
kini mereka telah sampai di dalam ruang guru dan Sheina hanya bisa menundukan kepala karena merasa malu dengan para guru.
"Sheina," Panggil Bu Winda pada gadis cantik itu.
"iya Bu, ada apa,?" tanyanya sedikit mendongakkan kepala.
"kamu serahlan ini, ke ruangan Pak Rian ya," Bu Winda menyerahkan sebuah buku yang cukup tebal pada Sheina.
"tapi Bu, saya..." belum sempat gadis itu melanjutkan kata katanya, guru yang lainpun, ikut menyela.
"Sheina, sekalian bawa absensi ini ya," Pak Andi juga menyerahkan buku absensi.
mau tidak mau, Sheina akhirnya menganggukan kepala. dan berjalan keluar ruang Bu Winda.
"gue keluar dulu Nggun, loe bisa kan, temani Neneng untuk daftar ulang,?" tanya Sheina pada sahabatnya itu.
"bisa, btw loe mau kemana,?" tanya Anggun.
"mau nganterin ini," Sheina menunjul kearah tumpukan buku tersebut. dan hanya di balas anggukan oleh gadis itu.
Sheina segera keluar dari ruangan Bu Winda, menuju ke ruang pak Rian. ruangan yang sebenarnya, sangat dirinya hindari.
tok tok tok.
pintu di ketuk oleh Sheina. dan tak lama, terdengar sahutan dari dalam ruangan itu.
"masuk,"
Sheina dengan Perlahan masuk ke dalam dan mendapati, Rian sedang sibuk mencatat tugas tugas dari siswa sepertinya.
"permisi Pak, buku ini di letakan di msna,?" Sheina bertanya dengan suara yang di buat buat. agar laki laki itu, tak bisamengenalinya.
"hmm di meja kecil samping rak buku saja," ucapnya tanoa melihat pemilik suara.
Sheina dengan cepat, mengikuti perintah dari gurunya itu. dia sedikit lega, karena laki laki itu, belum menyadari kehadirannya.
"sudah Pak, kalau begitu, saya permisi," Sheina hendak berbalik badan dan membuka Pintu.
namun, tak sengaja mata laki laki itu, melihat kearah Sheina, saat sedang memunguti kertas kertas yang tiba tiba jatuh.
"Sheina!!," pekik lski laki itu dan langsung beranjak dari kursinya. Rian hendak memeluk gadis yang sudah sepenuhnya betada di relung hatinya itu.
gadis yang berhasil membut seorang Rianto Putra Hutama, linglung dan acak acakan bak orang gila dalam benerapa minggu ini.
Sheina dengan sigap, menjauhkan diri dari laki laki di depannya itu. entah mengapa, gadis itu masih belum bisa memaafkan seorang yang telah menjadi suaminya itu.
__ADS_1
"jangan mendekat," serunya seraya merapatkan pada Dinding.
"aku merindukanmu," Rian senakin memajukan tubuhnya. hingga tidak ada jarak di antara keduanya.
dan dengan gerakan cepat, gadis itu mengangkat tanganya, hendak melayangkan satu tamparan.
namun, dengan cepat tangan putih mulus itu, di tangkap oleh tangan kekar Rian.
" jangan menolakku lagi Sheina, aku ini suamimu," ucapnya dengannada tegas membuat gadis itu, sejenak patuh dan membiarkan Rianemeluknya dengan erat.
berkali kali, Rian mengecup kening gadis itu dan sesekali mengecup mata indahnya.
dan Sheina tanpa sadar, menikmati sentuhan itu. sentuhan yang awalnya sangat ia tolak itu. apa mungkin ini efek dari bayi yang dirinya kandung,? entahlah, tapi Sheina sangat menikmati hal itu.
Rian membawa sang istri dudik di sofa dengan posisi masih dalam dekapannya.
"aku bahagia, kamu akhirnya kembali," Rian berkata. dan hendak merengkuh gadisnya kembali.
tapi, dengan gerakan cepat gadis itu segera mendorong kuat tubuh Rian. dan langsung berdiri dari duduknya.
"maaf, saya masih di bawah umur, anda bisa saya laporkan dengan tuduhan pelecehan. jangan pernah anda menyentuh saya," Sheina segera berlalu pergi.
meninggalkan Rian yang masih tampak tertegun itu. laki laki itu, bahkan sangat merasa frustasi. karena sampai saat ini, gadis itu brlum bisa membuka hatinya.
*****
sementara itu, Sheina berdiri di luar ruang guru, dengan menghela nafas panjang.
"huh, kenapa gue bisa deg degan dan merasa nyaman dengan wangi tubuhnya,? apa ini karena kamu nak,?" tangan gadis itu mengelus lembut perutnya yang masih rata.
lalu, gadis itu, memilih untuk pergi ke kelas X|-A ruangan yang akan dirinya huni dalam satu tahun ini.
saat gadis itu masuki ruang kelas, ada satu orang, yang menatapnya dengan tatapan aneh. tapi Sheina idak dapat mengenalinya.
"kok, gue ngerasa nggak asing ya sama tatapan matanya,"gumamnya pelan. Sheina kembali melihat kearah gadis itu dan semua masih sama.
"loe kali ini, nggak akan bisa lolos dari gue," gadis itu tersenyum menyeringai.
tiba tiba, pundak Sheinadi tepuk dari arah sanping. dan membuat Sheina menoleh cepat.
"ngagetin aja sih," gerutu Sheina seraya mengelus dadanya yang berdebar akibst terkejut.
"hehe, sory. ya lagian, loe dari tadi di panggil nggak nyaut nyaut. giliran di tabuk, marah marah," Anggun mendengus kesal.
Sheina kembali teringat akan sosok yang menurutnya tidak asing itu.
__ADS_1
"Nggun, gue kok merasa nggak asing ya sama gadis itu," tunjuknya pada seorang gadis yang duduk di bangku paling pojok itu.
Anggun ikut mengikuti arah tangan sahabatnya itu.
"emm mungkin hanya perasaan loe aja kali. oh iya, katanya, loe mau cerita selama dua minggu ini kemana,?" Anggun teringat akan ucapan Sheina.
Sheina, menghela nafas panjang sebelum berkata. Anggun menyimak semuanya dari awal hingga akhir.
"jadi, loe sekarang lagi hamil anak pak Rian,?" tanya Anggun yang mulai bersuara. setelah Sheina selesai bercerita.
"iya, dan gue kayak belum siap aja, mendapat amanat sebesar ini, di usia gue yang masih ingin bebas," ada setitik air mata, yang menggenang di dalam mata indahnya.
Anggun yang menyadari itu, segera memeluk sahabatnya dengan erat. " loe yang sabar, ini pasti yang terbaik buat loe," Anggun mengusap air mata Sahabatnyw itu.
dan percakapan mereka, di dengar oleh Shandy.dengan segera, gadis itu mengirimkan pesan pada seseorang.
**088****
Dia ternyata lagi hamil. kita apakan enaknya.,?
klik**
suara pesan terkirim. dan tak berapa lama, ada pesan masuk dari Hanum.
hmm sepertinya, kita ubah rencana, setelah ini kita dis kusikan di rumah kosong jalan zx.
Shandy tersenyumsaat mendapati balasan dari wanita itu. akhirnya, sebentar lagi, sakit hatinya akan swgera terbalaskan.
tak berselang lama, seorang guru masuk ke dalam kelas.
"Pagi anak anak," sapa guru itu dengan ramah. dan tatapanya, selalu tertuju pada gadis ya g berada di bangku paling depan itu.
"pagi Pak Rian," sapa semua siswa yang berada di sana. termasuk juga Sheina.
sebisa mungkin, gadis itu bersikap biasa saja. dan tak memoerlihatkan gerak gerik mencurigakan.
"oke, saya akan memberitahu, jika saya akan menjadi wali kelas kalian. karena sepertinya, saya tidak jadi mengundurkan diri," Rian berkata, dengan tatapan, dari istri kecilnya itu.
Yap.
awalnya, Rian memang berencana untuk mengundutkan diri dan tak menerima tawaram umtuk menjadi guru tetap di sini.
namun, saat Sheina kembali, laki laki itu, langsung merubah keputusannya.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1