
sontak saja, hal itu membuat kedua laki laki yang berada di samping gadis itu, terdiam. karena memang, keluarganya tidak ada yang perduli.
tak lama, setelah mengatakan hal itu gadis itu terdiam dengan punggung bergetar menahan tangis." gue bersumpah Sheinw, akan membuat hidup loe, jauh lebih hancur dari wajah gue," ucapnya berapi api.
Yap. gadis itu adalah Shandy. setelah peristiwa yang terjadi di malam itu, Shandy di bawa teman temanya pulang ke rumah. dengan harapan, orang tuanya mau mau membantunya.
akan tetapi, ekspektasi Shandy, sepertinya terlalu tinggi. karena pada kenyataanya, kedua orang tua gadis itu, tak menerimanya dan malah mengusir dengan kasar.
"pergi kamu!!, aku tidak memiliki anak sepertimu," bentak sang Ayah dengan ber api api.
"kalian kenapa,? aku, anak kalian!!" seru Shandy seraya menekan dadanya yang brtgemuruh itu.
"hah, sejak kapan kami memiliki anak sepertimu, kau itu sangat bodoh, berkali kali ku beri tahu, jangan pernah membuat masalah dengan keluarga Hutama dan Adiguna, tapi kenapa kau masih tidak mau mendengar ucapanku,?" papa Shandy membentak gadis itu.
"itu karena aku. ingin mendapatkan apa yang aku mau," teriak Shandy histeris.
brak
dengan kasar, laki laki paruh baya itu, mendorong Shandy, hingga gadis itu terjengkang kebelakang.
"tutup mulutmu itu, sekarang gara gara kamu, perusahaan kita hampir gulung tikar gara gara kamu," bentak Setyo berlalu pergi.
meninggalkan Shandy merasa kesakitan di area wajahnya. "aku bersumpah, akan membalas perbuatan kalian ini padaku," Shandy berucap seraya mengepalkan tangannya kuat.
tak lama, Indra dan Rifky datang menghampiri Shandy, yang menerang kesakitan. dan dengan segera, mereka membawa gadis itu, keluar dari area perumahan elite itu.
......................
setelah memastikan Shandy terlelap, Rifky dan Indra,keluar dari ruang inap itu.
"terus apa rencana kita selanjutnya,?" tanya Rifky seraya menatap lurus kedepan.
"entahlah, kita tunggu rencaba selanjutnya dari Shandy," ucap Indra seraya mengedarkan pandangannya pada sekitar rumah sakit.
kemudian, dua laki laki itu, berjalan menyusuri koridor rumah sakit. mereka berdua, hampir mirip dengan Shandy.
mereka, sama sama terusir dari rumah mereka masing masing. dan mereka bertiga, juga sudah di keluarkan dari sekolah.
saat mereka berdua sedang berjalan jalan mencari ketenangan, Rifky tak sengaja, menabrak seseorang yang berada di sana.
"eh, maaf Pak kami tidak sengaja," ucap Rigky menunfukan kepala karena merasa takut.
dalam sejarah hidupnya, baru kali ini, Rifky takut dengan seseorang. namun, entah mengapa, Rifky merasa takut, saat melihatnya.
__ADS_1
"tidak apa apa, kalian butuh bantuan saya kan,? jika iya, hubungi saya dan ini kartu nama saya," ucap pria misterius itu. kemudian, berlalu pergi. meninggalkan dua laki laki itu. yangasih terpaku di tempatnya.
"coba gue lihat namanya," Indra merebut kartu nama itu, dari tangan Rifky. kemudian, membacanya secara perlahan.
matanya, membulat sempurna saat menyadari sesuatu. kemudian sama sama menatap, dan mengatakan sesuatu.
"musuh Adiguna Groub dan HTM Corp,"seru mereka secara bersamaan. kemudian, mereka sama sama, menyerigai seperti merencanakan sesuatu.
dengan secepat kilat, mereka mengejar laki laki bercadar itu.
"Tun, tunggu," seru mereka berdua dengan langkah lebar.
membuat laki laki yang mengenakan cadar berwarna hitam itu, menghentikan langkahnya. bibirnya menyerigai.
"ada apa,?" tanya laki laki itu.
"kami mau bekerja sama dengan anda," ucap Rifky seraya terengah engah.
"bagus, sesuai rencana," gumam laki laki bercadar itu. seraya tersenyum misterius.
"kalau kalian mau bergabung dengan kami, kalian harus merubah semua identitas yang berada di tubuh kalian," ucap Pria itu.
Rifky dan Indra yang tidak mengerti, hanya bisa saling pandang satu sama lain.
"panggil saja Om Rio, begini kalau kalian mau bergabung, dan membalas dendam, kalian harus melakukan oprasi plastik, " ucap Om Rio.
sontak saja, ucapan yang keluar dari mulut laki laki paruh baya itu, membuat kedua orang itu, membilatkan matanya.
"oprasi plastik,?" tanya mereka mengulangi ucapan laki laki itu.
laki laki itu, menampilkan wajah serius dan segera menggiring kedua laki laki itu, hingga mereka semua, sampai di depan bangunan kosong.
"kalian jika ingin membalaskan dendam, pada mereka yang kalian benci, kalian harus mau mengikuti semua leraturqn yang saya buat," Om Rio menekankan sekali lagi.
"baik kita mau, "ucap Rifky tersenyum menyerigai. di ikuti oleh Indra yang juga menganggukan kepala.
"bagus!! kalau kalian setuju, sekarang kalian beri tahu trman kalian yang berada di ruang rawat," seru Om Rio.
dengan gerakan cepat, Rifky dan Indra, mengangguk mengerti dan segera bergegas ke ruang rawat Shandy.
kebetulan, gadis itu masih terjaga dan belum memejamkan matanya.
"kita pergi sekarang,," Rifky mulai mengemasi barang barang gadis itu.
__ADS_1
"kemana,?"tanya Shandy yang masih kebingungan.
"ke tempat di mana, kita bisa membalaskan dendam," kini, giliran Indra yang berkata.
membuat gadis itu, tersenyum lebar. seakan tau apa yang di maksud oleh kedua orang itu.
"kalau gitu, kita pergi malam ini karena sebentar lagi, hari sudah pagi," Dengan segera, gadis cantik itu, segera mencabut, selang infus yang tertancap
di pergelangan tangannya.
seketika, darah mengucur dari pergelangan tangan gadis itu.
namun,sepertinya, Shandy merasa tak perduli. luka hatinya, lebih sakit di banding luka fisiknya.
"Shandy, tangan loe berdarah," ucap Rifky menunjuk tangan gadis itu.
Shandy tersenyum miring padakedua laki laki itu."ini sakit yang nggak seberapa d banding sakit yang ada di sini," gadis itu menunjuk kearah dadanya.
"sabar, sebentar lagi, kita akan bisa membalaskan dendam pada mereka," Rifky tersenyum misterius.
kemudian, mereka, berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang memang, tampak sepi.
karena memang, ini masih tengah malam.
sesampainya di parkiran, mereka bertiga, sudah sampai di depan sebuah mobil dan dengan segera, mereka bertiga, naik kedalam mobil tersebut.
dan dengan segrra, mobil itu, melaju dengan kecepatan penuh. karena memang, jalanan masih sangat sepi.
...****************...
sementara itu, di tempat lain, terlihat, seorang gadis tengah menangis histeris di dekapan sang Ibu. di depan ruang oprasi.
"maaf Pak Bu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan pasien. tapi luka yang di derita pasien, amibat dari kecelakaaan itu, sangat parah, ada pendarahan di otaknya. sehingga, nyawanya tidak tertolong," ucap Dokter Nando pada Anggun dan keluarganya.
duarrr..
seketika, tubuh gadis cantik itu, menegang tatkala mendengar penuturan dari Dokter.
tubuhnya, bak seonggok daging, yang tidak bisa berdiri. seakan kedua kakinya, tidak bisa menopang berat tubuhnya.
bruk
tubuh gadis itu, ambruk seketika ke atas lantai yang dingin. dadanya terasa sesaak. ia ingin sekali menjerit, tapi tidak pernah berhasil.
__ADS_1
BERSAMBUNG........