah kembali.
"Sheina!! ya Allah nak, kamu kemana saja selama dua minggu ini, kami semua khawatir, terutama Su--" belum sempat Bu Rianti melanjutkan, Sheina sudah terlebih dulu menyela.
"Bu Pak, Sheina datang sama Neneng. dia mau bantu Bi Wati di sini, sekalian sekolah di tempat Sheina," gadis itu berkata, dengan memberi kode pada kedua orang tuanya, agar tidak membahas masalah itu.
Bu Rianti dan Pak Rayn yang mengerti iti, segera mengajak kedua gadis itu untuk masuk ke dalam rumah.
"bagaimana keadaan kedua orang tuamu di sana,?" tanya Bu Rianti saat mereka semua, telah duduk di kursi ruang keluarga.
"alhamdulillah, semua sehat sehat saja kok Pak, Bu," Neneng tersenyum tipis.
__ADS_1
di keluarga ini, Neneng sudahdi anggap seperti keluarga sendiri. dan hal itulah, yang membuat gadis itu, memanggil dengan sebutan 'Pak Bu,' agar sama dengan Sheina.
"sekarang, kamu istirahat ya, di kamar yang sudah di siapkan." Bu Rianti berkata pada Neneng.
gadis itu, hanya mengangguk. " Bi,!" panggil Bu Rianti pada asisten rumah tangganya itu.
"iya Nyonya, " Bi Wati datang membawa minuman dan cemilan.
"kamu antar Neneng ke kamarnya. dan mulai besok, gadis ini akan membantu kamu mengurus rumah ini. " Bu Rianti menunjuk Neneng . " kamarnya, sudah di bersihkan kan,?" tanya wanita paruh baya itu.
"sudah Nyonya. mari Neng Ikut Bibi," Bi Wati segera mengajak Neneng ke kamar untuk beristirahat.
sepeninggalan Neneng dan Bi Wati, kedua manusia paruh baya itu, kini menatap putri kesayangan mereka.
"Sheina, kamu kenapa pergi selama ini Nak, Ibu sama Bapak sangat khawatir," Bu Rianti segera memeluk putrinya dengan erat.
"iya Nak, apa kamu benar benar membenci kami,?" tanya Pak Rayn pada gadis itu.
Sheina menghela nafas panjang, sebelum membuka mulutnya. " Sheina hanya kecewa sama kalian, karena gara gara donor darah itu, sekarang in, Sheina sangat menderita, hiks " gadis itu berkata, seraya berlinang air mata.
Bu Rianti segera memeluk putri semata wayangnya itu dan mengusap punggung dengan pelan.
Sheina menggelengkan kepala pelan. "tidak usah Bu, semua sudah terlanjur.," Sheina berkata dengan sesenggukan.
membuat kedua manusia itu, saling pandang. " memangnya, ada apa nak,?" tanya Pak Rayn yang merasa penasaran.
Sheina, reflek mengelus perutnya yangasih rata itu. " aku hamil hiks hiks," Sheina menangis tersedu sedu.
Bu Rianti dan Pak Rayn yang mendengar itu, segrra memeluk putri semata wayangnya itu.
"sayang, Maafkan kami," Pak Rayn juga sangat merasa bersalah.
"sudahlah, yang penting, Sheina meminta agar ini tidak sampai di telinga laki laki itu,".Sheima berkata dengan datar.
Bu Rianti dan Pak Rayn yang mendengarnya, swgera menganggukan kepala.
"sekarang, kamu istirahat saja, jangan mikirin yang aneh aneh, karena disini, ada calon cucu Ibu sama Bapak," Bu Rianti mengusap lwmbut perut putrinya itu.
"jangan pernah menyalahkan kehadirannya. kaeena kamu, sudah menjadi istri. walau dengan cara kurang baik,"Pak Rayn menasehati anaknya.
Sheina yang mendengarnya, hanya terdiam saja dan memilih untuk masuk kedalam kamarnya. mrninggalkan kedua orang tuanya di ruang keluarga.
__ADS_1
ceklek.
pintu kamar di buka dan Sheina segera masuk kedalamnya.
"semua masih sama, saat terakhir aku pergi," gumamnya serayaerebahkan tubuhnya.
"huh, ternyata jadi bumil itu, sangat melelahkan ya," gumamnya dalam hatinya.
tiba tiba, gadis itu terbangun dari aktivitas rebahanya. " kok jadi pengen makan klepon ya," Sheina berkata seraya meraba perutnya yang masih rata.
gegas gadis cantik itu keluar dari kamar dan menghampiri Bi Wati yang sedang ada di dapur.
"Bi, " Panggil Sheina pada Wanita paruh baya itu.
"eh, Non kenapa,?" tanya Bi Wati.
"emm boleh buatin klepon nggak,?" tanya gadis itu ragu ragu.
Wanita paruh baya itu, tersenyum tipis. "boleh atuh Neng. malah bahaya kalau nggak di turutin, bisa ngeces nanti," Bi Wati tersenyum tipis.
Sheina mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan asisten rumah tangga orang tuanya itu. bagaimana Bi Wati tau, padahal Sheina hanya bercerita pada kedua orang tuanya saja.
"kok Bibi bisa tau, Bibi nguping ya,?" tanya Sheina dengan nada bercanda.
"eh, maaf Non tadi, Bibi nggak sengaja denger, jangan pecat Bibi ya," wanita Paruh baya itu mengatupkan kedua tanganya di depan dada.
seketika, tawa gadis itu pwcah karena berhasil mengerjai pembantunya.
"hahaha, aduh Bi Sheina hanya bercanda. mana mungkin Sheina setega itu," gadis itu menyeka sir matanya.
"ih, si Non mah gitu Sebel sebel sebel," Bi Wati mengerutu seperti anak kecil. membuat tawa mereka berdua, semakin pecah.
****
sementara itu di lain tempat, sworang wanita dan pria paruh baya, tersenyum puas saat memandangi ketiga remaja yang sudah berganti wajah itu.
siapa lagi, jika buka. Shandy, Rifky dan Indra. mereka kini sudah tampil berbeda.
"sekarang kalian sudah harus masuk ke dalam lingkungan target," Om Rio berkata seraya tersenym menyerigai
BERSAMBUNG.....
__ADS_1