Pembalasan Gadis Abnormal

Pembalasan Gadis Abnormal
Chapter 80


__ADS_3

setelah mengatakan hal itu, Anggun dan Bu Rianti kembali masuk ke dalam kamar rawat inap Sheina.


"Nggun, loe nggak mau gitu telponin gue sama Kevin, gue kangen banget tau sama dia," ucap Gadis itu, dengan wajah memelas.


hening..tiba tiba, kamar itu berubah menjadi hening sesaat, setelah Sheina mengatakan hal itu.


Anggun memalingkan wajahnya, karena sebentar lagi, air mata itu, akan turun tqnpa permisi. gadis itu tidak ingin, sahabatnya itu menjadi drop kembali kondisinya.


"Nggun, loe nggak Papa,?" tanya Sheina khawatir. dan dengqn cepat, Anggun menggelengkan kepalanya seraya tersenyum tipis.


"gue nggak Papa kok, eh, loe kan udah sembuh kan, ? gimana, kalau kita jalan jalan ke taman,?" ajak Anggun untul menhalihkan fokus sahabatnya itu.


"eh, ayo deh sekalian gue mau cetita sama loe soal Adrian.," jawab Sheina drngan nada sendunya.


Anggun sempat mengerutkan keningnya, mendenfar ucapan Sheina. "sepertinya, aku banyak kehilangan moment penting," gumqm Anggun dalam hati.


drngan segera, Anggunengajak Sheina keluar dari ruang rawat itu, saat Sheina sudah di angkat ke kursi roda.


sepanjang jalan, Sheina hanya berdiam diri. karena banyak sekali yang ada di dalam hati dan otaknya, yang ingin dirinya sampaikan.


"Nggun, " panggil Sheina pada sahabatnya itu. membuat Anggun, menghentikan dorongan pada kursi roda Sheina.


" iya loe mau apa,?" tanya gadis itu, seraya sedikit menunduk.


"emmh, nggak jadi nanti aja sampai di taman," ucap Sheina tersenyum tipis.


sahabatnya itu, hanya menganggukan kepala dan kembali berjalan menyusuri koridor rumah sakit.


sesampainya di taman rumah sakit, mereka segera duduk di bangku taman.


"perlu gue bantu nggak,?" tanya Anggun menggoda. karena Anggun tau bahwa Sheina adalah gadis yang tidak ingin di kasiani.


"nggak usah! gue bisa swndiri, loe pikir gue nenek nenek apa," gerutu Sheina. hal itu membuat Anggun tertawa.


untuk swsaat, merekq berdua melupakan apa yang ada si benar mereka.


"Nggun, gue mau tanya dong,?" Sheina swgera menghadap sahabatnya itu.


"mau tanya apa sih Sheina sayang,?" Anggun malah balik bertanya, dengan mencubit pipi Sheina.


terang saja, Sheinaengaduh karena memang merasa kesakitan.

__ADS_1


"aduh Anggun, jangan di cubit ah, nanti kalau lecet gimanw,?" tanya Sheina seraya mengerucutkan bibirnya.


hal itu, membuat Anggun terkekeh kecil.emang, sangat menyenangkan ber teman dengan Sheina ini.


"gue kenapa ya, bisa di putusin sama Adrian,?" tanya Sheina dengan menundukan kepalanya, karena sebentar lagi, air matanya, akan segera terhatuh.


Anggun hanya diam. dan berusaha menguatkan sahabatnya itu.


"mungkin memang, kalian di takdirkan tidak berjodoh," Anggun berusaha sebisa mungkin bersikap bijaksana.


padahal, dirinya swndiri belum tentu bisa, menghadapi situasi, jika berada di kondisi Sheina.


mendengar hal otu, Sheina hanya bisa menghela nafas beratnya. " tapi, seharusnya Adrian memberikan penjelasanya. jangan asal putusin aja, gue juga masih punya hati, " Sheina berucap lirih dan sekuat tenaga, menahan air matanya.


tapi memang sangat sulit bagi gadis itu. karena kenyataanya. air mata itu, tetap saja jatuh membasahi pipinya.


Anggun yang melihat itu, segera memeluk dan mencoba menenangkan Sheina.


"udah, nggak usah di fikirin Sheina, mungkin ini yang terbaik," Anggun mengusap Punggung Sheina yang tampak bergetar.


"nggak Nggun, gue harus minta penjelasan dari Adrian," Sheina berucap seraya menatap lurus ke depan.


Anggun hanya menganggukan kepalanya, menyetujui apa yang akan di lakiukan Sheina.


"halo, Bos, saya sudah memberikan video rekaman pada ponsel anda," ucapnya.


"bagus!!. sekarang kamu boleh pergi. tapi seperti biasa, sisakan beberapa orang, untuk mengawasi seluruh kegiatan istri saya," titahnya.


kemudian mengakhiri panggilanya. tak lama, ada swseorang yang mengetuk pintunya.


"masuk," ucap orang itu. dan tak berapa lama, seorang siswa, masuk kedalam ruangan guru itu.


"maaf, ada apa Bapak memanggil saya,?" tanya siswa itu.


"Duduk!!" titahnya dan Siswa itu, hanya mengangguk dan menurut saja.


"kamu tau jan apa yang harus kamu lakukan Adrian,?" tanya Rian tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.


"bapak tenang saja, saya bukan tipe orang yqng suka mengingkari jqnjinya.


"bagus!! sekarang, kamu boleh keluar," ucap Rian.

__ADS_1


Adrian hanya menurut saja. laki laki itu, melangkah mendekati pintu keluar. sebelum benar nenar keluar dari ruangan itu, Adrian berbalik membuat Rian menatap sebentar wajah laki laki itu.


"kenapa,?" tanyanya kembali fokus pada pekerjaanya.


Adrian menggeleng lemah. " jika nanti, bapak tidak bisa membahagiakan Sheina, biar saya yang membahagiakan dia," Adrian berucap dengan nada ber sungguh sungguh.


brak


Rian menggebrak meja begitu keras. hingga membuat Adrian sedikit terlonjak kaget.


" apa maksudmu,?" tanya Rian dengqn nada tinggi. " kau ingin menjadi perebut istri orang, hah," bentak Rian dengan penuh kemarahan.


Adrian tersenyum simpul dan menatap guru di depanya itu dengan ekspresi sulit di artikan.


" bapak yang merebut pacar saya," ucap Adrian penuh penekanan.


"haha, " tawa Rian menggema di seluruh ruang guru itu. " sejak kapan, seorang suami merebut istri dari pacarnya,? hmm" tanya Rian yang masih tersenyum tipis.


"iya, memang saya hanya sebagai pacarnya saja, tapi anda lupa pak Rian, kami itu saling mencintai dan bapak merampas dan menyakiti hati orang lain. apa tidak akan ada karma,?" tanya Adrian dengan nada sinis.


Rian termenung swjenak apa yang di katakan laki laki itu, memang ada benarnya. tapi. dirinya tidak boleh gentar dengan ucapan Adrian.


apalagi, laki laki itu, hanya bocah ingusan yang masih suka bersenang senang.


"cih, diam kau bocah ingusan!!" ucap Rian menatap tajam pada muridnya itu.


" Ya, saya memang masih bocah ingusan, masih labil masih suka main dan masih suka benas tanpa terikat. begitupun dengan Sheina. gadis yang bapak jadikan istri itu, dia juga masih labil dia masih suka bermain," ucap Adrian penuh arti.


kemudian, laki lak8 itu keluar dati ruangan guru, dengan setrtes air mata yang membasahi pipinya.


dengan cepat, laki laki itu menghapusnya. dirinya takut, akan ada yang melihat dirinya menangis.


sementara itu. Rian termenung di kursinya. memikirkan, apa yang batu saja di ucapkan oleh Adrian itu memang sedikit ada benarnya juga.


dia menjadi khawatir. bagaimana jika Sheima malah semakin membencinya,?" pertanyaan itu, terus saja menggema di dalam otak dan hatinya.


"hah, Pasti Sheina bisa menerima pernikahan ini. apalagi, kita sudah menikah swmecara resmi," gumamnya, mencoba menyakinkan dirinya sendiri.


bahwa semua, akan baik baik saja. karena bagaimanapun, Sheina sudah menjadi makmumnya dan dia harus patuh pada Rian.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Nb: ada cerita bagus ini dari kakak author the best bernama Ocybasoaci



__ADS_2