Pembalasan Gadis Abnormal

Pembalasan Gadis Abnormal
Chapter 67


__ADS_3

Anggun mengikuti para tenaga medis itu, membawa sang Kekasih. sesampainya di depan ruang ICU, gadis itu segera duduk di depan ruangan tersebut.


wajah cantiknya, sudah sembab di mana mana. sesaat, dirinya menegakkan wajahnya.


menatap kosong tanpa ada gairah kehidupan.


"Anggun, " seseorang, menghampiri dan memeluk gadis itu. membuat Anggun menoleh dan mendapati sang Mama dan beberapa orang yang Anggun kenal.


"sayang, kamu yang sabar ya, " ucap Bu Daisy memeluk anaknya. sementara itu, Pak Agung hanya mengelus sang putri yang masih tanpak Shok.


tak lama setelahnya, Pak Diki bersama kedua orang tua Sheina. mereka segera menghampiri gadis itu. untuk menanyakan kabar.


"Nak Anggun, bagaimana keadaan Sheina,?" tanya Bu Rianti dengan wajah cemasnya.


sontak saja, Anggun memekik dengan menutup milutnya dengan kedua telapak tanganya. " astaghfirullah, Sheina " Anggun kembalienangis sejadi jadinya.


membuat semua orang yang berada disana, merasa khawatir. terlebih lagi, dengan reaksi Anggun yang tampak histeris seperti itu.


"Sheina kenapa Nggun,?" tanya Pak Rayn drngan wajah khawatir.


belum juga gadis itu menjawab, terdengar suara brankar di dorong menuju arah mereka.


membuat mereka semua, sontak menoleh kearah sumber suara. dan mereka terdiam beberapa saat. ketika mendapati, Sheina terbaring di sana, dengan Adrian yang berlari do belakangnya.


"Ya Allah, Sheina," Pekik semua orang, yang berada di sana. bahkan, Anggun dan Bu Rianti, yang tidak kuasa menahan kesedihan, ambruk ke belakang.


beruntungnya, Pak Rayn dan Kenzo yang memang berada di belakang kedua wanita itu, segera menangkap tubuh wanita di depan mereka.


"sabar Bu, semoga semua akan baik baik saja," ucap Pak Rayn menenangkan sang istri.


begitupun dengan Kenzo, laki laki itu, menenangkan Anggun yang tampak bergetar hebat. hatinya begitu sakit, saat orang yang dirinya cintai, menangisi seseorang.


"sabar, Nggun kamu harus kuat," ucap Kenzo seraya mengusap punggung gadis itu.


...****************...


sementara itu , di sisi lain Rian, tampak begitu murka kepada anak buahnya. wajahnya merah padam dengan nafas yang naik turun.


bugh


bugh


bugh


suara pukulan itu, terdengar begitu nyaring di sela sela pekatnya malam.

__ADS_1


"kalian semua, kerjanya gak ada yang becus! " bentak Rian berapi api.


bugh


bugh


bugh


Rian kembali melayangkan tinjunya berlali kali. membuat sekumpulan orang yang berada di depannya, terjengkang ke belakang.


"ma-maf bos, tapi target sudah keluar negri sesaat setelah kejadian tabrak lari," ucap salah satu anggota. yang Rian tugaskan untuk mengejar dan menyeliki kejadian itu.


"benar bos, mereka kabur menggunakan pesawat peibadi," timpal.yang lainya.


rahang laki laki itu, mengeras mendengar penuturqn anak buahnya. berarti, pelakunya lebih dari satu,?


"apa maksud kalian,?" tanya Rian menatap tajam semua anak buahnya. membuat mereka semua, menundukan kepala, karena takut akan kemarahan bosnya.


"sebelum kejadian tabrakan itu, Naona Sheina sempat di sekap oleh seseorang dan orang itu, bermaksud ingin menghancurkan wajah dari Nona Sheina," papar orang itu, seraya menunduk ketakutan.


Mata Rian membulat swmpurna saat mendengarkan penjelasan dari anak buahnya itu. rahangnya mengeras, tanganya mengepal. menampakkan urat urat tanganya terlihat menyeramkan.


"berengsek," umpatnya seraya meninju pepohohana yang berada di sampingnya.


"sekarang, kalian semua cari pelakunya sampai dapat. dan pastikan orang itu masih hidup, karena saya ingin bermain main dengan orang itu," ucapnya tersenyum iblis.


dirinya ingin memastikan kondisi gadis pujaaanya itu.


...****************...


sedangkan di rumah sakit, para tenaga medis sedang memberikan pertolongan semaksimal mungkin.


terlihat dari ruangan itu, sedari tadi lampunya menyala.


tak lama, seorang Dokter, datang mrnghampiri Anggun dan semua yang berada di sana.


sontak saja, kedatangan Dokter itu, membuat Anggun dan yang lainnya, langsung beranjak dari duduknya.


"Dok, bagaimana keadaan pasien yang berada di dalam,?" tanya Anggun seraya memegang lengan Dokter itu.


hal itu, membuat seseorang yang berada di sana, tersenyum miris pada dirinya sendiri.


"sebegitunya kamu mencintai Kevin Nggun," ucap Kenzo yang berada di belakang gadis itu


"semuanya, harap sabar ya, pasien mengalami benturan yang sangat kuat pada bagian kepalanya. dan pasien juga mengalami banyak sskali kehilangan banyak darah.," ucap Dokter itu, membuat Anggun yang tsdinya berdiri, langsung ambruk duduk di atas lantai.

__ADS_1


"aaa Kevin, hiks hiks," Anggun begitu terpukul dan menjerit histeris. membuat semua orang, yang berada di sana, merasa sangat kasihan.


"sayang, tenangkan diri nak, Kevin pasti bisa sembuh," ucap Bu Daisy seraya memeluk putri semata wayangnya.


"aku takut Mah, bagaimana jika nanti, Kevin,,.. " ucapan Anggun terhenti saat sang Ibu, menempelkan jari di depan bibirnya.


"ssttt, kamu nggak boleh bicara seperti itu, kita berdo'a sama sama, supaya Kevin bisa melalui oprasinya dan segera sadar," Bu Daisy memeluk tubuh rapuh itu.


wanita paruh baya itu, tak menyangka jika anaknya, begitu mencintai sosok pemuda yang bernama Kevun itu.


padahal, setau dirinya, Ketiga remaja itu, baru mengenal sekitar beberapa bulan yang lalu.


"sayang, apa kamu sangat mencintai Kevin,?" pertanyaan itu, sukses membuat Anggun mendongak. menatap mata teduh Ibunya.


kemudian, gafis itu tersenyum tipis. seraya menganggukan kepala.


"Kevin, adalah satu satunya orang, yang berhasil menyadarkan ku dari sifat bodohku Mah" ucap Anggun menatap kosong kedepan.


"maksudnya?" tanya Bu Daisy. karena memang, wanita paruh baya itu tak mengerti.


"hehehe, Anggun tersadar dari kebodohan Anggun, yang mencintai laki laki yang tidak mencintai Anggun," gadis itu tersenyum getir terhadap dirinya sendiri.


sontak saja, perkataanya itu, membuat seseorang yang berada di sana, menundukan kepala karena merasa tersindir.


"seandainya, Anggun memiliki kesempatan untuk mengulang waktu, maka Anggun akan berusaha sekuat tenaga, untuk memperbaiki semuanya," gadis itu mengusap air matanya.


"sstt jangan bicara lagi ya, kita serahkan semua pada yang kuasa, swmoga Allah, mengangkat semua rasa sakitnya," ucap Bu Daisy mengelus kepala putrinya.


"lakukan apa yang seharusnya anda lakukan Dok, masalah biaya, biar kami yang tanggung," Pak Reno yang kebetulan baru datang.


membuat semua orang yang berada di sana, menganggukan kepala.


"baiklah kalau begitu, kami akan melakukan yang terbaik" Dokter itu, segera berlalu dari sana.


tak lama, Brankar yang di tempati Kevin berbaring, berjalan keluar dari ruang ICU menuju ruang oprasi. hal itu, membuat semua orang menolwh ke arah Kevin.


dan dengan segera, mereka semua menghampiri Kevin, yang tampak memprihatinkan.


selang infus di mana mana, muka lebam dan bengap akibat beradu debgan aspal.


Anggun mendekat, tanganya terulur dan mengusap wajah pucat kekasinya itu.


"kamu kalau kayak gini, terlihat jelek tau nggak," ucapnya seraya terkekeh.


hal itu, bukanya membuat semua orang, menjadi bahagia, malah mereka tampak begitu sedih.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2