Pembalasan Gadis Abnormal

Pembalasan Gadis Abnormal
Chapter 115


__ADS_3

tak lama kemudian, Kedua orang tua Sheina dan oranh tua datang menghampirinya.


"bagaimana keadaan Sheina Nak,?" tanya Bu Rianti seraya menarik kerah Rian. wanita itu merasa geram karana setiap saat setelah bertemu dengan Rian, hidup Sheina selalu sial.


" Bu, sabar semua itu ujian," Pak Rayn mencoba mengingatkan sang istri. jika yang menimpa anaknya adalah musibah.


Bu Rianti menatap tajam suaminya." jika waktu bisa di putar, Ibu menyesal mengizinkan Sheina menikah dengan dia," Bu Rianti berkata dengan menunjuk dan kini menatap tajam menantunya itu.


"Bu, saya mohon, Maafkan saya," Rian tampak mengatupkan kedua tangannya kedepan dada. semua orang. meraa iba dengan pemandangan ini.


namun, tidak dengan Bu Rianti. entah setan apa yang merasuki wanita paruh baya itu, hingga membuatnya seperti orang yang kasar.


"kalau sampai terjadi apa apa sama anak saya, saya pastikan kamu akan menerima hal yang mengejutkan," ucapnya berlalu pergi.


srmentara Bu Rianti, segera berlalu dari sana. dan melihat dari balik kaca. ",sayang, maafkan Ibu," ucapnya dengan nada bergetar dan menangis tersedu sedu.


sementara Rian dan kedua orang tuanya, hanya bisa menerima cercaan dari mertua dan besannya saja. entahlah, namun Rian hanya terdiam saat Bu Rianti menghinanya berkali kali.


tak lama, pintu ruang ICU, terbuka dan menampilkan seorang Dokter wanita. " bagaimana dengan anak dan calon cucu saya Dok?" tanya Bu Rianti segera.


Dokter yang bername tag Oky itu menghela nafas panjang. seakan yang ingin di sampaikan adalah hal berat.


"Pasien harus segera di oprasi. dan saya harus meminta persetujuan beliau untuk menyelamatkan salah satu dari mereka," terangnya.


hal itu sukses membuat semua orang yang berada di sana, seketika itu lemas dan menangis tersedu sedu.


"pak, anak kita gimana,? hiks hiks" tanya Bu Rianti dengan tangis yang seketika pecah.


"Bu, sabar semua akan baik baik saja," Pak Rayn segera menenangkan sang istri. padahal dalam hatinya, juga merasa takut jika ada apa apa dengan anak kesayangannya itu.


"dimana suami pasien,?" tanya Dokter Oky menatap satu persatu dari mereka.


"saya Dok, lakukan apapun yang penting istri saya selamat," pintanya dengan bersungguh sungguh.


hal itu membuat semua orang yang ada di sana, terkejut bukan main terutama Bu Rianti. wanita paruh baya itu melangkahkan kakinya dan tiba tiba,...

__ADS_1


plak


satu tamparan keras, mendarat mulus di pipi Rian. membuat semua orang, merasa begitu terkejut karena Bu Rianti bisa berbuat sekasar itu.


"jangan coba coba, menyakiti anak dan menantuku!!" teriaknya penuh dengan kesetanan. seakan yang merasuki adalah setan.


" Bu, kita tidak punya pilihan lain," ucap Rian dengan menyentuh pipinya yang terasa panas karena tamparan.


"Bu, sabar tenangkan dirimu," pak Rayn segera memeluk tubuh istrinya itu.


"tapi Pak, Sheina pasti akan sangat marah jika tau yang di selamatkan adalah dirinya bukan anak anaknya," Bu Rianti menangis sesenggukan.


membuat mereka terdiam. karena memang, yang di katakan Bu Rianti adalah benar adanyw. tidak ada satu Ibupun yang ajan rela memilih anak anaknya celaka sementara dirinyw selamat


"tapi Bu, kita tidak ada pilihan lain Bu, kalau bisa memilih, pasti saya akan memilih, untuk tidak mempunyai anak, " Rian berkata dengan frustasi.


Bu Rianti yang mendengarnya, menatap nyalang ke arah menantunya itu. ",seharusnya, kau tidak menjebak kami dengan perjanjian sesat kamu itu!! sshingga Sheina tak akan pernah menderita,!!" teriak Bu Rianti penuh amarah.


hal itu membuat Rian terdiam seketika. karena memang, yang di katakan oleh Ibu mertuanya, adalah sebuah fakta.


"saya harap, keluarga segera mengambil keputusan. karena kita, tak bisa menunggu lama," Dokter Oky berusaha mengingatkan.


"baik Dok, tolong selamatkan anak saya," akhirnya untuk pertama kalinya, Pak Rayn berkata dengan nada tegas.


"Pak," Bu Rianti mencoba mengingatkan sang suami. jika yang di pertaruhkan adalah cucu mereka.


"bu, jika memang, rezeki kita masih ada dan bisa melihat cucu kita, maka kita akan melihat mereka," ucap Pak Rayn dengan lembut.


hal itu membuat Bu Rianti menangis tersedu sedu di pelukan suaminya.


"baiklah, jika memang telah sspakat, kita akan segera melakukan tindakan," Dokter Oky segera berlalu sari sana.


tak berapa lama, brankar yang ada Sheina di atasnya, segera melaju menuju ruang oprasi. semua orang menatap Iba pada gadis yang kini tengah terbaring lemah di atas brankar.


"sayang, kamu yang kuat ya," Rian mrnggenggam tangan sang istri dan mengecupnya. semua merasa iba dengan pasangan ini.

__ADS_1


karena dari awal, hingga sekarang. Rian dan Sheina belum pernah merasakan yang namanya bahagia.


dan dengan perlahan, brankar di dorong oleh perawat dan memasuki ruang oprasi. saat telah masang dan merencanakan semuanya, tiba tiba saja, Sheina tersadar.


"tol-ong, sela-matkan an-ak an-ak sa-ya, Sheina berucap dengan suara lemah dan terbata bata. Dokter Oky yang mendengatnya, mengangguk mantap.


karena di dunia ini, tidak ada seorang Ibu yang rela kehilangan anaknya. jika mereka bisa memilih, maka para Ibu itu akan memilih nyawa mereka yang akan di ambilnya.


akhirnya, proses penyelamatan itu berlangsung cukup lama. karena tekanan darah Sheina, mengalami naik turun yang cukup drastis.


dan setelah berjalan selama tiga jam, akhirnya ruang oprqsi itu lampunya padam. pertanda, jika prosesnya telah selesai.


"selamat, anak anaknya sangat sehat dan menangis cukup keras," Dokter Oky datang dengan menggendong bayi mungil berjenis kelamin laki laki itu.


sementara bayi yang berjenis kelamin perempuan itu, di bawa oleh seorang suster.


"Dok, bukannya kami minta di selamatkan Ibunya saja,?' tanya Pak Rayn.


"bukannya kami tidak mendengarkan ucapan keluarga, namun, pasien sendiri yang ingin menyelamatkan bayinya," terangnya.


"lalu, dengan kata lain, Istri saya tidak selamat Dokter,?" tanya Rian yang mulai emosi. darahnya seperti naik ke ubun ubun.


"tenang Tuan, awalnya kami berfikir demikian, namun Nyonya Sheina sangat kuat. dia saat ini sedang berjuang melewati masa kritisnya," lanjutnya.


semua orang yang mendengarnya, menghela nafas lega. walaupun masih berjuang melewati masa kritisnya.


tak lama, Kenzo dan Anggun datamg menghampiri keluarga Rian dan Sheina.


" bagaimana keadaan Sheina Pak,?" tanya Anggun seraya menyeka air matanya. dia sangat syok saat mendapatkan kabar dari sang suami.


"dia masih belum sadar nak Anggun," Bu Rianti tampak menyeka air matanya.


"sabar Bu, semua akan baik baik saja, lebih baik, kita berdoa saja," ucap Anggun seraya mengusap punggung Bu Rianti.


kemudian, matanya menangkap ada dua bayi mungil di dalam dekapan Dokter dan seorang suster. hal itu membuat Anggun tertegun sesaat

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2