Pembalasan Gadis Abnormal

Pembalasan Gadis Abnormal
Chapter 105


__ADS_3

dan untuk pertama kalinya, Rian dan Kenzo saling bersalaman. mereka sama sama menurunkan ego dan ssdikit dendam kesumat yang ada di antara mereka.


apalagi Kenzo. laki laki itu belum sepenuhnya rela jika Sheina memilih Rian. namun apa boleh di kata semua telah terjadi dan sepertinya, Sheina juga aangat bahagia.


****


mereka berdua kini telah sanpai di rumah Rian. dan mereka berdua segera masuk kedalam rumah.


"permisi Nyonya, Tuan," salah satu Maid datang menghampiri pasangan muda itu.


" ada apa Bi,?"tanya Sheina riang. gadis itu memang sangat ramah dengan siapapun. dan hal itu membuat para Maid di sini sangat senang.


"itu Nyonya, tadi Nyonya dan Tuan besar datang kemari. mereka mencari kalian," jawabnya seraya mrnundukkan kepala.


"hmn baik," Rian segera membawa sang istri menuju kamar mereka berdua.


ceklek


setelah pintu di buka, Sheina dan Rian segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri mereka. karena memang, haru sudah malam.


'Mas, besok kita ke rumah Mama sama Papa ya,?" pinta Rian pada sang istri. laki laki itu takut jika sang istri mengalami perubahan mood kembali seperti yang sudah sudah.


"iya sayang, besok kita pagi pagi sekali ke sana," Rian tersenyum tipis dan mereka berdua memutuskan untuk beristirahat.


"Mas, kalau anak kita nanti laki laki semua, gimana,?' tanya Sheina saat mereka telah merebahkan diri di ranjang empuknya.


"laki laki ataupun perempuan, semuanya sama saja yang jelas semuanya sehat tanpa kekurangan suatu apapun," Rian memeluk tubuh mungil istrinya itu.


"mas mau pakai nama Arsyila dan Arselio ya Mas?" tanya Sheina seraya mengeratkan pelukannya.


"iya sayang, memqngnya kenapa, kamu nggak suka,?" tanya Rian memandang sang istri


"enggak Mas. namanya bagus kok aku suka," Sheina menggelengkan kepalamya.


kemudian menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami. " besok acaranya jam berapa,?" tanya Sheina.


karena memang, yang di beri undangan adalah sang suami. saat mereka sedang makan malam tadi.


"jam tujuh sayang, memangnya kenapa,?" tanua Rian.


Sheina menggelengkan kepala dan segera merebahkan tubuhnya di samping suaminya.


namun, tiba tiba Rian menarik tubuh Sheina. sehingga mereka kembali dengan posisi berpelukan.

__ADS_1


"kamu tidur di dada Mas aja," pintanya. Sheina mendongak menatao mata elang suaminya itu.


"mas yakin mau tidur dengan posisi seperti ini,?" tanya gadis itu memastikan.


Rian mengangguk dengan mantap. " yakin dong, kenapa tidak," sahutnya enteng.


"nanti kalau sesak nafas, jamgan salahin aku ya,?" tanya Sheina.


Rian yang mendengarnya terkekeh pelan." memangnya, kamu seberat apa sampai buat aku bisa sesak nafas,?' tanya Rian menoel hidung istri kecilnya itu.


Sheina yang mendengarnya, hanya tersenyum tipis. " iya Deh iya, yang badannya paling gede," cibirnya kesal.


hsl itu membuat Rian tertawa terbahak bahak. krmudian merapatkan pelukannya. " aku mencintaimu," bisiknya mesra.


Sheina yang melihatnya, hanya tersenyum tipis. kemudian mereka segera tidur dengan saling berpelukan.


******


"akkhh tolong ampun," suara jeritan itu menggema di sebuah ruangan kecil di pinggir jalan yang sepi.


dan di sana ada seorang gadis sedang menatap kearqh bangunan itu.


"kok suaranya kaya Mas Rian. dan kenapa juga aku ada di sini,?' tanya Sheina kebingungan.


apa mungkin mereka di culik,? tapi itu juga tidak mungkin. karena penjagaan di rumah itu sangat ketat.


karena rasa penasaran yang tinggi, Sheina memutuskan untuk mendekati bangunan itu ddngan perlahan.


matanya melihat awas kesana kemari.hingga dirinya sampai di sebuah jendela. matanya membulat sempurna saat mendapati pemandangan di dalam sana.


terlihat sang suami sedang di cambuk oleh seorang algojo dengan membabi buta. tanpa pikir panjang lagi, Sheina segera mendobrak dan menghampiri sang suami yang masih saja di siksa.


"hentikan!!." teriak Sheina.kemudianemeluk tubuh kekar sang suami dengan eratnya.


"kamu ngapain ada di sini,? pulanglah biarkan aku saja yang menjalani ini semua," Rian berkata lirih seraya terus menerus menahan sakit akibat cambukan itu.


"enggak aku nggak mau," Sheina menggelengkan kepalanya kuat. " apa ywng sebenarnya terjadi, kenapa kita ada di sini,? bukankah kita sedang istirahat di kamar," tanya gadis itu dengan air mata berlinang.


Rian tak menjawab. laki laki itu justru tersenyum manis. tangannya terangkat dan membelai wajah Sheina. " Maafkan aku, semoga kamu bisa bahagia tanpa kehadiranku," Rian kembali merasakan panas di tubuhnya.


"apa maksudnyq,?" tanya Sheina merasa kebingungan.


Rian di tarik oleh seseorang dan memaksanya untuk berdiri.

__ADS_1


" hey!! mau di bawa kemana suami ku,?" teriaknya lamtang.


namun, segerombol laki laki yang mengenakan jas hitam itu tak memoerdulikanya. mereka terus saja menggiring tubuh lemah Rian hingga tiba di tempat yang seperti lapangan.


yang di sekelilingnya adalah jurang. Rian di ikat dalam satu pohon " katakan kalimat terakirmu" perintah salah satu algojo.


Rian menatap istri kecilnya itu dengan sendu. " maafkan aku sayang, mungkin setelah ini kita tidak akan bisa bersama. jaga malaikat malakiat kita apapun yang terjadi," laki laki itu tersenyum tipis.


Dor


Dor


Dor


tepat setelah mengatakan itu, suara tembakan terdengar sebanyak tiga kali. Sheina membeku melihat sang suami di terjang tiga peluru yang mengenai dada, kepala dan Kaki.


seketika itu pula, Rian tergeletak tak beryawa. dan dengan cepat, di lempar ileh segerombolan laki laki berjas hitam itu ke dasar jurang.


"Mas Rian!!" teriak gadis itu lantang dan langsung turun menghampiri sang suami yang telah terbujur kaku itu.


"Mas bangun kamu bilang bakal temenin aku setiap saat, tapi kenapa kamu pergi secepat ini,?" tanyanya seraya menggoyang goyangkan tubuh sang suami.


"aakkhh tidak!!" teriaknya " hah hah hah," Sheina terbangun dari tidurnya dan segera melihat ke sekitarnya.


dirinya masih mendapati di dekapan sang suami yang sepertinya ikut terbangun karena mendapati sang istri yang ketakutan itu.


"sayang, ada apa,? kenapa kamu terlihat pucat sekali,?" tanya Rian yang mengeratkan dekapannya.


Sheina menggelengkan kepala. " aku nggak papa Mas. aku hanya mimpi buruk saja," tangan mumgilnya mengelus wajah sang suami.


kemudian kembali memeluknya erat. " jangan tinggalin aku, hiks hiks," terdengar suara isakan kecil di dekapan laki laki itu.


"hey, sayang jangan nangis sayang, Mas disini,?" Rian menangkup wajah istri kecilnya itu.


cup


cip


Rian mengecup kenong dan pipi Sheina dengan penuh kasih sayang. " sekarang, kamu tidur lagi ya," Rian tersenyum tipis.


Sheina mengangguk kepala dan memejamkan matanya.


pagi pagi sekali, Sheina bangun dan segera mencuci wajahnya. kemudian menuju dapur untuk membuatkan sesuatu untuk sahabat dan mertuanya. karena pagi ini, mereka akan bertandang kerumah mertua dan juga sahabatnya

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2