Pembalasan Gadis Abnormal

Pembalasan Gadis Abnormal
Chapter 91


__ADS_3

Dua minggu kemudian.....


Kini, Sheina tengah terduduk lemas di ranjang kamar . wajahnya sangat pucat seperti orang yang sedang sakit.


"Neng, Neng Sheina nggak Papa,?" tanya Bi Inem dari luar kamarnya. terlihat, wanita paruh baya itu sangat cemas.


"iya Bi, nggak Papa, mungkin ini hanya penyakit maghku kumat," Dheina berucap dengan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


"oh, kalau begitu Bibi buatin bubur ya," tawar Bi Inem.


"iya Bi makasih, emn sekalian boleh minta tolong nggak Bi,?" tanya Sheina ragu ragu.


gadis itu, merasa tidak enak karena selalu merepotkan keluarga Bi Inem. jika dulu merasa biasa saja, karena di bayar. tapi tidak untuk sekarang. karena sekarang, Sheina yang numpang.


"boleh Neng, minta tolong apa,?" tanya wanita paruh baya itu.


"buatin Sheina trh hangat sama bawain asinan buah yang kemarin di beli," Sheina segera menutupi tubuhnya dengqn selimut.


"oh, alah di kira Bibi teh kenapa," Bi Inem segera pergi dari depan kamar gadis itu.


setelah kepergian Bi Inem, Sheina mulai menangis sesenggukan. karena dirinya menyadari, bahwa ini bulan karena penyakit maghnya yang kambuh.


tapi karena dirinya yang sedang hamil. semalam, setelah Sheina dan Neneng pulang dari pengajian, tiba tiba gadis itu, merasa mual dan segera menuju kamar mandi.


***


Flasback on.


kedua gadis itu, kini telah sampai di dalam rumah. merrka segera duduk di ruang tamu sembari bercengkrama dengan keluarga sederhana itu.


"Neng Sheina, kapan balik ke kota,?" tanya Bi Inem. membuat Sheina menoleh ke arah wanita paruh baya itu.


"mungkin dua hari lagi Bi, soalnya pasti hari pertama, nggak akan ada pelajaran," Sheina tersenyum tipis.


terlihat, ada guratan kesedihan di matanya, membuat Bi Inem meras tidak enak karena berfikir telah menyinggungnya.


"eh, Neng Sheina jangan sedih, Bibi nggak bermaksud mengusir Neng Sheina. Bibi hanya khawatir, jika Neng Sheina kelamaan di sini, nanti di cariin orang tuanya," Bi Inem berusaha menenangkan gadis itu.


"hehe Sheina nggak marah kok Bi, Sheina hanya belum siap aja, kembali kr kota," Sheina tersenyum kecut.


karena sebentar lagi, dirinya akan bertemu dengan laki laki itu. dan Sheina meraaa belum siap.


"eh, iya Neneng udah lulus sekolah kan ya,?" tanya Sheina dengan menatap gadis di sebelahnya itu.

__ADS_1


Neneng, yang di tanya, hanya menganggukan kepala.


"emang, ada apa Neng,?' tanya Bi Inrm pada anak majikannya itu.


"eem, gimana kalau Neneng, ikut Sheina ke kota dan sekolah di sana,?" tanya Sheina dengan mata berbinar.


"emn tapi, di sana kan sekolah, mahal Neng, kita mana ada biaya,"Bi Inem tampak sedih.


"iya Neng, biar Si Neneng, sekolah di sini aja, lagipula, sekolahdi sini kan juga sama saja. dan perempuan setelah lulus sekolah mau apa,? paling juga menikah," Pak Hari ikut bersuara.


membuat Neneng, seketika menundukan kepala. karena mendengar omongan yang kurang enak dari Pak Hari


Sheina menghela nafas panjang. " semua orang bisa sukses pak, tidak di ukur dari gendernya. mau wanita atau pria, semua bisa sukses," Sheina tersenyum tipis.


"dan untuk masalah biaya, biar Keluarga Sheina yang tanggung," Sheina berkata.


dan dengan cepat, kedua orang tua Neneng, mengangkat wajahnya dan menggelengkan kepalanya.


"nggak usah Neng," mereka kompak menolak tawaran Sheina.


"jangan menolak!! karena Neneng, bisa bekerja di rumah Sheina, gimana,?" tanya Sheina menawarkan.


"Neneng mau, boleh ya Pak Bu, biar Neneng, ada penghasilan sendiri,?" gadis itu memohon untuk meminta izin.


sejenak, kedua manusia paruh baya itu, saling berpandangan. dan mereka, menganggukan kepala.


Neneng yang mendengarnya, menganggukan kepala dan dengan semangat, menarik tangan Sheina.


"makasih Pak Bu, Neneng janji akan belajar yang rajin. ayo kak, kita kemas kemas," Neneng menarik tangan Sheina dengan semangat.


"semangat banget sih Neng," Sheina berkata seraya terkekeh kecil.


"iya Kak, udah lama kan, Neneng nggak ke kota," gadis itu segera memasuki kamarnya.


sementara Sheina, gadis itu tiba tiba merasa mual dan dengan segera, berlari ke kamar mandi di belakang.


hoek hoek


suara itu, menggema di kamar mandi yang kecil. Sheina mengeluarkan semua isi perutnya, hingga gadis itu merasa lemas.


dan dengan perlahan, berjalan ke kamarnya. setelah sampai di dalam kamar, gadis itu mengedarkan pandanganya, untuk mencari minyak angin.


dan tanpa sengaja, mata Sheina menangkap sesuatu dan seketika, membulatkan matanya.

__ADS_1


"nggak nggak mungkin " ucap gadis itu, seraya melangkahkan kakinya, mendekati kalender. dimana, disana tertulis tanggal saat ini, tanggal lima bulan tujuh.


itu artinya, Sheina sudah terlambat datang bulan dua minggu. mendadak, hati gadis itu menjadi gelisah. memikirkan hal terburuknya.


dan seketika, tubuh Sheina merosot ke lantai dengan derai air mata.


"kenapa, ini terjadi padaku ya Allah," Sheina menangis sesenggukan. "besok, aku harus membuktikanya, " gemamnya seraya bangkit dari dari lantai.


flashback Of.


setelah selesai minum teh dan memakan asinan, Sheina pamt pada keluarga Neneng, untuk ke toko buku yang ada di ujung desa.


"Neng Sheina yakin mau pergi sendiri,?" tanya Bi Inem.


Sheina menganggukan krpala. " iya Bi, lagi pula, ada google, jadi, nggak akan kesasar," gadis itu segera melangkahkan kakinya, keluar dari rumah.


****


sesampainya di apotek, Sheina sedikit celingukan. karena merasa malu harus,membeli itu. beruntungnya, yang bekerja di apotek ini, adalah warga dari kampung kampung sekitar.


sehingga, Sheina tidak akan merasa terbebani. jika bertemu mereka.


"mau pesen apa mbak,?" tanya sang pegawai apotek.


"emm saya beli tespecknya dua ya, yang ini dan yang ini," Sheina menunjuk alat tes kehamilan, dengan harga berbeda. tentu juga kualitas yang berbeda.


"oh oke, mbaknya bukan warga dari desa ini ya,?" tiba tiba, panjaga apotik itu bertanya.


"iya Mbak, saya dari kota," jawwb Sheina dengan menerima kantung kresek.


dan dengan swgera, gadis itu mengayunkan kakinya, melangkah keluar apotik pegawai apotik itu, menggelengkan kepalanya.


"hemm dasar anak muda jaman swkarang," gumamnya dengan melangkah masuk.pegawai apotik itu mengira, jika Sheina adalah korban dari pergaulan bebas.


****


Sheina terduduk lemas di lantai kamar mandi, saat dua alat tes kehamilan itu, mengeluarkan dua gatis merah di tengahnya.


"nggak!! ini semua nggak Mungkin, aku nggak mau hamil, huhuhu hiks hiks,"Sheina menangis tersedu sedu.


dia meremas perutnya kuat berharap ini, adalah sebuah mimpi belaka.


"jahat !! kau jahat!! " teriak gadis itu histers,seraya memukul mukul perutnya.

__ADS_1


untung saja rumah saat ini dalam keadaan sepi. karena keluarga Neneng berusaja pergi kepasar untuk membeli baju untuk Neneng pergi ke kota besok.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2