Pembalasan Gadis Abnormal

Pembalasan Gadis Abnormal
Chapter 110


__ADS_3

saat Sheina sedang menikmati makananya, tiba tibs saja, seseorang memanggilnya dan memberitahukan, bahwa dirinya di panggil oleh guru bahasa Inggris sekaligus suaminya.


"yaudahlah sana, mungkin aja mau di kasih vitamin pagi pagi," goda Anggun.


Sheina yang mendengar ucapan dari sahabatnya itu, memutar bola mata malas. kenapa semenjakrnikah sahabatnya itu menjadi sedikit ngeres otaknya.


"kayaknya, otak loe deh yang harus di kasih vitamin biar gak ngeres," sahutnya dan langsung berlalu pergi.


"yee dasar ambekan," gumamnya. kemudian melanjutkan acara makannya.


"yes sebentar lagi, pasti akan ada perang dunia dua," gumam seseorang yang memang berada di sana kemudian berlalu pergi.


sementara itu, Sheina yang sedang berjalan menyusuri koridor sekolah, tak henti hentinya tersenyum.


entah mengapa, gadis itu menyunggingkan senyuman sepanjang koridor dan menyapa siapa saja yang dirinya lalui.


sesampainya di ruangan sang suami, gadis itu segera mengetuk pintu. namun, tak ada jawaban dari dalam.


membuat gadis itu merasa kesal sendiri. kemudian Sheina mengetuk kembali pintu itu. masih belum ada jawaban dari dalam.


"sebemarnya, ada apa sih, kenapa aku di panggil kalau di anggurin kayak gini,” gerutunya pada sang suami.


akhirnya, Sheina memutuskan untuk pergi saja dari sana toh sepertinya tidak ada yang perlu di bicarwkan.


terbukti dengan dirinya yang sedari twdi, hanya di abaikan saja. Sheina berbalik arah hendak menjauh dari pintu ruang guru. namun, hal itu Sheina urungkan saat mendengar suara Bu Winda.


"mau ke ruang siapa Sheina,?" tamya wanita cantik itu.


"eh Bu Winda, ini tadi saya di suruh ke sini sama Pak Rian," jawabnya sedikit kikuk.


karena Bu Winda tau jika dirinya dan pak Rian adalah pasangan suami istri. jadi jangan sampai mereka berfikir, jika Sheina dan gurunya mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"oh, kalau begitu ayo masuk, saya juga ada urusan dengan suami kamu," Sheina sedikit memerah. saat Bu Winda menyebut suami di depannya.


Sheina yang mendengarnya, hanya mengqnggukan kepala. kemudian ikut masuk ke dalam.

__ADS_1


Deg


jantungnya seperti ingin lepas dari tempatnya saat mendapati, Rian sedang hampir saja berpelukan dengan seorang guru baru.


"e-eh, Maaf maaf saya tidak sengaja," Sheina seketika menundukan kepalanya.


karna merasa tidak kuat melihat pemandangan di depannya. sementara Bu Winda, wanita itu hanya terdiam dan menggelengkan kepalanya.


merasa apa yang di lakukan oleh laki laki di depanya itu sudah keterlaluan. " Maaf Pak kalau saya mengganggu, tapi saya hanya ingin menyerahkan ini, ayo Sheina kita pergi," tangan wanita itu hendak meraih tangan Sheina.


karena Bu Winda tau bagaimana petasaan gadis itu saat ini. namun, gerakan tangannya, terkhenti saat mendngar ucapan Rian


Maaf semuanya, bisa tinggalkan kami berdua,?" tanya laki laki itu


sementara Sheina, gadis itu menggelengkan kepala pada Bu Winda menandakan belum siap jika harus berbcara dengan laki laki di depanya itu.


"semua akan baik baik saja Sheina," bisiknya pada muridnya itu. dan akhirnya, gadis itu menurut dan Bu Winda dan Bu Hanum,( guru baru) menganggukan kepala.


setelah dua wanita dewasa itu pergi, Rian menatap sang istri yang masih saja menunduk itu dengan perasaan campur aduk.


rasa bersalah karena melihat sang istri yang tampak bersedih karenanya. dan bimbang karena merasa sang istri belum sepenuhnya tulus memerimanya.


hal itu membuat mereka berdua, terdiam cukup lama. seakan tenggelam dalam lamunan dsn fikiran masing masing.


"apa tidak ada yang kau ingin jelaskan,?" pertanyaan itu, sukses membuat gadis itu mendongak dan menatap mata tegas sang suami.


"apa maksud Mas,?" tanya gadis itu karena memang tidak mengerti.


"kamu ada hubungan apa dengan Adrian,?"Rian bertanya dengan nada sedikit meninggi.


hal itu sukses membuat gadis itu terlonjak kaget. karena selama ini, suaminya itu tak pernah meninggikan suaranya.


"kenapa Mas membentakku,?" tanya gadis itu berkaca kaca. hal itu membuat Rian tersadar dari kesalahanya. " asal Mas tau ya, aku udah tidak ada hubungan lagi denganya," gadis itu bergetar menahan tangis.


"terus ini apa,? kamu berpelukan dengan laki laki lain di belakang ku,?" tanya Rian dengan nada datar.

__ADS_1


namun, hal itu cukup membuat Sheina menggelengkan kepala. karena merasa tak percaya. seakan kalimat yang baru saja keluar dari mulut suaminya sangat enteng dan tanpa beban


Sheina menatap tajam dan tersenyum sinis oada sang suami. " aku nggak nyangka ternyata fikiran Mas sepicik ini, rasanya percuma juga aku menjelaskan karena Mas tidak sepenuhnya percaya sama aku," air mata yang sedari di tahannya, akhirnya meleleh bak gunung es yang mencair.


"jika Mas berfikir aku sama Adrian ada apa apa, mas salah karena dia adalah malaikat penolong bagi aku karena jika tidak ada dia, mungkin kita sudah kehilangan anak anak ini,"gadis itu menyentuh dadanya yang terasa sesak akibat tuduhan suaminya sendiri.


gadis itu segera betlari menunggalkan ruangan Rian dan pergi menuju kelasnya.


******


saat pelajaran di mulai, Sheina tampak terdiam tanpa banyak bicara. dan hal itu di sadari oleh sahabatnya.


"loe kenapa,?" tanya Anggun seraya menyentuh tangan Sheina. karena tingkah aneh sahabatnya itu membuatnya khawatir.


"gue ngak papa," Sheina tampak tersenyum tipis dan tak lama, terdengar bel tanda pergantian pelajaranpun di mulai.


dan kini, giliran pelajaran bahasa indonesia yang akan berlangsung. dsn tak berapa lama, Rian datang untuk mengajar.


"siamg anak anak, hari ini kita ulangan ya," ucapnya dengan menatap lekat gadis yang duduk di bangku depan itu.


"iya Pak asal tasnya di taruh di depan agar tidak ada yang nyontek, apalagi, sepertinya ada siswi yang feling in love dengan guru sendiri," ucap salah satu dari mereka.


hal itu membuat semua siswa mrnatap Sheina dengan tatapan tak bisa di artikan. Sheina yang menyadari itu,endadak menyesal akibat ulahnya pagi tadi.


kenapa dirinya sampai melupakan hal itu dsn mengabaikanya. namun, sebisa mungkin gadis itu bersikap biasa saja.


"sudah sudah, sekarang kalian semua, segera kumpulkan tas kalian ke depan," perintah Rian pada semua siswa.


Sheina memilih menitipkan tasnya pada Anggun. dan dia memilih untuk mengeluarkan kertas ulanganya.


"Sheina loe ada masalah sama Pak Rian,?" tanya Anggun. gadis itu sejujurnya tidak ingin ikut campur. namun, Rian menyuruhnya untuk menanyakan hal itu.


mau tidak mau, Anggun harus ikut campur masalah ini.


"enggak, gue ngak ada masalah," Sheina tersenyum tipis. gadis itu sangat lihai jika masalah sembunyi menyembunyikan.

__ADS_1


Anggun yang memdengarnya, memilih untuk membiatkanya saja. hingga Sheina sendiri yang mau bercerita.


__ADS_2