
Ketiga remaja itu, hanya menganggukan kepala dan mereka segera meninggalkan tempat itu untuk menuju tempat yang di tuju.
mereka semua, segera memasuki mobil. dan lantas, Om Rio segera melajukanya.
"kalian jika ingin membalaskan Dendam, gunakan ini," Om Rio menunjuk kearah botol kaca itu.
"itu apa Om,?" tanya Shandy dan di ikuti oleh Indra dan Rifky.
"ini adalah serbuk kematian," ucap Om Rio menyerigai lebar.
membuat ketiga remaja itu, bergidik ngeri mendengarnya.
"jadi, orang yang menelannya, akan merasa sa gat kesakitan tapi tenang, hal itu tak akan membuat orang itu mati," lanjut laki laki paruh baya itu.
hal itu, membuat Shandy menjadi kebingungan. " lah, katanya bisa buat orang meninggal. tapi kenapa om bilang nggak bisa,?" tanya Gadis itu yang merasa masih bingung.
"efek racun ini, membuat wajah akan menjadi lumpuh. dan jika sudah lumpuh dan jelek, tentu tidak akan ada yang mau. dan otomatis akan mati secara perlahan," jelas laki laki paruh baya itu.
mereka bertiga terlihat menganggukan kepala dan tersenyum menyerigai. " nggak sabar gue mau lihat gadis sialan itu menderita," gumamnya lirih penuh semangat.
"kamu Hanum, kamu juga harus menjalankqn peranmu dengan baik. bukankah kamu sudah menjadi guru di sana,?" tanyaOm Rio pada wanita cantik itu.
Hanum menganggukan kepala. dan tersenyum lebar." iya Om, aku memang sudah menjadi pengajar di sana. dan nanti, aku akan menjalankan rencananya," jelas Hanum tersenyum tipis.
"tapi Om bagaimana kalau Rian tau kalau aku yang menabrak istri kecilnya itu,?" tiba tiba wanita muda itu sangat gelisah.
"kamu tenang saja, bukankah kamu sudah berganti wajah,?" tanya Om Rio.
senyumnya kembali terukirdi wajah cantiknya itu. Ya. Hanum juga melakukan oprasi plastik untuk menyempurnakan aksi balas dendamnya.
awalnya, wanita itu ragu. karena bisa saja, merekamengenali Hanum dan membawanya kejalur hukum.
apalagi, ada korban meninggal di kasus itu. dan akhirnya, Hanum memutuskan untuk merubah wajah dan identitasnya.
bahkan kulit yang awalnya Putih mulus, di ubah menjadi coklat dan sedikit mengkilap. dia juga menambahkan tanda lahir di hidungnya saat oprasi plastik itu.
mereka akhirnya kembali fokus dalam fikiran dan rencanajahat masing masing. memang mereka adalah kumpulan yang sangat serasi.
*****
sementara itu, di kediamannya, Rian sudah sangat kehilangan gairah hidupnya. laki laki itu, seperti mayat hidup.
Rian begitu sangat frustasi karena belum bisa menemukan sang istri.
__ADS_1
"aku mohon, jangan hukum aku seperti ini sayang, sampai kapan, kau akan memghindar dan lari dari ku,? apakah sebenci itu, kau terhadapku,?" tanya laki laki itu.
Pak Gibran dan Bu Selvy tak tega melihat anak semata wayangnya seperti ini, bukan mereka tidak mengusahakan yang terbaik. semua usaha sudah di kerahkan.
tapi tetap saja, anak buahnya tak menemukan keberadaan Sheina.
"sayang, kau mau kemana,?' tanya Bu Selvy yang melihat anaknya berjalan ke arah lemari pakaian, dan mengganti bajunya.
"Rian mau ngajar Pah, Mah waktunya tinggal tiga bulan lagi, setelah itu, Rian akan bekerja di perusahaan keluarga kita," laki laki itu, segera menyambar kunci motornya bergegas pergi.
sepanjang perjalanan, Rian berusaha untuk tetap Fokus agar tidak menimbulkan kecelakan.
tak lama berselang, Rian telah sampai di area sekolah. dan di parkiran, laki laki itu melihat seorang guru wanita, baru saja keluar dari mobil.
dikuti oleh ketiga remaja yang membuat Rian tertegun sesaat.
"kenapa, aku merasa tidak asing ya, sama mereka,?" tanya laki laki itu dalam hati. " ah sudahlah, lama lama, bisa pecah nih kepala. karena terlalu pusing," laki laki itu, melangkah masuk ke gedung sekolahan.
"sepertinya kita berhasil," seru Hanum tersenyum licik. dan mereka semua, masuk kedalam gedung sekolah.
karena akan di perkenalkan sebagai murid baru dan juga guru baru di sana.
*****
"kak Sheina, ayo cepat Neneng sudah tidak sabar untuk ke sekolah," gadis polos itu sangat bersemangat untuk berangkat.
Sheina tetkekeh pelan saat mendapati gadis itu, mengepang ramnutnya, menjadi kuncir dua. dan tanpa polesan apapun.
"ayo" Sheina berjalan menuju ke pintu utama. dan sesampainya di depan rumahnya tiba tiba, mata gadis itu, memanas dan menitihkan air matanya.
"kak Sheina kenapa menangis,?" tanya Neneng.
Sheina hanya menggelengkan kepala dan terswnyum tipis. "gue pasti akan sangat kangen sama loe Vun. loe yang tenang ya di sana," gumam Sheina tersenyum tipis seraya mengusap air matanya.
Bu Rianti dan Pak Rayn yang melihat itu, hanya bisa tersenyum tipis dan mengelus oundak putri mereka.
"kamu yang sabar, lebih baik, kamu berangkat saja, hari ini, kan kamu pembagian kelas baru," Bu Rianti tersenyum tipis.
Sheina hanya menganggukan kepala dan segera menaiki motor kesayanganya bersama Neneng.
sebenarnya, Pak Rayn melarang keras sang putri naik roda dua lagi setelah kejadian yang hamoir merenggut nyawana itu.
tapi dengan kekeh, Sheina ngotot ingin naik motor. karena lebih cepat sampai.
__ADS_1
motor mulai melesat meninggalkan area perumahannya dan di sepanjang jalan, Neneng tak henti hentinya mengagumi gedung gedung yang me julang tinggi itu.
lima belas menit kemudian, mereka berdua telah sampai di depan gerbang sekolah. dan dengan segera, Sheina memarkirkan motornya di tempat khusus motor.
"Sheina," teriak seseorang dari belakang. membuatgadis itu menoleh karena merasa namanya di panggil.
"Anggun," Sheina tersenyum lebar dan mereka berdua, berpelukan erat.
"loe kemana aja selama dua minggu ini,?" tanya Anggun oada sahabatnya itu.
"nanti gue ceritain kalau udah jam istirahat, sskarang gue mau ke lapangan nyari nama gue di kelas apa," Sheina hendak melangkah pergi.
namu, tangan Anggun, mencegah langkahnya. " loe mggak perlu nyari. kita satu kelas fi kelas XI-D," Anggun tersenyum tipis.
"wah, akhirnya, kita bisa satu kelas juga," Sheina berbinar. karena setidaknya, dirimya ada teman yang benar benar akrab.
"emm dan katanya, kita akan. sekelad terus sampai nanti lulus," Anggun tersenyum tipis. " andai sajaasih ada Kevin," gumamnya lirih dan mengusap air matanya.
"sudahlah Nggun, gue dapet pesan dari Kevin. katanya, loe di siruh bahagia," Sheina tersenyum tipis.
"hmm gue juga sering di mimpiin dia, dan kata katanya juga sama," Anggun menghela nafas panjang.
"dia siapa,?" tanya Anggun yang baru menyadari, jika ada seorang gadis di tengah tengah mereka
"oh iya, gue sampai lupa, dia Nrneng, anaknya Bi Inem pemnantu gue dulu, dia gue ajak kesini karena di sana, tidak ada yangau menyekolahkan dia," Sheima menjelaskan. dan memperkenalkan pada sahabatnya itu.
"oh, kalau begitu kita antar saja ke ruang guru," Anggun menarik tangan sahabatnya.
Sheina terdiam sejenak dan terlihat sangat gelisah. dan hal itu, menbuat Anggun mengerti.
"nggak Papa ada gue ini," Anggun mencoba menenangkan sang sahabatnya.
mereka segera menuju ruang guru dan mengetuk pintu.
tok tok tok.
Anggun mengetuk pintu dan tak lama, ada sahutan dari dalam.
BERSAMBUNG....
jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya, berupa like coment, hadiah dan vote kalau ada.
warning!! di larang Bom Like!! jika tidak mau baca lebiih baik jangan Bom Like.
__ADS_1