Pembalasan Gadis Abnormal

Pembalasan Gadis Abnormal
Chapter 35


__ADS_3

"itu kartu nama gue, di situ ada nomor ponsel gue," ucapnya seraya tersenyum tipis.


membuat Sheina hanya menganggukan kepala dan membalas senyuman Adrian.


tak lama,pintu UKS di buka dari luar dan tampaklah Anggun dan Kevin yang menghampiri Sheina dan Adrian, dengan wajah cemasnya.


"loenggak papa,?" tanya Anggun dengan tangan memeriksa seluruh badan Sheina.


"gue nggak papa," ucap Sheina seraya tersenyum manis.


membuat Anggun dan Kevin, merasa lega. dan kemudian, mereka ikut duduk di ranjang UKS.


"lagi bahagia ya buk,?" tanya Anggun seraya menyenggol lengan Sheina.


membuat Sheina langsung menoleh kearah Anggun dan menatap tajam gadis itu.


Anggun yang melihatnya, hanya bisa terkikik geli dan berbincang bincang dengan Sheina.


"eh iya kalian tadi berangkat bareng,?" tanya Kevin pada kwdua orang itu.


"hehe iya," ucap Adrian seraya tersenyum ke arah Sheina penuh arti.


membuat Anggun dan Kevin yang melihatnya, tersenyum simpul.


"baguslah, jadi gue nggak perlu jemput sama nganterin Sheina," ucap Kevin.


membuat Sheina membulatkan matanya, karena mendengarkan ucspan sahabat lucknutnya itu.


"hais, jadi selama ini, loe ngerasa terpaksa gitu nganterin gue kesekolah,?" tanya Sheina seraya mengangkat tanganya di atas pinggang. percis seperti emak emak yang sedang mengomel.


"hehe bukan begitu Sheina, gue masih mau sendiri dulu," ucap Kevin tersenyum hambar.


membuat Sheina yang mendengarnya, mendegus kesal dan kembali mendudukan dirinya di samping Anggun.


"nggak usah terlalu di pusingin Vin, lagipula, masih banyak cewek di luaran sana," ucap Sheina seraya melirik Anggun.


untung saja, gadis itu tak menyadari jika Sheina sedang meliriknya. jika tau, maka akan panjang urusanya.


sontak saja, ucapan Sheina itu, membuat Anggun menatap kedua sahabatnya itu dengan tatapan misterius.


"kalian ngomongin apa sih,?" tanya Anggun.


"hmm tuh, si Kevin baru aja di tinggal nikah sama ayangnya," ucap Sheina yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Kevin.


"hahaha," sontak saja, tawa Anggun pecah mendengar ucapan Sheina itu.

__ADS_1


"huh, dasar temen gak ada akhlak kesusahan, bukanya di hibur, malah di ketawain," gerutu Kevin.


bukanya mereda, tawa Anggun, justru semakin menjadi karena gerutuan laki laki itu.


"makanya, kalau punya ayang, janhan sombong, nanti kalau di pisahin sama yang di atas, nanges," ucap Anggun masih terbahak.


sebenarnya, dalam hati Anggunpun sedang menjerit karena kemelut hubungannya dengan Kenzo. tapi ia mencoba untuk bersikap seceria mungkin. agar teman temanya, tak mengetahui perasaannya yang sesungguhnya.


bukanya Anggun ingun menyembunyikan dari kedua sahabatnya, tapi jujur saat ini dirinya belum siap untuk menceritakan semua pada Sheinadan Kevin.


Anggunpun, mencoba untuk bersikap ceria kembali. tapi sayangmya, Sheina telah menangkap gerak gerik sahabatnya itu.


tapi dirinya, tidak mau ikut campur dalam masalah sahabat sahabatnya. jika mereka yang menceritakan masalahnya sendiri, berarti mereka memang sudah siap untuk bercerita. tspi jika tidak, Sheinapun tak ingin memaksa.


"loe, kalau ada masalah, gue siap mendengarkan," ucap Sheina berbisik.


membuat Anggun, seketika menoleh kearah Sheina. kemudian, tersenyum tipis.


"gue nggak Papa kok," ucapnya seraya tersenyum tipis.


Sheina hanya menganggukan kepala dan kemudian melanjutkan obrolan mereka.


hingga bel masuk berbunyi, mereka semua kembali ke kelas masing masing.


Sheina dan Kevin berjalan perlahan ke kelas dengan Kevin yang memapah Sheina. karena gadis itu, masih nyeri pada tulang pinggulnya dan juga sedikit terluka di bagian kakinya.akibat di hempaskan terlalu keras oleh Shandy.


sesaat kemudian, mata tajam Kevin menatap Shandy dan teman temanya yang seperti tidak merasa bersalah dengan apa yang telah mereka perbuat pada Sheina.


dengan perlahan, Kevin membawa Sheina ke bangku mereka. dengan sengaja Kevin menyenggol lengan Shandy dan menginjak kaki gadis itu.


membuat si empunya, mengeram karana merasa kesakitan.


"arrggh " ucapnya, seraya menusap kikinya yang terasa kebas. kemudian menatap tajam kearah Kevin dan Sheina yang melangkah kearah tempat duduk mereka.


"heh, loe berdua nggak punya mata ya,?" tanya Shandy seraya menatap tajam kearah mereka berdua.


bukanya takut, Sheina dan Kevin malah semakin merasa tertantang, dengan nembalas tatapan Shandy.


"sory kita nggak sengaja, eh sengaja deng," ucap Kevin seraya tersenyum miring.


membuat Shandy langsung menghampiri kedua orang itu dan..


brak


Shandy dengan keras, menggebrak meja hingga membuat semua temannya terlonjak kaget.

__ADS_1


"loe berdua berani sama gue," ucapnya seraya menatap tajam kearah Sheina dan Kevin.


membuat keduanya, saling berpandangan dan tersenyum manis. seakan sedang menertawakan sesuatu.yang sangat lucu.


Shandy yang melihat itu, semakin geram di buatnya " heh, kalian berani sama gue,?" tanya Shandy, dengan tatapan membunuhnya.


"kenapa kita harus takut, loe kan masih manusia, belum menjadi siluman. makanan loe masih nasi kan, kalau makanan loe udah batu bata, baru gue takut," ucapnya seraya menahan senyuman di wajahnya.


sontak saja, perkataan Kevin itu, membuat Shandy semakin geram dan mengepalkan tangannya kuat."awas loe, " ucapnya seraya kembali ketempat duduknya.


"lah, kitakan memang punya mata dua, jadi kita masih awas," ucap Kevin.


sementara Sheina masih menatap dengan ekspresi datarnya. gadis itu, tak sekalipun membalas omongan Shandy. dan hanya Kevin yang membalasnya.


membuat para siswa yang lain, merasa takjub di buatnya. karens dari sekian banyak siswa, hanya Kevin, yang berani melawan Shandy.


karena sebelum sebelumnya, belum ada yang berani melawan perbuatan Shandy cs.


tak lama, pelajaran pertama di mulai dan mereka semua belajar seperti biasa.


sementara itu, di kelas XI, Rian yang baru masuk kedalam kelas, tak sengaja berpapasan dengan Adrian.


membuat langkahnya terhenti sesaat lalu, kedua laki laki itu, saling berpandangan.


Adrian menyapa dan nenganggikan kepala, seraya sedikit senyum. sebagai rasa hormatnya.


"pagi pak," ucap Adrian menyapa.


Rian menganggukan kepala dan membalas sapaanya. " pagi Adrian," ucapnya seraya melangkah masuk kedalam ruang kelas XI-A


tiba tiba, langkahnya terhenti, saat menyadari sesuatu.


"Adrian, bagaimana keadaan Sheina,?" pertanyaan itu, spontan saja keluar dari mulut Rian. membuat Adrian melihatnya, dengan tatapan aneh.


dengan segera, Rian meralat omonganya. " emm maksud saya, bagaimana dengan lukanya apakah sudah kering,?" tanya Rian mencoba setrnang mongkin.


"sudah pak, tapi masih sedikit pincang, karena tadi di UKS, tidak ada obat merah, jadi lukanya hanya saya lerban," ucap Adrian.


"oh oke," ucapnya seraya melangkahkan kakinya, memasuki ruang kelas tempat dirinya mengajar.


ia berniat akan menobati luka Sheina saat jqm kedua nanti. karena pelajaranya, berada si jam kedua.


sementara Adrian yang melihatgerak gerik gurunya, semakin yakin jika mempunyai perasan pada Sheina.


"gue nggak boleh keduluan sama pak Rian," gumamnya seraya mulai mencatat materi.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2