Pembalasan Gadis Abnormal

Pembalasan Gadis Abnormal
Chapter 43


__ADS_3

"kalian darimana,?" tanya Pak Rayn yang masih duduk di kursinya, seraya menyesap kopi hitam.


"hwhwhe dari restaurant seblak pak," ucap Sheina seraya tersenyum manis.


"oh, yasudah masuk ke kamar sana, udah mau maghrib kan,?" tanya Pak Rayn di akhir kalimatnya.


Sheina hanya mengqnggukan kepala, dan menatap Adrian barang sebentar.


"aku masuk dulu ya, Ian," ucap Sheina terdengar begotu lembut pada Adrian. dan hal itu, membuat kedua orang tua Sheina, saling berpandangan. seakan mereka tau ada sesuatu pada anaknya.


"Sheina, setelah sholat maghrib, kamu kesini ya, ada yang mau bapak tanyakan," ucap Pak Rayn saat Sheina hendak menaiki anak tangga.


Sheina berbalik arah, dan menatap kedua orqng tuanya, barang sebentar, kemudian menganggukan kepala.


sesampainya di kamar, dengan segera, Sheina membersihkan wajahnya. karenw memang, dirinya sudah mandi.


setelah itu, Sheina mengambil air wudhu dan melaksanakan Sholat maghrib karena memang sudah masuk waktunya.


setelah selesai Sholat, Sheina melangkahkan kakinya, menuju balkon kamarnya dan berdiam di sana. seraya matanya, menatap langit yang berwarna jingga itu.


hingga matanya, tak sengaja, menangkap sosok laki laki, yang tengah menatapnya, dengan membawa alat musik gitar.


Sosok itu, tersenyum tipis kearahnya seraya mulai menyanyikan sebuah lqgu.


Pagi telah pergi


Mentari tak bersinar lagi


Ntah sampai kapan kumengingat


Tentang dirimu


Kuhanya diam


Menggenggam menahan


Sgala kerinduan


Memanggil namamu


Disetiap malam


Ingin engkau datang dan hadir


Dan waktu kan menjawab


Pertemuan ku dan dirimu


Hingga sampai kini aku masih ada disini


Kuhanya diam


Menggenggam menahan


Sgala kerinduan


Memanggil namamu

__ADS_1


Disetiap malam


Ingin engkau datang dan hadir


Dan bayangmu akan slalu bersandar dihatiku


Janjiku pastikan pulang bersamamu


Kuhanya diam


Menggenggam menahan


Sgala kerinduan


Memanggil namamu


Disetiap malam


Ingin engkau datang dan hadir


Kuhanya diam


Menggenggam menahan


Sgala kerinduan


Memanggil namamu


Disetiap malam


Ingin engkau datang dan hadir


Slalu dimimpiku


Rindu


setelah menyanyikan lagu itu, Rian tampak menyeka sudut matanya yang sepertinya, tengah menangis membuat Sheina tertegun sesaat melihatnya.


namun, dengan cepat gadis itu, menepia rasa yang hadir di hatinya.


bukan rasa cinta, melainkan rasa yang tak Sheina mengerti.


apalahi, bayang bayang, waktu laki laki itu, dengan lantang, meneriaki dirinya tang berwajah aneh dulu.


membuat Sheina seketika tersadar dari lamunanya. " gue, nggak boleh seperti ini, lagipula, gue sudah punya Adrian yang sangat tulus sama gue," gumamnya dalam hati, menjoba menyadarkan dirinya sendiri.


dengqn cepat, Sheina menutup jendela balkon kamarnya, dan segera turun ke lantai bawah, menemui kedua orang tuanya.


"Ibu, Bapak, ada apa,?" tanya Sheina seraya duduk di samping ibunya.


"Sheina, kamu mau mau minum susu jahe kesukaan kamu nggak,?" tanya Ibu Rianti.seraya bangkit dari fuduknya


Sheina hanya menganggukan kepala, walaupun dirinya merasa bingung. ada apa dengan orang tuanya.


tak lama, Bu Rianti datang dari dapur seraya membawakan secangkir susu jahe hangat. dan meletakannya di depan Sheina.


"nih minum dulu, kamu kan habis dari luar, pasti hawanya sedikit dingin." ucsp Bu Rianti tersenyum manis.

__ADS_1


Sheina, hanya menganggukan kepala, kemudian tanganya terulur, mengambil cangkir itu, dan perlahan lahan meminumnya.


"ada apa Bu, Pak,?" tanya Sheina yang mengetahui ada seseuatu yang ingin di sampaikan.


"kamu sama temen kamu itu pqcaran,?" tanya Pak Rayn .


Deg


jantung Sheina seakan ingin lepas dari tempatnya, mendengar ucapan yang keluar dari mulut sang Ayah itu.


karena, Sheuna tau, walaupun sang Ayah terlihat sangat welcome sama semua temanya, tapi, beliau adalah orang yang berpendirian teguh. sekali bilang A ya A. tidak bisa dirubah dan di ganggu gugat.


"i-iya Pak, Bapak marah sama Sheina,?" tanya Sheina yang mencoba untuk menatap wajah kedua orang tuanya.


"tidak, kami tidak akan marah, tapi kami berpesan padamu nak, jangan lernah kebablasan saat sedang berpacaran, karena Syeitan akan mencari celah agar kalian terjerumus ke jurang hitam yang lebih dalam," ucap Pak Rayn.


sontak saja, ucapan dari sang Ayah itu, membuat Sheina menundukan kepala kembali. tak sanggup melihat wajah kedua orang tuanya, yang sepertinya, sedang marah itu.


"Ibu sama Bapak marqh ya, sama Sheina,?" tanya Sheina dengan perasaan takut takut.


sontak saja, kedua orang tua itu, menggelengkan kepala dengan cepat. " kami nggak marah Sheina, kami hanya memberikan arahan, kalian pacaran boleh aja, asal harus ada dan tau batasan," ucap Pak Rayn merubah mimik wajahnya. yang semulai teihat serius, sekarang terlihat lebih santai.


mendengar ucapan bapaknya, Sheina langsung berhambur di pelukan kedua orang tuanya.


"makasih ya Pak, Bu, Sheina fikir Bapak sama Ibu marah karena Sheina punya pacar," ucap Sheina seraya melonggarkan pelukam, dan mendongak menatap wajah teduh sang Ibu.


"apa kamu bahagia,?" tanya Bu Rianti pada sang Putri.


"sangat bahagia Bu, karena untuk pertama kalinya, ada seseorang yang menyayangi Sheina dengan tulus setelah kalian," kembali Sheina memeluk erat tubuh sang Ibu.


"iya sayang, akhirnya Do'a Ibu sama Bapak, di dengar juga oleh Allah," ucap Bu Rianti membelai dan mengecup puncak kepala anaknya..


"memangnya Ibu sama Bapak minta apa sama Allah,?" tanya Sheina. percis seperti anak kecil yang sedang memasuki masa golden egg. yang semuanya, serba ingin tau.


"Ibu sama Bapak hanya meminta, kamu menemukan seseorang yang bisa tulus mencintai dan menyayangi kamu, seperti kami orang tuamu," ucap Pak Rayn.


membuat Sheina yang mwndengarnya, tiba tiba aaja, meneteskan airmata.


"kamu kenapa nangis sayang,?" tanya Bu Rianti khawatir.


"aku nggak papa, aku cuma terharu, karena doa tulus dari kalian, kini aku mendapat kebahagiaan itu," ucap Sheina seraya menyeka ujung matanya.


membeat Bu Rianti twrsenyum dan membelai wajah putri semata wayangnya." semua orang tua, pasti akan memberikan dan mendoakan untuk anak anaknya," ucap Bu Rianti kembali mengelus bahu Sheina.


"iya Sheina, nanti kalau kamu sudah jadi Ibu, pasti kamu juga akan mengerti dan melakukan hal yang sama," ucap Pak Rayn.


membuat Sheina yang mendengarnya, seketika menoleh kearah sang Ayah.


"ih, Bapak apaan Sih, aku kan masih kecilau bebas dulu, mau mengejar masa depan yang lebih cerah,nanti kalau buru buru jadi ibu, nggak bisa bebas dong,"ucapnya seraya memasang wajah Cemberut.


membuat kedua orang tuanya twrtawa geli melihat tingkah anak mereka.


"iya sayang, udah dong, jangan di monyong monyongin tuh bibir kaya soang aja," ucap Pak Raynasih menggoda putri tercintanya.


membuat Sheina semakin kesal di buatnya. "dah ah,mau kekamar di sini Ibu sama Bapak, godain aku terus,"ucap Sheinaenggerutu seraya menghentak hentakan kakinya.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2