Pembalasan Gadis Abnormal

Pembalasan Gadis Abnormal
Chapter 117 Ending


__ADS_3

hari ini, tepat aatu Minggu Sheina telah berada di rumah sakit. dan kini, wanita dua anak itu telah di perbolehkan pulang oleh Dokter Oky.


"duh, akhirnya aku bisa pulang juga ya Mas, udah bosen baget berada di rumah sakit ini," Sheina tersenyum dengan menggendong Baby Arsyila.


sementara Baby Arselio di gendong oleh sang Papa. mereka tampak bahagia. berjalan beriringan dengan keluarga yang lain.


mereka berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan sesekali menebar senyum pada yang lain.


tak lama berswlang, rombongan mereka telah sampai di kediaman Rian. sebenarnya, Bu Rianti ingin mengajak anak dan kedua cucunya untuk tinggal du rumahnya.


namun, dengan santun, Sheina menolak ajakan ibunya itu dia ingin mengurus semua sendiri.


akhirnya, Bu Rianti mengalah dan membiarkan sang anak umtuk tinggal di rumahnya sendiri.karena dia juga tidak bisa memaksakan kehendak.


sesampainya di rumahnya, ternyata di sana telah ada Ramon dan seorang wanita cantik di sampingnya.


"hai bro, " sapa Ramon saat melihat tuan rumah baru saja sampai.


"hai, kaubaru saja sampai,?" tanya Rian bejabat tangan ala laki laki. kemudian, mereka berdua duduk di sofa ruang tamu.


sementara Sheina memutuskan untuk langsung masuk ke dalam kamar, karena merasa sangat kelelahan.


aementara di ruang tamu, Rian dan Ramon tengah berbincang bincang seperti biasa.


" kau bagainana, sudah lega kan sekarang jadi Ayah" tanya Ramon seraya mengelus kepala baby Arselio yang tampak tertidur pulas.


"ya Alhamdulilah l, kapan loe nyusul,?" tanya Rian seraya menimang sang putra.


"nantilah, tunggu sukses dulu," ucapnya terkekeh kecil.


hal itu membuat Rian yang mendengarnya, mendegus kesal. " keburu cewek loe kabur," terangnya.


hal itu membuat Ramob tertawa lepas. kemudian setelah cukup lama, berbincang bincang, Ramon dan kekasihnya pamit pulang.


setelah Ramon dan Kekasihnya pulang, Rian masuk kedalam kamar.


ceklek


saat pintu di buka dari dalam, Aiden melihat sang istri tampak tertidur pulas di atas ranjang. sementara itu, Baby Arsyila telah tertidur pulas di tempat tidurnya.


Rian melangkah mendekati sang istri dan kemudian, mengelus kepala wanita itu.


kemudian, meletakan Baby Arselio di dalam bok bayi bersama saudaranya. kemudian, Rian merangkak naik memeluk tubuh sang istri dari belakang.


"terimakasih sayang, aku mencintaimu," bisiknya kemudian membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri. dan akhirnya mereka sama sama terlelap.


tiga bulan kemudian,.....


Rian berencana ingin menggelar acara resepsi pernikahan. apa lagi, sebentar lagi sang istri akan lulus dari sekolah.


"sayang, bagaimana jika kita adakan resepsi pernikahan secara besar besaran,?" tanya Rian saat mereka tengah berada di ruang tamu.


"hah, besar besaran Mas. apa nggak masalah,?" tanya Sheina.


"nggak ada yang jadi masalah sayang, apalagi ini untuk keluarga kita," Rian berkata seraya mengamit pinggang istrinya.

__ADS_1


sementara si kembar, di letakkan di.atas stroler. Sheina yang mendengarnya, menghela nafas panjang.


"bukan itu maksud aku Mas," Sheina berkata dengan nada gemas ingin nabok.


"terus,?" tanya Rian. dengan menautkan alisnya karena merasa bingung.


"aku takut kalau Hanum masih menyimpan dendam padamu," terang Sheina dengan wajah sedihnya.


entah mengapa, gadis itu selalu merasa was was apalagi, mimpi yang beberapa bulan yang lalu, muncul kembali.


"kamu tenang saja sayang, dia sekarang ada di penjara dan akan lama bebasnya. bahkan terancam hukuan mati," Rian tersenyum tipis.


dan hal.itu, bukannya membuat sang istri tenang, malah membuat Sheina semakin ketakutan. Rian sebenarnya juga tau akan hal itu.


namun, laki laki itu mencoba untuk tetap tenang. karena sebenarnya, Rian juga serimg mendapatkan mimpi yang sama.


mereka kembali ke kamar dan memutuskan untuk beristirahat. setelah di rasa istri dan anak anaknya terlelap, Rian memutuskan untuk menemui Kenzi dan juga istrinya yang baru saja lahiran.


"maaf kalau saya mengganggu kalian malam malam," Rian berkata saat dirinya telah sampai di rumah Kenzo.


"tidak Masalah Pak, ada apa,?" tanya Anggun yang tengah menggendong bayi perempuan.


Rian menatap lurus sejenak kedepan. " saya mau minta tolong denganmu, dan suamimu untuk menjaga istri dan anak saya," tukasnya.


hal itu membuat Anggun dan Kenzo.yang mendengarnya, saling melempar pandangan. " memangnya, kau mau kemana,?" tanya Kenzo.


tapi, Rian tak menjawab. laki laki itu malah mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. kemudian, menyerahkan pada Anggun.


"berikan kertas ini, saat hari ulang tahunya nanti," Rian berkata dengan nada yang terlihat aneh. namun, Anggun dan Kenzo yang menyadatinya, segera menggelengkan kepala.


****


di sepanjang jalan, Rian selalu membayangkan hari harinya bersama istri dan anak anaknya. " maafkan Ayah ya sayang, jika kalian akan. hidup bukan dengan keluarga yang utuh," ucapnya dengan mengusap dengan ibu jarinya.


dan Rian segera melajutkan perjalananya,. hingga tiba di persimpangan jalan. Rian yang merasa pusing secara tiba tiba, mencoba untuk menghentikan laju motornya.


namun naad, bukan rem yang ia mainkan, justru malah gas. alhasil Rian menghantam mobil truk yang ada di depanya.


bruk


bruk


kecelakaan tak terelakan lagi darah meluber kemana mana. tak lama kemudian, para warga yang melihatnya segera membawanya ke rumah sakit terdekat.


"sepertinya laki laki ini sudah tak.tertolong," ucap salah satu dari mereka yang mengenakan sarung.


"innalolahi wainnailaihi rojiun,' seru mereka serempak kudian berusaha menghubung keluarganya.


******


sementara itu, Sheina yamg terbangun dari tidurnya, tak mendapati sang suami d sampingnya.


lantas, wanita itu segera mencari keseluruh rumah. namun, hasilnya nihil. Sheina memtuskan untuk kembali ke dalam kamar.


tak lama setelahnya, ponselnya berdering. menandakan ada panggilan masuk.

__ADS_1


'Suamimu telah mati!!" teriak seseorang dari seberang sana. hal itu membuat Sheina seketika melemparkan ponselnya dan berteriak histeris.


"aaarkh tidak mungkin!!" teriaknya histeris dan tak lama, terdengar pintu kamarnya di ketuk dari luar.


"Nyonya, di luar ada Nyonya dan Tuan Besar," panggil salah satu Maid.


dengan perlahan, Sheina segera turun dan menghampiri mereka.


alangkah terkejutnya Sheina, di sana telah ada ambulance dan beberapa bapak bapak yang tengah menurunkan keranda mayat.


"Mah, Pah, ada apa ini,?' tanya Sheina dengan wajah cemasnya.


"sabar ya sayang, Rian telah di panggil oleh sang pencipta," Bu Selvy tampak memeluk menantu kesayangannya itu.


"tidak!! itu tidak mungkin!!" teriaknya histris dan tiba tiba saja,..


brug


tubuh Sheina ambruk kedalam pelukan sang Ibu Mertua.


"sayang, bangun nak," Bu Selvy mengoyangkam tubuh Sheina dan memberi minyak kayu putih. dan tak lama, gadis itu tersadar.


tak lama kemudian, suasana menjadi mencekam saat ada seseorang yang masuk kedalam rumah Rian.


"hahaha Kau akhirnya mati!!" teriaknya girang hal itu membuat.Sheina tersulut emosi dan..


plak


satu tamparan telah mendarat mulus di pipinya. " apa kau yang membunuh suami ku,?" tanya Sheina dengan berapi api.


"haha.iya aku yang menabraknya dengan truk," jawabmya tertawa girang. dan kemudian,..


Dor.


Dor


Dor


tiga tembakan telah menembus tubuh Hanum. hal itu membuat, Sheina dan semua orang yang ada di sana, histeris.


mereka segera lari meninggalkan rumah itu. dan malam itu juga, Rian di makamkan dan Sheina dan kedua anakmya, di boyong ke rumah lama,


tiga tahun berlalu,...


Sheina kini tengah duduk di samping makam sang suami dengan air mata mengalir.


"Mas, apa kamu bahagia,?" tanya Sheina dengan sesenggukan.


"sudah sayang, iklaskan semua, sekarang kita pulang yuk, kasihan si kembar. " Bu Selvy menenangkan menantunya.


mereka akhirnya pulang kerumah Bu Rianti. " aku berjanji, akan selalu setia," gumamnya berlinang air mata.


Tamat...


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2