Pembalasan Gadis Abnormal

Pembalasan Gadis Abnormal
Chapter 68


__ADS_3

Para tenaga medis itu, membawa brankar, menuju ruang oprasi.


Anggun tak henti hentinya berdo'a, saat lampu menyala. tanda oprasi berlangsung.


semua orang, menunggu di depan ruang oprasi. hanya orang tua Sheina yang berada di depan ruang ICU karena memang, anaknya masih di tangani para tenaga medis.


tak lama, Rian datang bersama kedua orang tuanya. dan mereka, segera menghampiri kedua orang tua Sheina.


sementara itu, Adrian memilih berdo'a di dalam mushola yang berada di area rumah sakit itu.


malam memang sudah semakin larut karena sekarang, sudah hampir jam satu dini hari.


"Bu, saya atas nama keluarga Hutama, mengucapkan rasa prihatin yang sangat mendalam, semoga, semua segera membaik," ucap Bu Selvy seraya mengelus pundak Bu Rianti.


"terimakasih Bu, semoga saja, semua bisa berjalan sesuai keinginan kita," Bu Rianti mendudukan dirinya di kursi tunggu.


tak lama, Dokter datang menghampiri Bu Rianti dan yang lainya. membuat semua orang, sontak berdiri.


"bagaimana kondisi anak saya,? apakah anak saya bisa selamat, apakah sekarang sudah sadar,?"" Bu Rianti segera memberondong Dokter itu dengan berbagai pertanyaan.


"Bu, tenanglah kita akan mendengarkan penjelasan dari Dokter," Pak Rayn menepuk bahu istrinya pelan.


"begini Pak, Bu, pasien saat ini, mengalami kondisi kritis, dan saat ini membutuhkan darah yang cukup banyak. karena, pasien kehilangan hampir dua puluh kantung darah," sontak saja, ucapan dari Dokter itu, sukses membuat Bu Rianti ambruk swketika.


wanita laruh baya itu, tak henti hentinya berteriak histeris seraya memanggil nama putri tercinta.


"Bu, tenangkan fikiranmu " Pak Rayn mencoba menguatkan sang istri. padahal, dirinya swndiri juga tak kalah terpukulnya mendengar berita itu.


"Dok, ambil darah kami, kami adalah orang tua kandung Sheina," Bu Rianti segera bangkit dari duduknya.


"trnang Bu, kita hanya membutuhkan setengahnya saja, karena yang swtengah lagi, sudah ada di PMI," Ucap Dokter Dandy.


"baik Dok, ayo segera ambil darah saya, agar anak.saya,segera terbangun dari tidurnya," Bu Rianti seakan tidak sabar.


mana ada, orang tua yang akan kuat lama lama, melihat anak yang di besarkan dengan lenuh kasih sayang, terbaring lama di rumah sakit, semua orang tua, pasti ingin menyaksikan anaknya sehat wal afiat.


Dokter menganggukan kepala ."baiklah mari kita coba periksa," ucap Dokter itu, seraya berlalu pergi. di ikuti oleh pasangan paruh baya itu.

__ADS_1


sementara itu, Rian dan kedua orang tuanya, memilih menunggu di depan sana.


tak lama, setelah tiga puluh menit, Dokter Dandy dan kedua orang tua Sheina kembali kedepan ruang ICU.


"dengan berat hati, saya menyatakan bahwa kondisi Bapak, dan Ibu, tidak memungkinkan untuk donor darah," Dokter Dandy tampak berhati hati saat mengatakan hal itu.


karena laki laki itu tau, jika emosional keluarga pasien, pasti tidak setabil.


"Dok, saya mohon ambil saja darah saya," Bu Rianti memohon seraya mengatupkan kedua tangannya, di depan dada.


"maaf Pak Bu, tapi kami tidak bisa melanggar peraturan, jika Ibu dan Bapak memaksa, maka rumah sakit ini akan terlihat jelek," ucap Dokter Dandy.


Kedua orang tua itu, segera ambruk di atas lantai. mereka, menangis swjadi jadinya, memikirkan nasip sang putri tercinta.


tak lama, Pak Reno dan Kenzo datang menghampiri kedua orang tua Sheina.


mereka tengah menunggu oprasi Kevin yanasih berjalan. hingga keduanya, tak sengaja melihat pasangan suami istri itu,enangis sejadi jadinya.


"Pak Bu, ada apa,?" tanya Kenzo khawatir. Dengan segera, kedua orang itu segera menggenggam celana yang di kenakan oleh Kenzo.


membuat laki laki itu, tersentak kaget. dengan segera, Kenzo menjauhkan diri dari Pak Rayn dan Bu Rianti.


mendengar hal itu, Kenzo dan juga Pak Reno, dengan sigap segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi beberapa orang yang mereka kenal.


sementara itu, Rian yang mendengar dan mrlihat hal itu, hanya bisa terdiam. entah apa yang di fikirkan laki laki itu, hanya Rian yang tau.


"kami harap, keluarga segera menemukan pendonor yang cocok, karena sepertinya, kondisi pasien, tidak bisa menunggu lagi, kalau begitu, kami pamit dulu," Dokter Dandy segera berlalu pergi.


"apa golongan darah Sheina Pak,?" tanya Kenzo sebelum menempelkan ponselnya.


"AB- nak dan itu sangat sulit di cari," Pak Rayn, mengusap wajahnya,dengan gerakan tangan yang kasar.


laki laki paruh baya itu, seperti frustasi. meski begitu, dirinya tak menyalahkan siapapun atas kejadian ini.


justru, laki laki itu, merasa khwatir dengan kondisi sahabat anaknya Kevin.


"eh iya, bagaimana keadaan Kevin,?" tanya Pak Rayn pada kedua orang berada di depannya itu.

__ADS_1


sontak saja, ucapan Pak Rayn itu, membuat Bu Rianti jugq ikut menatap Kenzo dan Pqk Reno.


karena menurut mereka, Kevin sudah menolong Sheina. yq walaupun mereka berdua, tetap mengalami kecelakaan. tapi setidaknya, kondisi Sheina, tak separah Kevin.


"dia masih berada di ruang oprasi," Kenzo menunjuk ruang oprasi yang masih menyala. pertanda, oprasi masih berjalan.


tiga jam kemudian, Dokter kembali menghampiri keluarga Sheina. untuk menanyakan, apa sudah ada pendonor,atau belum.


"maaf, Pak Bu, saya hanya ingin menanyakan, apakah sudah ada pendonor, atau belum,?" tanya Dokter Dandy.


"Dok, semua masih di usahakan," ucap Kenzo. yang sedari tadi, mengecek ponselnya terus menerus.


"maaf Pak Bu, tapi kami tidak bisa menunggu lagi," ucap Dokter Dandy.


sontak saja, hal itu membuat Bu Rianti, terkulai lemas di atas lantai. seakan tulang tulangnya, tidak bisa menopang berat tubuhnya.


bersamaan dengan itu, mendadak, ruan oprasi terbuka dan tak lama, setelah itu, terdengar jerit tangis dari Anggun yang seperti sangat histertis.


hal itu, membuat Kenzo dan Pak Reno, bergegas menghampiri keluarga Anggun.


tak lama, setelah mereka berdua pergi, Rian maju menghampiri kedua orang tua itu.


"ekhem," Rian sengaja berdehem, untuk mengalihkan pandangan orang tua Sheina.


dan benar saja, pasangan suami istri itu, menoleh cepat kearah sumber suara.


"saya bisa membantu, asal ada syaratnya," Rian berbicara dengan angkuhnyq.


hal itu, membuat kedua orang tuanya, membulatkan matanya. mereka hampir saja, tidak mengenali siapa sosok yang berada di depannya.


"Rian, apa apaan kamu," tegur Pak Gibran yang merasa malu dengan tingkah putra tunggalnya itu.


"tenang saja Pah, semua akan baik baik saja," Rian tersenyum tipis.


"apa yang harus kami lakukan, agar anak kami selamat," ucap Bu Rianti seraya bangkit dari duduknya.


"kalian cukup tanda tangani surat ini," Rian menyerahkan sebuah map pada kedua orang itu.

__ADS_1


dengan segera, mereka mengambil map itu dan membacanya dengan perlahan.


BERSAMBUNG......


__ADS_2