
Kevin hanya menurut saat Anggun menarik tanganya .
bahkan laki laki itu, tak menyadari, jika kini dirinya sudah dudik di sofa ruang tamu.
"Vin, loe kenapa,?" tanya Anggun seraya menepuk bahu laki laki itu.
"rh, enggak papa kok Nggun," ucap Kevin tersenyum.
"gimana ini,? gimana kalau orang tuanya, ngelarang gue, deket sama Anggun, karena perbedaan status,?" tanya Kevin dalam hati.
membuat Anggun yang menyadari perubahan dari Kevin, menjadi bingung sendiri.
"kenapa ini anak,? apa marah gara gara aku cuekin tadi di rumah Sheina.,?" gumamnya bertanya sendiri dalam hatinyq.
"ayo diminum nak Kevin,?" ucap Pak Agung pada laki laki itu.
membuat Kevin, seketika gelagapan karena baru menyadari jika di ruangan itu, hanya ada dirinya dan Papahnya Anggun.
sehingga, membuat laki laki itu, celingukan mencari Anggun.
"kamu mencari Anggun ya,?" tanya Pak Angung.
"eh, iya om," ucapnya sedikit gugup.
"kamu, sudah berapa lama pacaran sama anak saya" tanya Pak Agung secara tiba tiba.
gluk
membuat Kevin, dengan susah payah, menelan salivanya.
"eh itu, anu," Kuvin seakan sulit untuk menjelaskan semuanya. bahkan, suara dirinya seperti tercekat di tenggorokannya.
"sudah bicara saja, saya tidak apa apa," ucap Pak Agung. seakan memahami kegugupan Kevin.
"i-iya," ucapnya sedikit gagap. membuat laki laki paruh naya itu, menarik biburnya, membentuk senyuman tipis.
"kenapa kamu sepertinya, takut sekali dengan saya, apakah saya, semenyeramkan itu,? "tanya Pak Agung.
dengan cepat, Kevin menggelengkan kepala. membuatPak Agung, semakin tergelitik. rasanya, laki laki itu, ingin sekali tertawa. tapi ia tahan karena tak ingin membuat anakmuda itu semakin malu.
"tenanglah, saya bukan tipikal orang seperti apa yang kamu fikirkan karena yang paling penting, anak saya mwrasa bahagia. entah dengan siapa dia berpasangan saya tidak perduli. karena yang penting bagi saya, anak saya bahagia," ucap Pak Agung.
seakan tau apa yang sedang di fikirkan oleh anak muda di depannya itu.
sontak saja, ucapan dari Papa Anggun itu, membuat Kevin sedikit merasa lega. dirinya merasa beruntung berada di tengah tengah keluarga yang begitu sangat baik.
baik keluarga Sheina, ataupun keluarga Anggun. kedua keluarga itu, memang paling the best menurutnya
__ADS_1
karena mereka, dari keluarga berada,tetapi mereka mau bergaul dengan keluarganya, yang memang itidak berada.
"terimakasih om, semoga, saya bisa membahagiakan Anggun," ucap Kevin.
"sebenarnya, apa tujuan kamu mendekati anak saya,? apa karena hartq,?"pertanyaan itu, meluncur secara tiba t]ba dari mulut laki laki paruh baya itu.
membuat Kevin, seketika membulatkan matanya mendengar ucapan Papahnyq Anggun.
"sama sekali tidak Om, saya mendekati anak Om, memang saya tertarik dengan kepribadiannya, yangenurut saya sangat baik," ucapnya terdengar tegas.
membuat Pak Agung menganggukan kepala. merasa yakin dengan piihan anaknya.
"tenanglah, saya hanya ingin menggodamu, tapi ternyata, kamu sangat pintar dan juga sangat tegas. saya percaya, kali ini, Anggun tak akan sakit hati seperti sebelum sebelumnya," ucap pak Agung.
membuat Kevin, langsung faham dengan ucapan laki laki di depanya itu. pasti itu adalah Kenzo yang memang srdang menjadi perhatian kekasihnya itu.
eits kekasih,? yang benar saja, bahkan Anggun saja, menerima Kevin dengan terpaksa. bagaimana bisa di sebut kekasih,? ah tapi biarlah, yang pasti, Kevin berjanji, akan membuat Anggun bahagia.
tak lama, Anggun dan sang Mama, baru saja keluar dari dapur dengan membawa beberaoa kue kering yang sepertinya, baru saja matang.
"ini nak Kevin, silahkan di cicipi," ucap Bu Daisy seraya meletakan nampan di atas meja.
"eh, iya tante makasih," ucapnya seraya tersenyum manis.
"itu, buatan Anggun sendiri loe nak Kevin," ucap Bu Daisy seraya melirik putrinya yang rerlihat malu malu.
akhirnya dengan ragu, Kevin mengambil kue itu, dan perlahan memakanya.
karena biasanya, dirinya akqn bertemu di luar rumah, atau di rumah Sheina.
tak lama, setelah me yelesaikan obrolan dengan keluarga sang kekasih, Kevin memutuskan untuk pulang.
"Vin, makasih ya atas semuanya," ucap Anggun. saat mereka sudah berada di depan rumahnya.
"sama samq sayang, gue pulang dulu ya,' ucapnya seraya tersenyum manis.
Deg
sontak saja, ucapan Kevin yang baru saja keluar dari mulutnya, membuat Anggun seperti seorang, yang sulit bernafas.
"a-apa tadi loe bilang,?" tanya Anggun terbata.
membuat Kevin, terswnyum seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Anggun.
"sayang," bisik Kevin tepat di telinga gadis itu. yang membuatnya, seketika merinding.
"g-gue masuk dulu," ucapnya seraya bergegas pergI. jika dulu, Anggun akan langsung memaki laki laki itu, jika menggombal,
__ADS_1
tapi sekarang, Anggun seperti tidak mempunyai tenaga sana sekali. bahkan sekarang ini, dirinya tak bisa hanya sekedar untuk memakinya seperti biasa.
"gue berjanji, loe akan secepetnya menjadi milik gue swutuhnya," gumamnya seraya pergi dari sana.
...****************...
sementara itu, di kediaman keluarga Atmanegara, terlihat seorang gadis sedang gelisah di tempat tidurnya.
ia bahkan beberapa kali mencoba bangun kemudian, tidur lagi.
"ini aku kenapa,?" tanyanya dalam hati.
tak lama, terdengar pintu di ketuk fati luar. membuatnya, menghentikan rintihanya.
"sayang, kamu kenapa,?" tanya sedrorang di balik pintu
"Sheina nggak papa Bu, perut Sheina hanya keram," ucapnya.
membuat Bu Rianti yang berada di luar kamar, langsung menerobos masuk dan duduk di tepi ranjang anaknya.
"astaghfirullah nak, kamu pucat sekali," ucap Bu Rianti terkejut sast melihat kondisi anaknya. "kita kedokter ya, mumpung ini masih sore," tawar Bu Rianti.
Sheima yang mendengarnya, menghelengkan kepala. "enggak usah Bu, ini di kasih obat yang biasa pasti sudah sembuh," ucapnya menolak.
membuat Bu Rianti hanya menghela nafas dan menganggukan kepala. " kalau ada apa apa, segra kabari ibu," ucapnya. kemudian keluar dari kamar anaknya.
setelah Ibunya keluar, Sheina kembali meringkuk di tempat tidur. seraya sesekali meremas perutnya yang terasa seperti melilit.
pagi harinya...
Kini, Sheina sedang menikmati sarapannya, bersama kedua orang tuanya.
"sayang, bagaimana dengan kondisimu,?" tanya Bu Rianti di sela sela aktivitas makanya.
"udah mendingan kok Bu," ucapnya tersenyum manis.
"memang kenapa,?" tanya Pak Rayn yang sedari tadi hanya diam.
"biasalah Pak, tamu bulanannya datang," ucap Bu Rianti tersenyum tipis.
membuat Pak Rayn, hanya menganggukan kepala mengerti.
dan mereka, melanjutkan aktivitas makanya. tak lama, terdengar suara bel berbunyi. dan tak lama pula, masuklah seseorang, yang mereka kenal. setelah di bukakan oleh Art.
"assalamu'alaikum," ucapnya .
""wa'alaikum salam. eh, nak Adrian mari ikutan sarapan," ucap Bu Rianti seraya menggeret kursi ke belakang.
__ADS_1
"eh, tidak usah Bu, saya sudah sarapan.," ucapnya menolak secara halus.
BERSAMBUNG......