
selesai ulangan, semua siswa keluar dari kelasnya untuk makan siag. karena bertepatan dengan jam istirahat.
" Sheina, tunggu sebentar," tiba tiba, Rian berkata dengwn formal. dan mau tidak mau, Sheina menurutinya.
"ada apa Pak,?" tanya gadis itu dengan nada datarnya.
hal itu membuat Rian sedikit ter kejut. karena setelah sekian lama, Sheina tidak bermuka datar, hari ini gadis itu menggunakan ekspresi datarnya.
"tolong, bawakan buku ini ke meja saya," perintahnya pada Sheina. gadis itu hanya menurut saja dan hendak mengambil tumpukan kertas di atas meja itu.
namun, hal.itu di urungkan saat ada salah satu siswa yang bernama Adly yang menawqrkan diri.
sehingga, Sheina bisa bernafas lega. entah mengapa, gadis itu merasa sangat malas berhadapan dengan guru sekaligus suaminya itu.
"makasih ya Dly," gumamnya seraya tersenyum tipis pada laki laki itu.
dan senyuman itu, di balas oleh laki laki itu. dan hal.itu pula yang berhasil membuat Rian yamg berada di sana, sedikit ketakutan.
takut jika sang istri kembsli pergi meninggalkanya. dengan cepat, laki laki itu memanggil Sheina.
"tidak usah, biar saja Sheina yang membantu saya " Rian berkata dengan nada tegasnya. sehinggaau tidak mau, gafis itu segera mengambil dan membawanya ke ruang guru.
seperti Djavu, Rian melihat, sang istri yang hanya terdiam dan mengikuti langkah kakinya.
"bagaimana dengan ulanganmu,?" tanya Rian berusaha mencairkan suasana. Sheina yang mendengarnya, hanya terdiam.
gadis itu segera melangkahkan kakinya menuju ruang guru, saat melihst pak Andy juga akan melangkah e sana.
"Pak, tunggu," ucap Sheina memanggil guru Kimianya itu. Pak Andy yang merasa di panggilpun menoleh.
"ada apa Sheina,?" tanya laki laki berkaca mata itu.
Sheina hanya tersenyum tipis dan mensejajarkan langkahnya. mereka tampak akrab dengan saling melempar senyum dan sesekali bercanda.
hal itu membuat Rian sedikit tidak nyaman. apalagi, dirinya dan Sheina ada masalah. hal itu membuat Rian sedikit meradang.
hingga tak terasa, mereka bertiga telah sampai di ruang guru. Sheina segera meletakanya ke atas meja Rian.
setelahnya, Sheina bergegas pamit pada guru guru yang berada di sana. sementara Rian, menatap punggung istr kecilnya dengan tatapan sendunya.
*****
sementara itu, Sheina yang sedang menyusuri koridor sekolah seorang diripun, berkali kali menghela nafasnya panjang. dan tiba tiba,...
brug.
__ADS_1
Sheina di dorong oleh seseorang yang membuatnya seketika terjatuh dengan posisi terduduk.
"awh sakit sekali," rintihnya. dan tak berselang lama, ada langkah kaki yang mendekat ke arahnya. hal itu membuat Sheina seketika menoleh.
dan mendapati, Adrian tengah berlari ke arahnya. "Na. kamu nggak papa," Adrian segera berjongkok dan melihat gadis pujaanya itu dari dekat.
Adrian hanya memastikan, jika gadis pujaanya itu baik baik saja.
"sakit Ian," rintihnya seraya sesekali mengusap air matanya.
dengan segera, Adrian segera mengangkat tubuh mantan kekasihnya itu menuju uks.
semua siswa menatap ke dua orang itu dengan berbagai ekspresi.
tiba tiba, Anggun datang menghampiri Adrian dan Sheina. "ada apa,?" tanya gadis itu pelan.
"Sheina baru saja terjatuh," ucapnya seraya hendak melangkah pergi.
namun, langkahnya segera di tahan oleh suara bariton dari belakang. " hentikan!!" sentaknya. kemudian segera mengambil alih dari gendongan Adrian.
siapa lagi jika bukan Rian orangnya. laki laki itu sedari tadi, hanya memperhatikan dua mantan kekasih itu dari jauh.
Rian segera membawa gadis pujaannya itu kedalam mobil dan melajukanya. semua siawa menatap kejadian itu dengan bingung.
sementara Adrian dan Anggun, hanya bisa menghela nafasnya. seraya berharap, gadis itu tidak terjadi apa apa.
****
"apa masih sakit,?" tanya Rian seraya menyrntuh perut rata Sheina.
sementara Sheina yang menyadarinya, hanya mengangguk pelan. lantas, Rian segera melajukan mobilnya. menambahkan kecepatan mobilnya.
tak lama kemudian, mereka telah sampai di rumah sakit dan dengan segera, Rian menggendong sang istri.
"Dokter!! suster!" teriaknya. dan tak lama, seorang Dokter dan dua orang perawat, datang menghampirinya.
fan dengan segera, langsung membawa Sheina ke ruang ICU untuk segera mendapatkan perawatan.
sementara itu, Rian yang betada di kursi tunggu, tak henti hentinya menyalahkan dirinya sendiri.
"bodoh," ucapnya seraya memukul kepalanya sendiri. dengan segera, Rian merogoh saku celananya, untuk mengambil benda pipih itu.
tut tut tur.
terdengar ponsel ssdang menyambung tak berapa lama, terdengar sambungan yang terangkat dari seberang sana.
__ADS_1
"halo assalamu'alaikum nak," terdengar suara Bu Rianti dari seberang sana.
hening...
untuk beberapa saat, suana menjadi sangat hening. Rian tak tau bagaimana cara untuk menyamoaikan hal ini pada mertuanya.
"ada apa nak,?" tanya Bu Rianti yang mendadak felingnya menjadi tidak enak.
"Sheina masuk rumah sakit Bu," ucapnya seraya menahan nafasnya.
"apa,?! kenapa bisa,?" tanya wanita paruh baya itu dengan nada bergetar.
Rian dapat menaksirkan, jika mertuanya kini, sedang menahan tangis.
"Bu, tensngkan diri Ibu, sekarang, Sheina sedang berada di rumah sakit dsn ssdang di tangani Dokter. " Rian mencoba menenangkan Ibu mertuanya yang sepertinya sedang Syok.
"sekarang, kalian ada di rumah sakit mana,?"tanya wanita itu.
"sekarang, kami ada di rumah sakit pelita," jawabnya dengan cepat. " Bu, bisa tolong kabari Mamah,?" tanya laki laki itu dengan sedikit sungkan.
bukan tidak mau memberitahu secara langsung, tapi memang, Mamahnya itu mengalami panik berlebihan jika mendapatkan kabar kurang baik.
tak lama, pintu ruang ICU terbuka dan mendapati seorang Dokter muda tengah berjalan ke arahnya.
"bagaimana keadaanya Dok,?", tanya laki laki itu yang langsung berdiri.
"pasien mengalami pendarahan akibat benturan itu dsn mengharuskan untuk badrest selama dua minggu," ucapnya dengan senyum kecil.
Rian yang mendengarnya, meraup wajahnya dengan kedua tanganya.
ini semua terjadi karenanya. jika bukan karena dirinya yang emosi, maka Sheina tak akan menghindarinya.
"Rian, bagaimana keadaan Sheina,?" tanya seseorang yang membuat Rian segera mendongak dan mendapati Ibu Mertuanya dan sang Mama sudah berdiri di hadapanya.
"maafkan Rian Mah, Bu," Rian berkata penuh dengwn penyesalan. sementara kedua wanita paruh baya itu, saling pandang.
"coba kamu ceritakan sama kami,?” pinta Bu Rianti yang di angguki oleh Bu Selvy.
dan dengan cepat, Rian menceritakan semua yang mereka alami. Bu Rianti dan Bu Selvy yang mendengarnya, hanya bisa saling pandang.
"Maafkan Rian Bu Mah, Rian lepas kendali," ucapnya penuh sesal.
"kamu tau Nak, wanita yang pernah bersikap acuh itu, akan bersikap lebih acuh, jika hatinya kembali terluka," Bu Selvy berkata dengan sangat lembut. namun, penuh dengan ancaman.
Rian yang mendengarnya, hanya bisa mengangguk
__ADS_1
Bersambung....