
Anggun yang terharu melihat anak anak sahabatnya begitu sehat dan sepertinya sangat kuat, tak kuasa menahan tangis harunya.
"selamat ya Pak Rian, anda telah resmi menjadi seorang Ayah," ucap Anggun tersenyum tipis.
"terimakasih Nggun, semoga persalinanmu juga akan berjalan dengan lancar," sahut Rian dengan masih menggendong bayinya.
tak lama, suara brankar di dorong menuju pintu luar dan semua orang, menatap pintu yang terbuka.
"sayang, akhirnya kamu bisa melahirkan anak anak kita dengan selamat," Rian menggenggam tangan sang istri.
tak lama berselang, brankar mulai di dorong menuju ruang rawat VVIP yang paling mahal.di rumah sakit itu.
Rian senantiasa menunggu di samping sang istri. sementara Bu Rianti, masih sangat kesal pada menantunya itu.
"sudahlah Bu, semua telah terjadi dan Sheina sekarang, telah menjadi seorang Ibu," Pak Rayn mencoba menenangkan sang istri.
Bu Rianti perlahan lahan, mulai bisa mengatur emosinya dan mencoba iklas dengan cobaan yang ada.
aementara itu, di dalam ruangan Kenzo tampak menepuk pundak Rian. membuat si empunya menoleh.
"kita perlu bicara," terangnya seraya melangkah pergi. dan di ikuti oleh Rian.
"ada apa,?" tanya Rian saat mereka menuju tempat yang dirasa aman.
"kita sudah mendapatkan para pelakunya," Kenzo berkata dengan nada terdengar berat.
dengan cepat, Rian menoleh dan menatap laki laki di sampingnya dengan mata elangnya. " siapa,?" tanya laki laki itu dengan nada memburu.
" dia adalah Hanum, dan ketiga muridmu itu," terang Kenzo.
seketika itu juga, mata Rian menatap penuh amarah." kenapa kita tidak pernah curiga dari awal?" tamya Rian tertawa tanpa suara.
dirinya merasa bodoh karena selama ini di bodohi oleh ke tiga manusia jahanam itu.
"kita kesana sekarang," ucapnya dengan mata penuh dengan amarah. Kenzo yang mendengarnya, mengangguk dan mengikuti langkah lebar Rian.
"sayang, Mas pergi dulu ya, semoga kamu cepat sadar," Rian mengecup kening istrinya dengan sayang.
kemudian, beralih mengecup tangan yang sedikit dingin itu. kemudian, menempelkan di wajahnya. terlihat, Rian begitu menyayangi sang istri.
"Mas mau kemana,?" tanya Anggun yang kini menatap sang suami.
"kamu tenang saja ya, semua akan baik baik saja," Kenzo mengusap kepala sang istri.
__ADS_1
merekq berdua, segera bergegas menuju tempat yang di tuju. nafas Rian yang mendadak memburu membayangkan penderitaan yang di alami sang istri selama ini.
tak lama, mereka berdua, telah sampai di kantor polisi.
dengan segera, kedua laki laki itu segera memasuki kantor polisi itu.
"tenangkan dirimu," Kenzo tampak menenangkan dan mengingatkan Rian. karena Rian jika ssdang emosi, tak pernah bisa mengontrol dirinya.
"tidak yakin," laki laki itu ssgera masuk ke dalam, meninggalkan Kenzo yang masih ada di pelataran kantor polisi.
Rian segera menghampiri petugas penjaga, dan mengatakan ingin bertemu dengan Hanum. dan tak berapa lama, wanita itu di bawa dengan tangan di borgol.
"kau memang sungguh biadab!!" teriak Rian menggebu gebu.
darahnya seakan naik ke ubun ubun saat melihat perempuan jahanam itu.
namun, Hanum tak merasa bersalah ssdikitpun. wanita itu malah tertawa terbahak bahak. " hahaha, kau tidak akan pernah bahagia Rian," tawanya menggema.
Rian yang mendengarnya, tersenyum sinis." kau salah Hanum, karena istri saya selamat," ucapnya tersenyum bangga.
hal itu, berhasil membuat Hanum membulatkan matanya." itu tidak mungkin " teriaknya histeris.
hal itu membuat Rian semakin tertawa lebar. seakan ada kesenangan tersendiri saat melihat wanita licik itu hiateris seperti itu.
disana, telah terekam semuanya mulai dari Sheina melahirkan, hingga Sheina sedang terbaring melewati masa kritisnya.
"tidak !! itu tidak mungkin!!" teriaknya semakin histris saja."aku pastikan, kalian akan mati!!" teriaknya lantang.
sementara Rian, laki laki itu melenggang meninggalkan tempat itu menuju rumah sakit. tiba tiba saja,ponselnya berdering.
Rian melihat sejenak melihat kearah layar ponsel dan terdapat nama sang Mama di sana.
"halo Mah, ada apa,?" tanya Rian. laki laki itu, mendadak tegang. takut jika istri kecilnya kenapa napa.
"Rian, istrimu telah sadar," Bu Selvy berkata dengan suara bergetar menahan tangis.
"baik Mah, Rian akan segera menuju rumah sakit," Rian berkata, dengan raut wajah sangat bahagia. karena akhirnya, sang istri bisa sadar juga.
dengan segera, Rian dan Kenzo, memasuki mobil dan segera melesat kearah Rumah sakit.
tak lama, mereka segera turun dan segeea masuk ke ruang VVIP ".sayang, kamu telah sadar,?" tanya laki laki itu dengan perasaan bahagia.
Sheina hanya mengangguk dan terswnyum tipis. namun tiba tiba, raur wajah Sheina berubah saat menyadari, perutnya telah kempes.
__ADS_1
"Mas, anak anak aku mana,?" tanya Sheina panik. Rian yang mendengarnya, tersenyum dan menggenggam tangan sang istri.
"tenang sayang, mereka telah berada di ruang bayi, " ucapnya seraya menggenggam tangan itu.
Sheina segera bernafas dengan lega dan membalas senyuman sang suami.
"duh sweetnya, " ucap Anggun membuat Sheina ssgera menoleh.
" eh Bumil, apa kabar, udah hampir enam bulan nggak ketemu," Sheina menarik tangan Anggun.
"baik Sheina, loe juga udah jadi Ibu sekarang," Anggun membalasan senyuman sahabatnya.
tak lama berselang, pintu ruang rawat terbuka dan menampilkan seorang Dokter dengan seorang suster yang mendorong dua box bayi.
Sheina yang melihatnya tersenyum tipis melihat dua bok bayi itu
"anak anakku, " ucapnya lirih.
kemudian, Dokter Oky segera menyerahkan bayi laki laki untuk segera di susui. sementara bayi perempuan, berada di gendong oleh Rian.
"silahkan di susui dulu Nyonya," Dokter Oky segera menyerahkan bayi laki laki.
"Mas, aku udah jadi Bunda,"seru Sheina dengan mata berkaca kaca.
Rian yang mendengarnya, tersenyum tipis dan beberapa kali, mengecup kepala sang istri
Bersambung.......
Nb: mampir di karya baru Author yuk judulnya, : One Night Stand With Teacher.
blurb.
"ayo Masuk, kita senang senang di dalam," seorang gadis dengan alis tebal, tengah menarik tangan gadis cantik bermata biru dan berkulit putih, untuk masuk kedalam bangunan Diskotik.
mereka berdua, berjalan memasuki ruangan yang menyuguhkan musik yang memekkan telinga. dan juga,sorot dari lampu disko yang menggoda iman.
mereka berdua, masuk ke dalam, dan bergabung dengan teman teman yang lain. dan kedatangan mereka, disambut baik oleh seluruh teman temannya.
"Maira, yaampun, loe cantik banget sih malam ini, udah kayak model," seru salah satu dari mereka dengan tatapan mendamba dan memuja.
"ish paan sih," ucapnya mendegus kesal. gadis itu tidak menyukai yang namanya berlebihan. bahkan, untuk tempat tinggalpun, Maira levih menyukai tinggal di rumah sederhana daripada tinggal di rumah orang tuanya yang merupakan, seorang pengusaha.
__ADS_1