
sontak saja, perkataan dari Pak Rayn itu, membuat mereka yang berada di sana, merasa sangat terkejut.
"siapa yang meninggal,?" tanya Pak Gibran menatap sang besan.
"katanya, Kevin ," ucap Bu Rianti ya g menyeka air matanya.
karena dirinya merasa sedih, jika kehilangan sosok yang negitu sangat ceria. yang beberapa bulan ini, mengisi hari hari Sheina. putrinya.
sontak saja, hal itu membuat Rian dan kedua orang tuanya, menjadi sangat terkwjut.
"ya Allah, kasian pak Diki," Bu Selvy juga ikut menyeka air matanya.
"swbaiknya, kita segera pergi dari sini, nanti hari keburu siang," Pak Rayn mencoba mengubah suasana.
"ayo pergi, nak Rian, kami titip Sheina yq," Bu Rianti mengusap kepala sang anak kemudian mengecup keningnya perlahan.
"maafkan kami, Ibu mohon, jika nanti kamu sadar, tolong Maafkan kami," wanita oaruh baya itu, berucap dengan berderai airmata.
setelahnya, semua pergi dari ruangan itu, untuk mengucapkan bela sungkawa di kediamqn Pak Diki.
dan kini, di ruangan rawat itu, hanya ada Rian dan Sheina. laki laki itu, mendekatkan wajahnya, dan dengan cepat, menempelkan benda kenyal tak bertulang itu, di kening Sheina.
"maafkan aku, ya sayang, aku melakukan ini, karena tidak ingin kehilangan kami," Rian berkata lirih. kemudian, menenggelamkan kepalanya, di sisi ranjang rumah sakit
...****************...
sementara itu, di tempat lain, tampak suasana sangat ramai dengan para pelayat. dan di sana, tampak seorang gadis, tengah memandang ke depan, dengan pandangan kosong.
"Anggun, jangan seperti ini," Bu Daisy, mencoba menyadarkan sang putri dari sikap gilanya itu.
gadis itu, hanya menoleh dan kembali menatap lurus ke depan. tak lama, Kenzo datang menghampiri gadis pujaanya itu, dan duduk di sampingnya.
"sudah tantr, lebih baik tante bantu bantu saja di belakang," Bu Daisy hanya mengangguk dan berlalu pergi.
" Anggun, kamu jangan seperti ini, Kevin nggak akan mau lohat kamu ssdih," Kenzo berkata, seraya menepuk bahu gadis itu.
"kenapa, ketika aku mulai menyayanginya, justru dia malah pergi,?" tanya gadis itu, yang kini sudah berlinang air mata.
ada rasa sakit yang menyeruak di dalam dada, saat Anggun mengatakan hal itu padanya. namun, sekuat tenaga, laki laki itu, berusaha agar tetap tenang.
__ADS_1
untuk menjaga kondisi mental gadis kesayanganya itu.
"semua ada masanya Nggun, semoga setelah ini, kamu bisa ceria kembali," Kenzo mengusap punggung gadis itu.
Anggun tertawa perih dan tersenyum miris seraya menyeka air matanya. " ceria, bagaimana bisa aku ceria, kalau sumber keceriaan aku, ada di sana," Anggun menunjuk kearah ruang tengah.
di sana, tempat Kevin terbujur kaku, di kelilingi oleh para pembaca yasin.
Kenzo tak lagi bisa menjawab, laki laki itu, menghela nafas dan berdiam diri di samping Anggun.
tak lamq, ada suara dari depan pintu. dan membuat Anggun, seketika menoleh kearah suara.
dengan cepat, Anggun berlari dan langsung menoleh kearah Bu Rianti berada. di dalam dekapan Ibu sahabatnya itu, Anggun menangis sejadi jadinya.
membuat orang orang yang berada di sana, merasa iba pada gadis itu. karena memang, walaupun Kevin dan Sheina adalah orang baru di komplek ini, tapi sikap supel dan ceria mereka, membuat sebagian warga komplek, sudah mengenal dan bahkan para bapak satpam, sudah akrab dengan mereka.
dan saat kabar ini muncul, banyak dari mereka, yang merasa kehilangan.
Bu Rianti, membawa Anggun ke taman belakan dan mereka berdua, duduk disana. dengan masih dalam posisi Anggunemeluk wanita itu.
sementara para laki laki, membantu menyiapkan semua keperluan untuk pemakaman dan acara nanti malam.
Anggun mendongak dan menatap manik teduh Bu Rianti. " apa Anggun bisa bahagia setelah kepergian Kevin,?" tanya Gadis itu, dengan manik berkaca kaca.
"harus itu sayang," bukan Bu Rianti yang menjawab. melainkan Bu Daisy. Ibu kandung Anggun yang menjawabnya.
wanita itu, berjalan sembari membawa minum untuk Anggun dan Bu Rianti.
"tapi, bagaimana Anggun ingin senyum, kalau orang yang membuat senyuman itu, telah hi-lang,?" tanya gadis itu, di sela sela tangisnya.
"sudah jangan menangis lagi ya, kamu harus kuat, karena hanya kamu yang bisa menguatkan Sheina nanti," ucap Bu Rianti.
sontak saja, hal itu, membuat gadis dengan rambut coklat itu, mengerutkabn alisnya." maksudnya Bu," Anggun yang masih tidak mengerti.
"She-Sheina telah menikah dengan Rian pa-pagi tadi," Ucapan dari Bu Rianti itu, membuat Anggun membulatkan matanya.
"apa,?!" ucapnya berteriak dan mengfelengkan kepalanya, karena tidak percaya.
"kenapa Bu, kenapa bisa,?" tanya gadis itu. seraya menatap wanita paruh baya di sampingnya dengan seksama.
__ADS_1
begitupun, dengan Ibu Daisy, wanita itupun tak kalah terkejut dari sang putri.
dengan menghela nafas panjang, wanita paruh baya itu, segera menceritan semua pada sahabat putrinya itu.
"Ibu terpaksa melakukan itu Anggun, karena saat itu hanya Rian yang memiliki darah yang sama dengan Sheina," Bu Rianti, mengusap air matanya.
"Bu, kenapa Ibu nggak bilang sama Anggun, darah Shrina, dan Anggun itu sama," Anggun berucap seraya mengusap air matanya.
membayangkan betapa malangnya nasib sahabatnya itu, karena harus menikah, dengan orang seperti Rian. orang, yang hanya memandang swseorang, dari luarnya saja.
"maksud kamu apa Nggun,?" tanya Bu Rianti yang memang tidak mengerti. dan menatap gadis itu.
"iya bu, darah kami sama," ucap Anggun menganggukan kepala.
mereka memang, memiliki golongan darah yang sama. itu mereka ketahui, saat keduanya, tengah betada di sebuah aksi donor darah.
sontak saja, hal itu membuat Bu Rianti tertegun sesaat. kemudian wanita paruh baya itu, tersenyum tipis.
"bagaimana Ibu bisa bilang sama kamu nak, kamu pada saat itu, sedang berduka," Bu Rianti mengusap kepala Anggun dengan lembut.
Anggun menundukan kepalanya, seraya menyeka air matanya. " maafkan aku Bu, " Anggun begitu sedih karena tidak bisa, menolong sahabatnya itu.
"sudahlah, mungkin ini memang, sudah menjadi kehendak yqng diatas," Bu Rianti terswnyum manis.
tak lama berselang, acara oemakaman itupun di lakukan dan Anggun kembali menangis sesenggukan di atas pusaran laki laki itu.
"kamu tenang saja ya Vin, aku akan berusaha tetap setia," ucapmya, sembari mengusap batu nisan itu.
Oak Agung yang berada di samping putrinya pun, ikut dudukdan menaburkan bunga.
"kalian tenang saja, Papa janji, akan segera menemukan pelaku penabrakan itu," Pak Agung berbicara pada Anggun dqn ikut mengusap pusaran Kevin.
"temukan pelakunya Pah, dan temukan ini juga," Anggun mebyerahkan rekaman video sebelum kejadian naas itu terjadi.
Pak Agung segera menghubungi anak buahnya, begitu selesai memutar rekanan itu.
BERSAMBUNG.
Nb: mampir juga ya kak, di karya kak santi Suki judulnya Duda VS ANAK PERAWA
__ADS_1