Pembalasan Gadis Abnormal

Pembalasan Gadis Abnormal
Chapter 112


__ADS_3

kini, mereka semua telah berada di dalam ruang rawat VVIP yang di oesan oleh Rian. kedua Ayahnyapun, telah datang ke sana.


"bagaimana keadaanmu Sheina, ?" tamya Bu Selvy dengan lembut. sementara Bu Rianty hanya diam seraya menyuapi sang putri makan.


"sudah lebih baik Mah," jawabnya tersenyum tipis. kemudian, kembali melahap suapan dari sang Ibu.


kedua wanita paruh baya itu sejenak saling pandang. lalu, menganggukan kepala satu sama lain. mengisyaratkan sesuatu.


"sayang, Mamah boleh berbicara,?" tanya Bu Selvy dengan nada yang hati hati.


Sheina menganggukan kepala. " boleh, Mamah mau bicara apa,?" tanyanya seraya mengelus perutnya.


"kau ada masalah drngan suamimu,?" tanya Bu Selvy dengan sangat hati hati.


karena wanita paruh baya itu tau, jika kondisi menantunya itu sangat rawan.


Sheina yang mendengatnya, menghela nafas panjangnya. " bagamana bisa, Mas Rian mencurigai aku berselingkuh, hanya karena aku dan Adrian hampir saja berpelukan,?" tanya gadis itu dengan mata nanarnya.


seakan tak sanggup untuk melanjutkan kata katanya lagi. hal itu membuat Bu Selvy dan Bu Rianti yang mendengarnya, saling berpandangan.


" memangnya, ada apa,?" tanya Bu Rianti dengan mengelus kepala putri semata wayangnya itu.


dengan perlahan, Sheina segera menceritakan semua pada kedua wanita paruh baya itu. mereka sungguh sangat terkejut mendengarnya.


terutama Bu Rianti. wanita paruh baya itu sampai menggelengkan kepala. karena merasa tak percaya dengan cerita putrinya itu.


sementara Bu Selvy hanya bisa menundukan kepala karena merqsa malu pada keluatga menantumya itu.


"Mamah atqs nama Rian, meminta maaf pada kamu Nak, Mah tau itu semua karena Mamah selalu membenarkan setiap ucapan maupun tindakan yang ia lakukan, sehingga dia tumbuh menjadi pribadi yang seperti ini," paparnya dengan mata berkaca kaca.


Sheina yang mendengar dan melihatnya pun, menghela nafas dan menggenggam tangan Ibu Mertuanyw itu dengan erat.


"ini bukan salahnya Mamah,As Rian sudah besar, seharusnya dia tau mana yang benar, dan mana yang tidak" ucaonya dengan ekspresi wajah yang sulit di artikab.


Bu Selvy yang mendengarnya, hanya bisa mengangguk dan memeluk tubuh mungil menantu kesayangatnya itu.


dan merwka bertiga kembali berbincang bimcang dengan hangat dan sesekaloli tertawa lepas jika ada yang lucu.

__ADS_1


tanpa mereka sadari, sedari tadi ada orang yang mengintip dan mencuri dengar perbincangan mereka.


siapa lsgi orangmya jika bukan Rian. laki laki itu, sedari tadirmang berada di sana. awalnya, ia hendak masuk kedalam.


namun. karena mendengar ucapan dari wanita wanita di dalam.sana, membuat Rian mengurungkan niatnya itu.


baru setelah mereka semua berhenti berbicara, Rian masuk ke dalam ruang rawat sang istrinya.


"assalamu'alaikum," sapa laki lakl itu saat membuka pintu.


membuat semua orang yang berada di dalam sana, seketika menoleh ke arah sumber suara.


"wa'alaikum salam, eh Rian kebetulan sekali kamu datang, Mama sama Ibu, mau keluar. mau beli makanan di kantin rumah sakit ini, kamu bisa jaga istri kamu sebrntar,?" tanya Wanita oaruh baya itu dengan membetikan kode pada besannya itu.


"iya Mah, Bu kalian pergi saja. biar Sheina Rian yang jaga," lski laki itu tersenyum tipis pada dua wanita paruh bayq itu.


sementara Sheina, gadis itu hanya terdiam seraya tanganya sesekali memainkan ponselnya. ia bahkan tak menghiraukan percakapan ketiga orang di hadapannya itu.


hatinya masih terasa sakit, saat mengingat tentang perlakuan sang suami padanya.


setelah kedua wanita paruh baya itu keluar, suasana di dalam ruang rawat itu menjadi sangat dingin. dwn auranya begitu mencekam.


Rian menggeret kursi dan segera duduk di samping ranjang sang istri. menatap lekat wajah gadis yang berhasil meluluh lantakan hati dan fikiran seorang Rianto Putra Hutama hingga tampak kacau seperti orang gila.


tanganya terulur dan menggenggam tangan mungil sang istri. hsl itu membuat Sheina, menghentikan gerakan tangannya pada ponselnya.


"Maaf," satu kata itu yang berhasil keluar dari bibir Rian. namun, sepertinya kata kata itu belum cukup untuk meluluhkan hati Sheina.


terbukti dengan reaksi gadis itu yang hanya berdiam diri saja.


"aku mohon, maafkan aku," Rian kembali berucap dan kini, menggenggam kedua tangan gadis itu " Mas tau yang Mas lakukan itu adalah kesalahan besar yang mungkin tidak mudah termaafkan," ucapnya seraya tubuhnya terguncang hebat karens menahan tangisnya.


entahlah, mengapa laki laki jika bertemu dengan wanita yang tepat, menjadi sangat cengeng dan mudah menangis.


apa karena hati mereka telah sepenuhnya di kuasai oleh wanitanya, sehingga tak mampu berkutik dan takut kehilangan pasnganya.


Sheina yang melihatnya, hatinya menjadi terenyuh dan tanganya, terangkat untuk menyentuh pundak sang suami.

__ADS_1


sontak saja, hal itu membuat Rian mendongak dan menatap sang istri dengan wajah sembabnya.


"sekali lagi, Maafkan Mas ya," laki kaki itu mengecup jemari sang istri.


"aku tak pernah membenci Mas. aku hanya merasa kecewa dengan sikap Mas yang tak pernah mempercayaiku," terangnya seraya membalas genggaman tangan suaminya.


Rian yang mendengarnya. semakin menundukan kepala karena merasa bersalah. " Maaf, karena mas terlalu cemburu, menjadikan Mas gelap Mata," ucapnya dengan mengelus perutnya.


Sheina menepuk kasur sebelahnya meminta sang suami untuk duduk dalam satu ranjang dengan gadis itu.


Rian mengamggukan kepala dan berjalan menaiki brankar dan duduk di samping sang istri.


Rian memeluk tubuh Sheina dan mendaratkan kecupan bertubi tubi pada sang istri. " jangan pernah tinggalkan Mas ya," pintanya dengan menangkup pipi sang istri.


Sheina hanya menganggukan kepala dan tersenyum tipis. kemudian gadis itu terdiam. karena mengingat sesuatu.


"ada apa,?" tanyanya yang melihat raut wajah Istrinya yang seketika berubah.


"Mas ada apa dengan Bu Hanum,? pertanyaan itu keluar dari mulut Sheina. membuat Rian sejenak terdiam.


"Mas nggak ada apa apa sama dia sayang, waktu kamu lihat Mas berpelukan dengannya, itu nggak seperti yang kamu fikir," ucapnya seraya menggenggam tangan Sheina.


"terus kenapa bisa peluk peluk,?" tanya gadis itu. Rian yang mendengarnya, terkekeh pelan. rupanya istri kecilnya itu sedang cemburu. sangat menggemaskan sekali.


"Mas, di tanya kok malah senyum senyum sendiri, jangan jangan Mas suka ya sama guru baru itu,?" tuding gadis itu.


Rian menggelengkan kepala dan masih menampilkan senyuman manisnya. hal itu membuat Sheina semakin kesal di buatnya.


"ish Mas kok malah ketawa,?" tanya Sheina seraya memukul dada suaminya.


"ternyata, istri Mas lagi cemburu ya," godanya dengan menoel dagu Sheina.


"ish au ah gelap," Sheina memalingkan wajahnya. Rian yang melihatnya, kemudian menarik pundaknya dan memeluknya erat.


"dengerin Mas ya, hanya kamu yang bisa membuay Mas menjadi hampir gila seperti ini," ucapnya menatap dalam mata istri kecilnya itu.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2