Pembalasan Gadis Abnormal

Pembalasan Gadis Abnormal
Chapter 71


__ADS_3

pagi ini, di sebuah ruang rawat VVIP, semua orang tengah sibuk menata segala swsuatu di sana.


dan tampak Rian, sangat bahagia. karena sebentar lagi, apa yang akan di impikan laki laki itu, akan menjadi kenyataan.


"nak, apa yang kamu lakukan ini sudah benar,?" tanya Bu Selvy seraya menggenggam tangan putranya itu.


"Mah, aku mohon, untuk kali ini aja Mama dukung Rian. mungkin ini akan menjadi permintaan terakhor Rian," ucap laki laki itu memelas.


nadanya, seperti seorang anak kecil yang ingin meminta mainan oada sang Ibu.


Bu Selvy, hanya menganggukan kepala dan mencoba tersenyum.


"makasih Mah," Rian segera memeluk tubuh yang menjadi cinta pertamanya itu.


sementara itu, kedua orang tua Sheina, seperti sedang berdebat di luar kamar rawat itu.


"pak bagaimana ini, apa kita batalkan saja,?"Bu Rianti sudah mulai di liputi rasa gamang.


"tidak Bu, kita sudah menandatangani surat perjanjian itu, kalau kita mengingkari, kita akan masuk penjara," Papar pak Rian. mencoba mengingatkan sang istri.


" hiks terus ini gimana, kalau sampai Sheina tau, apakah dia akanembenci kita,?" tanya Bu Rianti dengan wajah sedihnya.


"sudah lah Bu, mungkin ini memang jalan dari Allah, kita berdo'a saja, semoga Sheina tidak akan berlama lama, menjauh dari kita," Pak Rian memeluk sang istri.


tak lama, ponsel Pak Rian berdering. sepertinya ada yang sangat penting. terbukti dengan adanya panggilan berkali kali.


dengan segera, Pak Rayn mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan itu.


"halo, assalamu'alaikum," ucap Pak Rayn saat sambungan telpon itu sudah terhubung.


"wa'alaikum salam, Pak hiks " suara dari seberang sana, seperti orang yang sedang menangis.


"eh, nak Anggun, ada apa,? kenapa menangis,?" tanya Pak Rayn merasa heran.


"pak, Kevin meninggal," Anggun berucap dengan sesenggukan.


hal itu, membuat Pak Rayn menggenggam tubuh Bu Rianti yang ada dalam dekapannya dengan erat.


"kenapa Pak,? kenapa Bapak meluk Ibu dengan erat,?"tanya Wanita paruh baya itu yang merasa heran dengan sang suami.


"Kevin sudah tiada Bu," sontak saja ucapan yang baru keluar dari mulut sang suami itu, membuat Bu Rianti membulatkan matanya dengan sempurna.

__ADS_1


"a-apa, Kevin meninggal,?" tanya Bu Rianti seraya membekap mulutnya.


wanita itu tak menyangka, jika sahabat dari sang Putri, meninggal dengan cara yang setragis itu.


"kita harus ngelayat Pak, kasian Pak Diki, " Bu Rianti menarik tangan sang suami untuk meninggalkan tempat itu.


tapi, langkahnya terhenti saat merasakan tak ada pergerakan dari suaminya itu.


"ada apa Pak,?" tanya Bu Rianti yang merasa kebingungan.


"Ibu lupa, kita kan harus menjaga Sheina, apalagi, sebentar lagi acaranya, akan segera di mulai," ucap Pak Rayn.


membuat Bu Rianti, tersadar dari sesuatu. kemudian, mereka berdua masuk kedalam ruang rawat putri swmata wayang mereka.


tampak di tempat tidur itu, Sheina masih terbaring tak sadarkan diri, dengan sudah menggunakan kebaya berwarna putih tulang. dengan hiasan bunga di kepalanya.


sementara itu, Rian tampak gagah, mengenakan baju outih dengan jas senada. duduk di sofa dekat ranjang.


seraya memperhatikan sang calon istrinya saat dirias. walaupun, masih dengan menggunakan selang oksigen di hidungnya.


tak lama, pintu di ketuk dari luar dan masuklah beberapa Dokter dan perawat yang akan menjadi saksi pernikahan mereka.


"apakah acaranya, sudah bisa di mulai,?" tanya Pak penghulu itu.


"tunggu sebentar Pak, biarkan mertua saya, mengganti pakaian dulu." ucap Rian seraya menunjuk kedua orang tua Sheina.


Pak Rayn dan Bu Rianti hanya menurut dan masuk di dalam kamar mandi untuk mengganti bajunya.


tak lama, setelah lima menit, kedua orang tua itu, segera keluar dan menghampiri Rian.


"bagaimana,? apakah sudah siap,?" tanya Pak Penghulu sekali lagi..


"sudah Pak, ayo kita mulai," Pak Penghulu itu, segera duduk di depan Rian.


dan tampak juga, Sheina bersender di kepala ranjang, dengan mata masih terpejam.


"Bismillahirohmanirohim, saya Nikahkan dan kawinkan, engkau Rianto Putra Hutama, Bin Ardianto Gibran Hutama. dengan Ananda Patricia Sheina Atmanegara, Binti Rayn Atmanegara, dengan maskaein seperangkat alat Sholat, dan rumah beserta mobil, di bayar tunai," Pak Pengulu menjabat tangan Rian.


"saya terima nikah dan kawinnya Patricia Sheina Atmanegara, Binti Rayn Atmanegara, dengan maskawin tersebut di bayar tunai" Rian mengatakannya, dengan lantang dan dengan satu kali tarikan nafas.


sah

__ADS_1


sah


terdengar kata sah dari semua yang berada di sana, bersamaan dengan luluhnya air mata dari kedua orang tua Sheina


karena harus menyaksikan pernilahan sang putri swperti ini.


"selamat ya, semoga kalian menjadi keluarga samawa," Pak Penghulu berucap dengan menjabat tangan Rian.


"terimakasih Pak ," Rian tampak begitu sumringah. hatinya tampak sekali berbahagia.


dan satu persatu dari mereka, memberikan selamat. termasuk juga pak kepala sekolah, beserta beberapa guru. termasuk Pak Andi dan Bu Winda.


mereka turut berbahagia dengan pernikahan antara guru dan muridnya itu. walaupun, ada sedikit keganjilan di hati Bu Winda.


tapi dengan cwpat, guru yang sejak pertama, menyayangi Sheina itu, tak mau ikut campur. biarkan lah ini menjadi urusan keluarga mereka.


sementara di sana, juga ada Dokter Rizal yang ikut menghadirinya. menggantikan Kenzo selaku pemilik yayasan.


"semoga, kamu bahagia ya Sheina," lirih Dokter Rizal. kemudian, satu persatu dari mereka, mulai meninggalkan ruangan VVIP itu.


"kita foto keluarga dulu ya Bu Paj, sama Mama sama Papa di sana," tunjuk Rian pada sebuah dekorasi yang minimalis itu.


mereka semua pun mengikuti arah pria tampan itu dan berjejer rapi di belakang tulisan, ' Sheina & Rian Wedding' itu.


dan kedua orang tua Sheina dan Rian, tampak tersenyum tipis. walaupun senyuman itu, tampak sedikit di paksakan.


sementara Rian tampak sekali sedang berbahagia. laki laki itu, ber ulang kali mengecup kepala Sheina yang masih tak sadarkan diri.


"sepertinya memang Rian, sangat mencintai anak kita. tapi sayangnya, anak kita belum bisa membuka hatinya," Bu Rianti menyeka air matanya, yang tampak menggenang.


"iya, semoga saja, semua akan imdah pada waktunya," Pak Rayn tampak tersenyum tipis seraya melihat anak dan menantunya.


dan akhirnya, foto keluarga itu di lakukan, persis seperti foto pernikahan pada umumnya. hanya saja, Sheina berpose miring, dengan menyandarkan kepalanya, di dada Rian.


sehingga, wajah gadis itu, hanya tampak dari samping. sementara Rian dan kedua orang tuanya, beserta mertuanya, menghadap ke depan.


setelah empat kali jepretan, dengan pose yang berbeda beda, orang tua Sheina pamit terlebih dahulu.


"maaf Pak Bu, kami berdua pamit dulu ya, mau mgelayat," ucap Pak Rayn.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2