
membuat Anggun tak bisa berbuat apa apa dan menurut atas keinginan aahabatnya itu.
mereka kini sedang berbahagia dan sesekali bercanda bersama. terutama, Sheina Kevin dan Anggun. mereka srperti seorang anak kecil yang terlalu asyik dengan dunianya. hingga tak menyadari di sekitar.
membuat Kenzo semakin frustrasi. semakin hari, semakin kuat perasaan yang ia miliki untuk gadis yang beberapa tahun, menjadi adiknya itu.
hingga di tengah suasana hiruk pikuk tawa ketiga remaja itu, terdengar suara dari depan rumahnya.
dengan segera, bu Rianti melangkah ingin membuka pintu.
"bu, mau ke mana,? " tanya Sheina saat melihat ibunya berdiri.
"itu, seperti ada suara bel berbunyi, ibu mau buka pintu dulu, " ucap Bu Rianti mengayunkan langkah menuju arah depan.
tak lama, bu Rianti datang dengan tiga orang di belakangnya. membuat semua orang menoleh dan mendapati Rian bersama orang tuanya.
"assalamu'alaikum, " ucap Rian pada orang yang berada di sana.
"wa'alaikum salam, " ucap semua orang termasuk Sheina.
Sheina tertegun sesaat melihat sosok di depan matanya itu. namun dengan cepat, pandangan itu segera di alihkan.
Sheinapun kembali bercengkerama dengan kedua sahabatnya itu dan sesekali tertawa lepas saat mendengar celotehan Kevin.
"Kevin, udah gue sakit perut woy haha, " ucap Anggun seraya memukul lengan laki laki itu.
"eh serius tau gue ngga bohong, " ucapnya seraya menunjukan dua jarinya.
"terus loe gimana,?" tanya Sheina yang penasaran.
"ya gue mewek lah, baru juga empat tahun, udah di kejar soang aja, " ucap Kevin menggerutu
membuat Sheina dan Anggun kompak tertawa puas.
sementara Rian dan kedua orang tuanya begabung dengan orang dewasa yang ada di sana.
"pak, bu kami minta maaf atas perlakuan anak kami, " ucap Pak Gibran pada kedua orang tua Sheina.
begitupun dengan Bu Selvy yang juga meminta maaf atas perlakuan putranya.
membuat pak Reno menghela nafas panjang. karena sebenarnya, pak Reno belum sepenuhnya memaafkan kelakuan guru baru tersebut.
sementara itu, kedua orang tua Sheina hanya bisa terdiam mendengar permintaan maaf pada kedua orang tua Rian itu.
mereka terlihat sangat tulus dengan kata katanya itu. membuat mereka akhirnya sepakat untuk memaafkan Rian.
"kami berdua sudah memaafkan Rian Pak Bu, " ucap Pak Rayn pada kedua orang tua itu.
__ADS_1
"alhamdulillah, " ucap Pak Gibran dan bu Selvy secara bersamaan membuat Rian yang mendengarnya pun ikut tersenyum.
"terima kasih atas keikhlasan hati kalian untuk memaafkan kesalahan anak kami." ucap Bu Selvy.
"dan kami kemari untuk meminang putri kalian, " ucap Pak Gibran.
membuat semua orang terkejut. terutama Sheina. gadis itu, hampir tersedak oleh sosis bakar yang ia makan.
"bagaimana bisa pak bu, anak kami masih sekolah dan masih kelas satu SMA, " ucap Pak Rayn tak percaya.
"tenang saja, pak bu, kami hanya melamar secara pribadi bukan secara resmi, " ucap Pak Gibran tersenyum.
"saya hanya mengikat Sheina secara pribadi pak bu, sudah cukup saya merasa tertekan selama ini, karena rasa bersalah saya, " ucap Rian menunduk
memang benar kata pepetah Anak Polah, Wong tuo kepradah. artinya, anak berulah, orang tua yang menanggung.
"tapi, saya menyerahkan semua keputusan ada di Sheina, " ucap Pak Rayn seraya melirik putri kesayangannya itu.
bahkan Kenzo dan Rizalpun sudah tercengang dengan penuturan lelaki di samping mereka itu.
"gila sih langsung ngelamar woy, " bisik Rizal pada Kenzo, " cemen banget sih, loe nggak mau gitu ngalamar juga,? " tanya Rizal menggoda Kenzo.
sementara Sheina hanya bisa terperanjat kaget mendengar semua itu.
Kaget karena mendapati kenyataan jika, Rian ternyata adalah tetangga rumahnya. ditambah dengan lamaran dadakan ini, bagaimana dirinya harus bersikap.
"maaf semuanya, tapi saya tak memiliki alasan untuk menerima lamaran ini, apalagi saya masih punya banyak mimpi yang harus saya raih, jadi mohon maaf sekali, saya menolak lamaran Pak Rian, " ucap Sheina dengan kata tegas dan melangkah menuju rumahnya dengan terburu buru.
meninggalkan semua orang yang berada di sana. Sheina masuk kedalam kamar dan langsung berhampur di kasurnya.
"ini gila, " ucapnya seraya memukul bantal guling miliknya.
sementara di belakang rumah, semua orang masih tercengang dengan reaksi Sheina.
Anggun bangkit dari duduknya dan menatap tajam kearah Rian dsn tersenyum sinis.
"benar kan apa yang saya katakan dulu, orang yang anda hina, akan menjadi orang yang anda kagumi, bahkan anda menggilainya, " ucap Anggun melangkah pergi.
meninggalkan halaman belakang menuju dalam rumah. menyusul Sheina.
tok tok tok
suara pintu di ketuk dari depan kamar Sheina. membuat gadis itu mendongak.
"Sheina, ini gue, " ucap Anggun dari balik pintu.
mrmbuat Sheina segera bangkit dan membuka pintu. ia sedikit celingukan untuk memastikan bahwa tidak ada orang lain selain Anggun.
__ADS_1
"masuk, " ucsp Sheina seraya menarik tangan Anggun.
setelah mereka berdua masuk, mereka sama-sama terdiam dengan fikiran masing masing.
"ini gila, " ucap mereka serempak dan langsung saling menatap setelah mengucapkan kata itu.
"cie yang di lamar, " ucap Anggun menggoda Sheina. dengan reflek, Sheina segera memukul lengan sahabatnya itu.
membuat Anggun hanya bisa meringis ksrena pukulan dari gadis itu.
"idih amit amit, " ucapnya bergidik jijik dan membuat Anggun tergelak.
tak lama, terdengar suara seseorang, memanggil nama Anggun. membuat gadis cantik itu, segera keluar dari kamar Sheina.
dan ternyata, di depan sana, sudah terlihat Mama Anggun yang sepertinya, sedang menunggu dirinya.
"Mah, kenapa,? " tanya Anggun saat sudah berada di hadapan sang mamah.
"ayo pulang, ini sudah malam, besok kamu kan harus sekolah, " ucap Bu Daisy mengajak anaknya pulang.
Anggun hanya mengangguk dan menurut saat sang mama menggandeng tanganya.
sementara Kevin sudah kembali kerumahnya yang memang tak jauh dari rumah Sheina.
begitupun dengan Rian dan keluarganya, yang juga sudah kembali kerumahnya.
setelah semua pergi, Bu Rianti mengetuk pimtu kamar anaknya.r
"sayang, kamu sudah tidur,? " tanya bu Rianti.
"belum bu, ada apa,? " tanya Sheina dari dalam kamar.
Bu Rianti segera masuk kekamar anaknya. dan kendapati, Sheina sedang berkutat dengan buku dan pensilnya.
"sayang, sedang apa,? " tanya Bu Rianti seraya mengelus rambut anaknya.
"lagi mengerjakan tugas bu, kenapa,? "tanya Sheina.
Bu Rianti hanya menggelengkan kepala. seraya tersenyum.
"nggak papa sayang, ibu hanya ingin mengatakan, jika membenci seseorang jangan berlebihan, bisa jadi, orang itu yang akan kamu butuhkan nanti, " ucap Bu Rianti.
membuat Sheina segera menghentikan aktivitasnya dan memandang sejenak wajah sang ibu dengan seksama..
"bu, apa ini ada hubungannya sama hal tadi,? " tanya Sheina.
BERSAMBUNG......
__ADS_1