Pembalasan Gadis Abnormal

Pembalasan Gadis Abnormal
Chapter 81


__ADS_3

Sheina kini tengah duduk di brankar rumah sakit. gadis itu merasa bosan karena setelah dari taman rumah sakit, dirinya hanya berbaring dan tidak berbuat apapun.


"bu, kapan kita pulang, Sheina sudah merasa bosan di sini," ucap gadis itu merengek.


membuat Bu Rianti, hanya tersenyum simpul. sementara Pak Rayn, laki laki paruh baya itu, kimi sedang sibuk mencari pelaku penabrakan maut itu.


"sabar ya sayang, sebentar lagi mungkin bapakmu kembali," Bu Rianti mengelus kepala putrinya.


"emangnya, Bapak kemana,?" tanya gadis itu penasran. karena tak biasanya, Bapaknya itu pergi selama ini.


"Bapakmu sedang menyelidiki siapa yang menabrak kamu malam itu," Bu Rianti terswnyum tipis.


Sheina hanya menganggukan kepala walau hatinya merasa ada yang janggal.


beberapa hari kemudian...


saat ini, Sheina sedang bersiap siap untuk pulang ke rumah karena Dokter Dandy, sudah mengizinkan pulang.


Sheina sangat senang karena pada akhirnya, dirinya bisa pulang dari rumah sakit ini. yang menurutnya, sangat menyebalkan dan membosankan.


semua orang, menjemputnya tapi, ada dua yang menurutnya sangat janggal.


yang pertama, kenapa Kevin tidak menjemputnya seperti Anggun, dan yang kedua, kenapa gurunya itu, ada di sini,? Sheina bertanya tanya dalam hatinya.


"ini kenapa seperti ada yang janggal ya, kenapa dia ada di sini,?" tanya Sheina pada laki laki yang berdiri di ambang pintu.


"nanti Ibu sama Bapak jelaskan di rumah ya," Bu Rianti berucap lembut kemudian menuntun Sheina untuk segera masuk ke dalam mobilnya.


sepanjang perjalanan, Sheina hanya terdiam. karena gadis itu, sangat kebingungan dengan situasi yang saat ini terjadi.


sesampainya di rumah, Sheina langsung masuk kedalam kamar dan langsung mencuci wajah, dan berganti pakaian.


setelahbya, gadis cantik itu, duduk di samping kedua orang tuanya.


swmentara yang lain, memilih langsung pulang ke rumah. karena memang, Anggun harus kembali ke sekolah.


"jelaskan " titahnya. dengan nada datar. hal itu, membuat kedua orang tuanya, tersentak kaget. karena seumur hidupnya, mereka belum pernah mendapati putrinya, berbicara seperti ini.


"sebenarnya, kamu sudahenikah," ucap Bu Rianti pelan. walaulun begitu, dad gadis itu, seakan ingin lepas dari tempatnya.


"me-menikah,?" tanya Sheina tergagap. tak terasa, air matanya, luluh tanpa permisi.

__ADS_1


"maafkan Ibu sayang,Ibu terpaksa melakukan ini, karena kami berdua, tidak mempunyai pilihan," jawab Bu Rianti sesenggukan dan hendak menyentuh putri tercintanya itu.


tapi dengan cepat, Sheina mengedikan bahunya. tanda tidak ingin di sentuh.


membuat tangan wanita oaruh baya itu, menggantung di udara.


"berapa hutang kalian pada laki laki itu, dan keluarganya,?" tanya Sheina dengan wajah datar.


Deg


jantung Bu Rianti seperti melompat dari tempatnya saat mendengarkan pertanyaan yang menohok dari putri kesayanganya itu.


bagaimana busa putri yang mereka besarkan penuy dengan jasih dan sayang, mengatakan hal seremdah itu pada kedua orang tuanya sendiri,? sungguh sepasang suami istri paruh baya itu, tak mengerti jalan fikiran anak mereka.


"Sheina, apa maksudmu nak,?" tanya Pak Rayn menatap nanar putri swemata wayangnya itu, dengan tatapan sendu.


"kalian berdua kenapa,? hiks hiks," Sheina memangis sejadi jadinya di hadapan semua orang.


"Sheina, maafkan Ibu nak, Ibu sama Bapak terpaksa melakukan itu, karena kamu membutuhkan banyak sekali darah dan Nak Rian yang bisa menolongmu," Papar Pak Rayn.


mendengar ucapan Bapaknuy, Sheina menjadi sangat geram. bisa bisanya, gurunya itu, mengambil kesempatan dalam kesempita.


"Bapak menjebak kami,?" tanya Sheina dengan nada tinggi.


"tidak seperti itu Sheina, saya hanya ingin berniat bsik dengan menikahimu," ucap Rian dengan sepontanitas.


hal itu, justru membuat Sheina semakin merasa terdzolimi.


"seharusnya Bapak tidak usah menolong saya, jika hanya ingin merusak saya," ucap Sheina berapi api.


"mana ada laki laki yang mau merusak gadis yang di cintai, dengan menilahinya,?" tanya Rian tersenyum tipis.


hal itu, malah membuat Sheina semakin geram saja di buatnya.


"hah, siapa yang ingin menikah muda, dengar ya, Bapak Rian yang terhormat, saya tidak akanpernah sudi menjadi istri anda. jadi, lebih baik, sekarang, anda talak saya," ucapan itu, sukses membuat Rian menggelengkan kepalanya kuat.


"tidak sampai kapan oun, saya tidak akan pernah menceraikan kamu, kamu boleh saja menghina saya balik, kamu boleh menampar saya, kamu boleh memukul saya, asalkan kamu jangan meminta hal mustahil itu pada saya," Rian berusaha meraih tangan gadisnya tapi, tiba tiba...


plak


satu tamparam keras, mendarat mulus di wajah tampan pria itu.

__ADS_1


hal itu, membuat semua orang, menjadi sangat terkejut terutama, kedua orang tua Sheiina.


"Sheina, apa yang kamu lakukan nak ?" tanya Pak Rayn. karena laki laki paruh baya itu, baru pertama kali melihat Sheina, sampai sekasar itu pada orqng lain.


"itu bahkan belum cukup atas apa yang di lakukan dia pada Sheina Pak," ucapnya sesenggukan badanya sampai bergetar hebat karena menahan sesak di dada.


"Sheina, semua orang, bisa mengalami ke khilafan nak, dan semuaisa mendapatkan kesempatan kedua," Bu Rianti berkata, masih mencoba mengingatkan putrinya.


Sheina tersenyum sinis dan menatap tajam pada laki laki yang kini dirinya tau bahwa itu, adalah suaminya.


"sayangnya, Sheina tak mau memberikan kesempatan kedua itu pada Dia!" hardiknya seraya menunjuk ke arah Rian.


"Sheina, sadarlah nak, semua orang berhak mendapatkan maaf," Bu Rianti kembali menasehati putrinya.


"sayangnya, Sheina tidak bisa memaafkan Dia," tunjuk Sheina pada Rian.


membuat semua orang, terdiam dengan ucapan gadis itu.


Sheina memalingkan wajahnya dan menatap kearah lain tiba tiba..


Deg


jantung gadis itu, seperti ingin lepas dari tempaynya. " kalian semua memang keterlaluan. Sheina mengerti swkarang, "ucapnya seraya berderai air mata. "kalian bersekongkol kan, dengan acara pemotretan itu," Sheina berucap dengan mengangkat ponselnya.


hal itu, sukses menbuat semua orang terkejut. terutama Rian. laki laki itu, semakin menundukan kepalanya


segera Bu Rianti mendekat dan hendak merengkuh putri tunggalnya itu. namun lagi lagi, Sheina menolak dengan mengedikan bahu.


" ceraikan saya segera!!." ucap Sheina dengan tatapan nyalangnya.


dengan cepat, Rian mendongak dwn menggelengkan kepala. " tidak!! bagi saya, pernikahan bukan untuk mainan, satu kali seumur hidup," ucapnya .


Sheina tertawa tanpa suara. kemudian, gadis itu mematap kearah seisi rumah. kemudian menghela nafas.


"huh, jika anda tau pernikahan bukan lah sebuah permainan, seharusnya anda tau jika saya, tidak ingin menikah dengan anda!" Sheina menatap tajam.


"apa ini memang trik anda, menikahi saya di saat koma,? hmm," nada bicara Sheina seperti sangat menskutkan.


BERSAMBUNG....


Nb: mampir sini kak di karya kak Weny Hida

__ADS_1



__ADS_2