Pembalasan Gadis Abnormal

Pembalasan Gadis Abnormal
chapter 51


__ADS_3

setelah selesai mencuci wajah, Sheina turun ke lantai satu untukenemui sang kekasih.


"kenapa kesini,?" tanya Sheina yang langsung duduk di sebelah Adrian.


"nih," ucapnya seraya menyerahkan satu kotak berbentuk persegi panjang.


dari aromanya, gadis itu sudah tau jika di dalamnya, adalah martabak manis.


"makasih Ian, kamu memang pacar idaman," ucapnya seraya memasang senyuman termanisnya.


"sama sama, buruan di makan mumpung masih anget," ucapnya seraya mengelus kepala gadis itu dengan sayang.


"hmm," ucapnya seraya mematong martabaknya, dengan garpu. kemudian melahapnya.


"gimana, enak nggak,?" tanya Adrian.


"emm enak banget Ian," ucap Sheina seraya memejamkan matanya. karena saking enaknya.


"syukurlah, jika enak. berarti, usaha aku nggak sia sia," ucapnya tersenyum.


membuat Sheina yang mendengarnya, menghentikan aktivitas makanya. kemudian, menatap kekasihnya itu dengan ekspresi wajah bingung.


"maksud kamu, kamu yang buat martabak manis ini,?" tanya Sheina setengah tak menyangka.


Adrian hanya menganggukan kepala dan tersenyum ke arah Sheina.


"nggak percaya aku," ucapnya seraya melanjutkan acara makanya.


"yaudah kalau kamu nggak percaya, aku nggak pernah bohong. apalagi, dengan orang yang aku sayang," ucapnya seraya mengelus kepala Sheina.


tak lwma, kedua orang tua Sheina datang menghampiri mereka berdua.


"eh, Pak Buk, " ucapnya seraya mencium punggung tangan kedua orang itu.


"udah lama nak,?" tanya Pak Rayn. sekedat basa basi. karena memang, kedua orang tua Sheina telah mengetahui jika Adrian datang.


"hehe iya pak, ini saya ada buat martabak manis," ucapnya seraya menyerahkan sekotak martabak manis yang masih utuh.


sontak saja, perkataan Adrian barusan, membuat Sheina seketika, tersedak makanannya sendiri.


uhuk uhuk


dengan cepat, Adrian memberikan kekasihnya itu, segelas air.


"makanya, kalau makan itu pelan pelan," ucapnya seraya menepuk bahu Sheina pelan.


Sheina hanya menganggukan kepala seraya tersenyum tipis.


ternyata kekasihnya itu, memang tidak bohong. memang dirinya yang membuat martabak manis itu.


karena Adrian, berani mengatakan hal itu pada kedua orang tuanya. karena jika berbohong, mana mungkin, Adrian selantang itu berucap.


"ternyata, kamu memang yang buatin itu ya, maaf kalau sempat meragukanya.

__ADS_1


"nggak papa Na, lagian aku juga seneng bisa buat makanan itu, itung itung mengembangkan bakatku," ucapnya tersenyum tipis.


"wah, ternyata nak Adrian memang jago memasak ya, makananya enak," ucap Bu Rianti memuji saat mencicipi martabak itu.


"makasih Bu, semoga saja saya bisa setiap hati membuaykan Sheina cemilan yang dirinya suka," ucap Adrian tersenyum manis.


sontak saja, Sheina yang mendengar ucapan Adrian, mencubit tangan laki laki itu.


seketika, Adrianemekik kesakitan. karena merasakan perih pada lenganya.


"awh," ucapnya meringis. membuat Sheina menoleh dan memeriksa bagian tubuh laki laki itu, yang sakit.


"eh Ian, mana yang sakit,?" tanya Sheina.


"eh, nggak ada kok Na, lagian tadi aku cuma bercanda," ucapnya memaksakan senyum.


Sheina yang mendrngarnya, merasa tak tak percaya. dan dengan segera, gadis itu, memeriksa lengan kekasihnya.


dan betapa terkejutnya dirinya saat melihay ada brkas luka bakar dan melepuh di lengan kekasihnya itu.


"ini kenapa,?" tanya Sheina yang sudah hampir berkaca kaca.


"eh Na, ini nggak papa, kamu nggak usah khawatir lah," ucap Adrian mencoba menenangkan kekasihnya.


dengan segera, Sheina beranjak dari duduknya, dan segera mengambil kotak P3k. kemudian, kembali ketempat duduknya dan segera mengobati luka laki laki itu.


setelah selesai membersihkan luka Adrian, laki laki itu, memutuskan untuk segera pulang kerumah.


pagi harinya. .


Pagi pagi sekali, Anggun dan Kevin sudah datang dan mengacaukan kediaman Sheina.


karena orang tua Sheina, sudah berangkat sejak pagi tadi. membuat keduanya, berani mengacak ngacak rumah gadis itu.


"hei kalian ya, berantakin rumah gue kayak gini, udah kayak kapal pecah aja," ucap Sheina menggerutu.


padahal, dalam hatinya sudah sangat bahagia karena ada seseorang, yang mau menemani dirinya disaat sendiri dan kesepian seperti sekarang ini.


"yaelah Sheina, nggak papa kali nggak sering sering ini," ucap Kevin seraya tersenyum tipis.


tak lama, Adrian datang, dengan membawa semua peralatan mask dan membuat kue brownis.


"halo sayang, assalamau'alaikum," ucapnya seraya menghampiri sang kekasih dan mengelus kepala gadis itu.


"eh, Ian udah dateng kirain nggak bskal dateng," ucap Sheina trrsenyum tipis.


"eh, di jawab dulu dong, salam aku, katanya mau jadi ostri sholehah,?" tanya Adrian menaik turunkan alisnya.


membuat Sheina yang mendengarnya, membulatkan matanya, seraya mencubit kecil pinggang kekasihnya itu


"awh iya iya sayang, sakit tau, aku kan hanya bercanda, kamu galak banget ih," ucapnya mengusap bekas cubitan gadisnya itu.


"sukurin lagian kamu suka banget godain aku," ucapnya mencebikan bibirnya.

__ADS_1


" iya deh, maafkan hamba ibu ratu," ucspnya tersenyum manis. lagian, nggak mungkin aku nggak dateng, kan ini pacar aku yang minta," ucapnya seraya trrsenyum manis.


"ekhem, pacaran aja terus Pak Buk, jangan hiraukan kita yang ada di sini," ucap Kevin. berniat mencibir Sheina.


tapi, di luar dugaan,Adrian justru menanggapi candaan Kevin, dengan perkataan serius.


"lah, bukanya kalian juga udah jadian,?" tanya Adrian. membuat wajah Kevin, seketika berubah menjadi agak berbeda.


"eh, Ian kamu bawa apa itu,?" tanya Sheina mengalihkan topik pembicaraan.


"ini aku bawain alat alat untuk membuat brownis," ucap Adrian seraya menunjukan paper bag isi peralatan itu.


kemudian, mereka semua mulai memasak dan Para laki laki, mulai mendudukan diri, fi kursi taman belakang, seraya menunggu para gadis untuk memasak.


persis seperti seorang suami yang menunggu masakan sang istri.


kemudian, Adrian mengambil sebuah gitar dan mulai memetikan senar gitarnya.


Skip


setelah menyanyikan lagu itu, dengan kekasih masing masing, Adrian dan Kevin, mulai mencicipi masakan yang memang sudah tersedia di deoan mereka.


"emm enak banget masakan kamu Na," puji Adrian pada sang kekasih.


membuat Sheina seketika tersenyum senang.karena masakanya, di puji oleh sang kekasih.


"kalau gitu, aku mau buatin makanan yang lain ya," ucapnya beranjak dari duduknya.


"eh, Ikut, ya aku juga mau bantu kamu memasak," ucapnya, seraya mengikuti langkah gadis itu.


dan Adrian, ikut terjun ke dapur, membuat puding kesukaanya.


setelah berkutat terlalu lama, mereka keluar dari dapur menuju teman temannya.


"ini dia, makanan penutup kita sudah jadi," ucap Sheina seraya memeragakan seperti seorang cef terkenal.


"wuah enak ini makanan kesukaan gue banget," ucap Anggun seraya menatap makanan itu.


kemudian, mereka ber empat menikmati desert itu, dengan di selingi canda tawa.


"eh, gue heran deh sama Shandy, kenapa dia seperti membenci gue banget,?" tanya Sheina dengqn wajah serius.


"ya mungkin, dia iri kali sama loe," ucap Kevin asal.


"iri kenapa ciba,?' tanya Sheina bingung.


"iyalah, sekarang ini, loe kan cantik dan pinter," ucap Anggun menimpali.


"tapi itukan bukan salah gue juga," gerutu Sheina.


tak lama, Asisten rumah tangga Sheina datang membawa cemilan yang lain.


membuat mereka, menghentikan obrolanya

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2