
Bu Selvy yang melihat pemandangan di sana, segera menghampiri putranya.
"cepat kamu ganti jasmu dengan warna putih," ucap Bu Selvy.
Rian hanya mengangguk dan tersenyum pada sang Mama.
Bu Selvy hanya menganggukan kepala . dan menghampiri Sheina yang masih saja terpukau dengan pemqndangan itu.
"Sheina, sekarang kamu ganti dengan gaun ini ya," Bu Selvy menyerahkan sebuah gaun yang sangat indah di sana.
membuat gadis itu, seakan terhipnotis dwngan penampakan gaun itu.
"bagus sekali gaunnya tante," Sheina mengambil gaun itu dan meletqkan di depan tubuhnya.
"cantik dan serasi," Bu Selvy tersenyum senang.
Sheina hanya menganggukan kepala, dan berlalu pergi dengan membawa gaun itu.
"semoga, kamu tidak akan pernah marah, jika tau yang sebenarnya," gumam Bu Selvy dengan lirih.
...----------------...
sementara itu, Sheina yang berada di ruang rias, sedang di rias oleh salah satu MUA ternama di kota itu.
Rian, sengaja mwngundang orang itu, untuk memoles Sheina. dan mengatakan, jika mereka akan mengadakan acara pertunangan.
"perfect sekali," seru si perias. Sheina menatap pantulan dirinya yang berada di cermin besar itu.
"ini aku,?" tanya Sheina setengah tak percaya.
"iyalah, ini Mbaknya, gimana keren bukan,?" tanya Mbak peeias lagi.
Sheina hanya menganggukan kepala. kemudian, gadis itu keluar dari kamar itu. dan bertepatan, dengan Rian yang juga baru selesai di make over.
eits sebenarnya, bukan baru selesai tapi memang, Rian menunggu gadis itu dari tadi dan berpura pura di dalam kamar itu.
sesaat mereka bertemu,Rian sangat terpana dengan penampilan gadis itu.
"cantik sekali," gumamnya tanpa berkedip. membuat Shrina yang merasa risih karena di tatap memilih berlalu pergi dari sana.
Bu Selvy yang melihat kedua anak muda itu keluar dari dalam rumah make over itu, tersenyum penuh makna.
"andai saja, hal ini terjadi di antara kalian dalam kesadaran penuh, pasti akan sangat membahagiakan bagi Mama," Bu Selvy mengusap air matanya yang hampir terjatuh.
"wah, kamu memang sangat cantik Sheina," puji Bu Selvy pada gadis itu.
Sheina yang mendengarnya, hanya bisa tersenyum simpul saja.
kemudian, Rian dan Sheina samasama menuju taman berbunga dan segera memulai fotoShootnya.
"mbaknya dan masnya yang natural ya," pesan Mas mas fotografer.
Sheina hanya menurut dan mengikuti arahan yang di berikan tanpa merasa curiga swdikitpun.
sementara Rian, laki laki itu, tersenyum dengan penuh kemenangan.
__ADS_1
"sekarang, masnya tiduran di pangkuan mbaknya," titah sang potografer.
Rian dengan patuh, menurut dan mulai merebahkan kepalanya, di pangkuan Sheina.
sebenarnya, Sheina hendak menolak dan menjauhkan tubuhnya.
karena jujur saja, gadis itu merasa risih dengan apa yang di lakukan laki laki itu. namun, Sheina bersikap seprofesional mungkin.
setelah beberapa lama, posenya pun, berubah. dan kini, Sheina yang meletakan kepalanya di paha Rian.
"mas, iini masak poaenya harus seperti ini,?" tanya Sheina.
si mas fotografer, hanya menganggukan kepala. karena memang, ini adalah permintaan dari laki laki itu.
membuat Sheina dengan pasrah menurut dan mulai membaringkan krpalanya.
"senyum dan tatap mata masnya mbak," ucap kang foto.
dengan perlahan, Sheina menatap dan tersenyum pada laki laki itu. dan dengan senang hati, Rian membalas tatapan dan senyiman manis gadis yang ia cintai.
"bagus, setelah itu, kita pindah di bawah pohon sana ya, dengan pose, masnya menggendong mbaknya," ucap Kang foto grafer.
Sheina, swbenatnya sedikit merasa aneh dengan foto ini. bukannya seharusnya mereka hanya berfoto soal gaun ya, tapi kenapa posenya seperti ini, fikir Sheina.
tapi, Sheina yang memang tak mengerti hal seperti itu, hanya mengabaikan fikiran itu
Sheina terlebih dulu, masuk ke ruang ganti untik mengganti pakaiannya dan mencuci wajahnya.
karena sangat tidak mungkin ia ke kedai seblak dengah keadaan seperti ini.
karena sebenarnya, Sheina sangat tidak menyukai make up.
setelah dirinya selesai, Sheina segera keluar dari ruang ganti.
dan tak lama, Sheina melihat Bu Selvy keluar dari sebuah ruangan.
"maaf tante, apakah acaranya sudah selesai,?" tanya Sheina beranjakdari duduknya.
Bu Selvy hanya menganggukan kepala pada gadis di hadapannya itu.
"kalau begitu, saya pamit ya tante," ucap Sheina tersenyum cerah.
"kamu pulang dengan siapa,?" tanya Bu Selvy lembut.
"saya di jemput pacar saya tante," ucap Sheina tersenyum tipis.
Bu Selvy yang mendengarnya, hanya bisa tersenyum kecut..
tak lama, sebuah motor, berhenti tepat di depan gadis itu.
Sheina yang menyadari itu, langsung mengjmpiri dan duduk di jok belakang.
__ADS_1
dan dengan cepat, Adrian melesatkan motornya, menjauh dari tempat itu.
Bu Selvy yang melihat itu, hanya bisa menatap sendu.
" semoga, ini yang terbaik," gumamnya berlalu pergi.
Dan pemandangan itu, terlihat oleh Rian. laki laki itu, tampak sekali bila sedang marah.
dengan gerakan cepat, Rian mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"kau cetak foto yang sudah aku kirim. buat sebesar mungkin dan setelah jadi, kau pajang di rumahku yang baru aku beli kemarin sore," titahnya.
kemudian, Rian bergegas menghampiri sang Mama yang berada di taman.
"Mah, Rian pamit dulu, ada urusan yang harus di urus," ucapnya seraya berlalu pergi.
Bu Selvy hanya bisa menganggukan kepala dan memandangi punggung sang anak yang telah menghilang di dalam mobil.
"maafkan aku ya Allah, bahkan aku yang sebagai Mamanya saja tidak bisa melarangnya," ucap Bu Selvy seraya mengusap air matanya.
...****************...
sementara itu, Adrian dan Sheina tampak begitu bahagia. dengan sesekali, mereka mengobrol dan saling melempar canda tawa.
"jadi, tadi kamu melakukan foto shot berapa kali,?" tanya Adrian seraya menoleh ke belakang.
"emm kayaknya empat kali," ucap Sheina seraya mengeratkan pelukannya.
"loh, kok kayaknya,?" tanya Adrian merasa heran.
"emm nggak tau ah, lupa lagian aku nggak berminat sama sekali Ian," ucap Sheina membuang muka.
karena memang, gadis itu tak menginginkan fotoshoot tersebut.
Adrian yang mendengar itu, hanya bisa tersenyum tipis.
tak lama, mereka berdua, telah sampai di swbuah kedai seblak.
"yuk masuk, " ucap Sheina yang sudah berada di depan kedai tersebut.
Anggun dan yang lain, hanya bisa mengikuti arah gadis itu.
"kita duduk di sana saja," ucap Sheina saat melihat ada bangku yang masih kosong.
"mau pesen yang level berapa,?" tanya si mbak mbak pelayan.
"aku seblak yang paling pedas," seru Sheina bersemangat.
"saya samain aja sama dia mbak, tapi levelnya di kurangi sedikit," ucap Adrian pada pelayan itu.
"kami juga sama mbak, tapi yang original," ucap Anggun.
sontak saja, Sheina yang mendengar itu, mengerutkan keningnya karena heran.
BERSAMBUNG....
__ADS_1