
lalu dengan gerakan ceoat, Sheina menampar wajah laki laki itu. membuat semua orang yang berada disana, terkejut.
"Sheina, apa yang kamu lakukan,?" tanya Bu Rianti merasa sangat Syok anaknya bisa sekasar itu.
"seharusnya, Sheina yang bertanya Bu, apa maksud dari laki laki ini, dulu dia menghina dan meng-olok olok Sheina. sekarang dia malah melamar Sheina, apa maksudnya,?" tanya gadis itu, dengan deraian airmata.
membuat Rian dan kedua orang ruanya, hanya menundukan kepala karena malu dan menyesal.
"untuk masalah itu, saya meminta maaf," ucap Rian seraya mendongakkan kepala. mencoba menatap gadis di depanya, yang tengah menangis sesenggukan.
"jangan pernah menemui saya lagi, anggap saja kita nggak saling kenal danmemang kita tak perlu kenal" ucapnya seraya berlari menaiki anak tangga dan membanting pintunya dengan keras.
ia tak memperdulikan tata krama yqng telah di ajarkan oleh orang tua Sheina. yang dia perdulikan, sekarang adalah sakit hati.
Sheina membanting tubuhnya di ranjang dengan kasar. kemudian,ia menarik selimut sebatas bahu. ia menangis seswnggukan di bawah selimut. bahkan tubuhnya sampai bergetar hebat saat menahan sesak di dada.
tak lama, terdengar pintu di kwtuk oleh seseorang dari luar.
"Sheina, buka pintunya ini Ibu," ucap Bu Rianti dari seberang sana.
Sheina segera bangkit dari posisi berbaringnya, kemudian duduk menyandar di kepala rajjang.
"masuk aja Bu pintunya nggak di kunci," ucap Sheina seraya mengambil dan membuka ponselnya, yang berada di samping ranjangnya.
ceklek
Bu Rianti masuk setelah membuka pintu.wanita paruh baya itu, perlahan berjalan menghampiri anaknya, yang masih terlihat murung dan sembab karena menangis.
"kamu nggak papa Sheina,?" tanya Bu Rianti lembut seraya mengusap kepala anaknya.
Sheina hanya menggelengkan kepala dan mencoba tersenyum.
entah mengapa, melihat wajah guru itu, membuat Sheina, merasa emosinya tidak terkontrol. mungkin karenw luka yang di torehkan begitu dalam. sehingga, sulit bagi Sheina untuk sembuh.
tak lama, terdengar pinselnya berdering. dan Sheina mengangkatnya. melihat siapa yang menghubunginya.
"halo Ian, ada apa,?" tanya Sheina dengan suara serak seperti orang yang habis menangis.
"loe abis nangis ya Na,?" tanya Adrian yang menyadari suara gadis itu.
denhan cepat, Sheina menggelengkan kepala, " enggak Ian, gue nggak abis nangis kok, ini gue abis bangun tidur ," ucap Sheina setenang mungkin.
Adrian tak langsung percaya. laki laki itu,meminta Sheina, untuk mengalihkan panggilan menjadi video call.
dengan tergesa gesa, Sheina menuju kamar mandi, untuk mencuci wajahnya. agar terlihat segar. ia juga mengoleskan cream pada wajahnya.
tak lama, ponselnya berdering kembali, dan dengan segera, gadis itu mengangkatnya.
__ADS_1
"halo, assalamu'alaikum," ucap Sheima.
"wa'alaikum salam, kenapa tadi nggak ngucapin salam,?"tanya Adrian dari seberang sana.
membuat Sheina, seketika, nyengir kuda seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"hehe maaf lupa," ucapnya rersenyum lebar.
"dasar ya, gue nggak mau ya, kalau itu ke ulang lagi," ucap Adrian dengan wajah serius.
"hah kenapa emangnya,?" tanya Sheina merasa bingung.
"ya karena gue nggak mau kalau nanti, anak anak kita, nurun loe. kalau loe kebiasaan nggak ngucapin salam," ucap Adrian seraya tersenyum manis.
blush
seketika, wajah gafis itu langsung menerah bak kepiting rebus.
"Ian, jangan gitu ih. ntar kalau gue baper gimana,?" tanya Sheina seraya salah tingkah.
membuat Adrian yang melihat itu, menjadi semakin gemas saja."duh gemes bangrt sih, nau gue halalin cepet cepet deh," lanjutnya seraya tersenyum senang.
"Ian," rengek Sheina membuat Adrian terbahak.
"kita pergi yuk," ucap Adrian. saat mereka, sama sama terdiam.
"kemana,?" tanya Sheinq.
"oke deh, bye" ucapnya seraya menjauhkan ponsel dari wajahnya. ia merasa tidak aman jika berlama lama dengan laki laki itu. bisa kena penyakit jantung dia..
namun, langkahnya terhenti saat ada suara dari seberang sana. siapa lagi jika bukan Adrian.
"kenapa lagi Ian,?" tanya Sheina merasa gemas dengan pria itu. karena pasti akan selalu, di gombali olehnya.
"salamnya mana,?" tanya Adrian. membuat Sheina semakin salah tingkah di buatnya.
"assalamu'alaikum," ucapnya seraya tersenyum malu mwlu.
'wa'alaikum salam calon ibu dari anak anakku," ucapnya.
dengan segera, Sheina menutup panggilan Video Call itu. gadis itu, langsung menyembunyikan wajahnya, di balik bantal.
"astaghfirullah, Ya Allah jantung ku, bisa gila nih kalau terus terusan di dekat Ian," gumamnya seraya tersenyum senyum sendiri.
tak lama, Sheina bergegas ke kamar mandi, dan segera membersihkan dirinya. aetelah lima belas menit, ia leluar dari kamar mandi.
dan seg3ra menuju ke lemari pakaian. ia memilih pakaian yang cocok di pakai. mendadak, gadis itu, menjadi bingung untuk memilih pakaian.
__ADS_1
"duh, kenapa gue jadi bingung ya pilih yang mana," gumamnya.
tak lama, akhirnya dirinya memutuskan, untuk mengenakan dres berwarna biru saja dan membiarkan, rambutnya tergerai indah.
setelah semuanya siap, Sheina segera turun ke bawah, untuk menemui Ibunya.
"Bu, Sheina pergi sebentar ya, " ucapnya seraya menghampiri sang Ibu, yang sedang berada di ruang keluarga.
"eh, sayang mau kemana,?" tanya Bu Rianti. karena saat ini, putrinya terlihat sangat menawan.
"jalan jalan aja sama Adrian ," ucap Sheina tersenyum tipis.
Bu Rianti hanya menganggukan kepala dan membalas senyuman putrinya itu
"hati hati ya. ingat jangan terlu kebablasan," ucap Bu Rianti. mengingatkan.
Sheina hanya menganggukan kepala dan berjalan keluar dari rumah.
karena terdengar suara deru mesin mobil dari arah depan.
Sheina keluar menghampiri Adrian, yang ternyata sudah menunggunya di sana.
beberapa saat, mata Adrian tak berkedip menatap penampilqn gadis pujaanya itu.
"cantik," gumamnya pelan. namun, masih bisa terdengar oleh Sheina.
sehingga, gadis itu, menjadi salah tingkah karena merasa di perhatikan dari tadi.
"jangan lihatin gue kayak gitu, malu ," ucapnya terdengar manja. membuat Adrian dengan gemas, mencubit kedua pipi gadis itu.
"gemes banget sih sama loe," ucap Adrian.
"awh sakit Ian," ucapnya seraya mengerucutkan bibirnya.
"iya deh maaf, makanya jangan terlalu imut, kan jadinya, gue terlalu gemas," ucapnya tersenyum seraya mengedipkan matanya.
"ihh genit amat pak," ucap Sheina seraya memukul lengan laki laki itu.
"hahaha, udah ayo masuk," ucapnya seraya membukakan pintu mobil.
"makasih," ucap Sheina tersenyum. kemudian, gadis itu segera masuk dan mengenakan sabuk pengaman.
tak lama, Adrian juga masuk, dan duduk di bangku kemudi. menatap gadis di aampingnya, untuk sebentar.
"kenapa nggak pakai motor,?" tanya Sheina seraya menatap Adrian.
sontak saja, Adrian yang sedari tadi menatapnya, segera mengalihkan pandanganya.
__ADS_1
"nggak lah, sinar matahari di siang hari, nggak bagus buat kulit, lagipula, loe kan pakai dres, mana bisa naik motor," ucapnya seraya menyalakan mesin mobil.
BERSAMBUNG........