
Rian segera mengangkan jemarinya, dan Adrian dapat melihat, jika di sana, terdapat cincin berlian dengan ukiran nama Sheina.
belum puas, Rian juga mengeluarkan buku nikah mereka. membuat Adrian tidak bisa untuk berkata kata.
"sekarang kamu tau kan, apa posisimu, jadi saya minta, jauhi istri saya, Rian berucap dan kembali masuk kedalam ruangan VVIP.
Flasback off.
Adrian sungguh sangat terpukul dengan kenyataan yang di hadapinya.
untuk ke sekian kalinya, Adrian harus kehilangan orang orang terdekat dan yang sangat dia cintai.
"Ya Allah, apa yang sebenarnya engkau rencanakan, kenapa rasa ini, begitu menyakitkan,?" tanya Adrian entah pada siapa.
yang jelas, untuk malam ini, laki laki itu akan menyendiri dan tidak ingin di ganggu.
...****************...
swmentara utu, di rumah sakit, Sheina juga mengalami hal yang sama. yaitu sejak sadar, gadia itu menjadi pendiam dan murung.
"Sheina, apa yang terjadi,?" Bu Rianti mengelus kepala putri kesayanganya itu.
"Adrian Bu, Adrian mutusin Sheina," gadis itu berkata seraya membekap mulutnya.
sesaat, suasana menjadi henng dan hanya ada isak tangis dari Sheina. dan dengan cepat, Bu Rianti memeluk sang putri tercinta.
wanita paruh baya itu, berusaha menenangkan hati putri cantiknya itu. dan tanpa terasa Bu Rianti juga ikut menangis.
meratapi nasib putri semata wayangnya, yang sangat malang itu. dan akhirnya, Bu Rianti, juga ikut menangis.
tak lama berselang, Pak Rayn masuk kedalam ruangan rawat bersama Rian. hal itu, membuat Sheina melerai pelukanya, dan menatap bingung pada Rian.
"ngapain bapak di sini,?" tanya Sheina dengan nada ketus dan ekspresi wajah, yang sulit di artikan.
hening..
sesaat, suasananya menjadi sangat hening. dan yang terdengar, hanya, suara dentuman jarum jam.
"Sheina, sebenarnya, kamu sama Rian, sudah menikah tadi pagi nak," ucapan lembut dari Ibunya. terdengar bagaikan sembilu yang menusuk jantung.
membuat Sheina, seketika memegangi jantungnya. yang terasa ingin lepas itu. dan tiba tiba..
"awh," pekik Sheina dengan keras menyentuh kepalanya, yang terasa berdenyut dengan hebat dan tak lama kemudian, pandanganya gelap di susul ambruknya tubuh lwmah itu.
sontak saja, hal itu membuat kedua orang tua Sheina panik bukan main dan lanngsung memanggil dokter. tak lama kemudian, Dokter Dandy datang bersama para suster yang langsung memeriksa kondisi gadis itu.
"bagaimana keadaannya Dok,?" tamya Rian yang langsug menghampiri Dokter Dandy.
__ADS_1
"apakah sebelum pingsan pasien menerima nformasi yang mengejutkan,?" tanya Dokter Dandy.
dan pertanyaan itu, langsung mendapatkan anggukan dari ketiga orang di depannya.
"pantas saja, kondisinya semakin menurun," Dokter Dandy menghela nafas saat menemukan jawabanya.
"memangnya, apa yang terjadi Dok, kenapa anak saya bisa mengalami hal seperti ini,?" tanya Pak Rayn mwrasa khawatir.
"begini Pak Bu, pasien mengalami gagar otak ringan. yang membuat pasien sulot menerima keadaan yangmembuatnya terlalu terkejut. dsn kalau di paksakan, akibatnya bisa fatal," Dokter Dandy menjelaskan semuanya, pada keluarga Sheina.
"apa akibat terburuknya Dok,?" tanya Rian.
"akibat terburuknya, adalah pasien kembali koma," jawaban dari Dokter Dandy, membuat semua orang yang berada di sana, sangat terkejut.
"kalau begitu, saya permisi " Dokter Dandy segera berlalu dari hadapan ketiga orang itu.
"sudah, Ibu nggak mau anak Ibu kembali koma," tiba tiba, Bu Rianti berbicara dengan nada ketus.
hal yang membuat Rian mengerutkan keningnya. " maksud Ibu apa,?" tanya Rian.
"kau tidak dengar kah, apa yang di ucapkan Dokter itu,?" tanya Bu Rianti dengan nada geramnya.
"sabar Bu, jangan marah marah," ucap Pak Rayn mencoba menenangkan sang istri yang sepertinya, sedang tersulut emosi.
"nak Rian, sebenarnya, kami tidak mau mengusirmu, tapi mengingat kondisi Sheina, kami mohon, kami lebih baik, pulang dulu," Pak Rayn berucap seraya memapah sang istri. dan membawanya ketemlat duduk.
"pergi!" bentak Bu Rianti. dan mau tidak mau, Rian menurut dan mengayunkan kakinya, menjauh dari sana.
"sudah Bu, jangan teriak teriak," Pak Rayn mengusap pundak istrinya.
tak lama kemudian, pontu terbuka, dan kedua irang tia itu, segera masuk setelah di panggil.
"maaf, Pak Bu, pasien sudah sadar," suster itu, menghampiri pasangan Suami istri itu.
dengan cepat, keduanya, menghampiri sang putri tercinta.
"Pak Bu, jm" Panggil Sheina dengan suarq lemahnya.
"sayang, kamu sudah sadar,?"Bu Rianti mendekap erat anaknya itu.
"iya Bu, " ucap Sheina tersenyum tipis. kruk. terdengar bunyi perut Sheina yang terdengar nyating. hingga membuat gadis itu, tersipu malu.
"sayang, kamu lapar,?" tanya Bu Rianti. dan di balas Anggukan oleh gadis itu.
"sini biar bapak yang suapi, sejak dulu, Sheina yqng suapin kan Ibu. jadi sekali kali, Bapak yang nyuapin kamu ya " Pak Rayn mencoba menggoda sang putri.
dan Sheinapun, hanya tersenyum seraya menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"aaa" Pak Rayn mulai membuka mulutnya menyuapi sang anak.
dengan senang hati, Sheina mrnerma sendok itu, dwn memasukannya di dalam mulutnya.
"kenapa ,?" tanya Pak Rayn yang melihat putrinya, tiba tiba terdiam.
"apakah ucapan kalian yang sebelum aku pingsan itu, hanya bercanda,?" tanya Sheina saat mengingatnya.
sejenak, mereka berdua saling pandang satu sama lain. dan tak lama, mereka, mengangguk secara bersamaan.
"huh, syukurlah, jika itu hanya bercanda," Sheina menghela nafas lega.
"memang, kenapa kalaimu itu benwmeran,?" tanya Bu Rianti.
"ya Pasti, Sheina akan merasa sedih. karena menikah dengan orang seperti itu." ucap Sheina tersenyum tipis.
"Rian itu baik lho nak," Bu Rianti berusaha menyakinkan putrinya.
Sheina yang mendengarnya, hanya bisa menghela nafas berat. "huh, baik dari mana,? suka menghina kok baik," ucap Sheina dengan membuang muka kearah lain.
pertanda, gadis itu tidak ingin berlarut membahasnya. kedua orang tuanya, yang mengerti situasi itu, hanya bisa diam.
tak lama, Sheina teringat akab sesuatu. sehingga gadis itu, memandang kedua orang tuanya secara bergantian.
"pak Buk, bagaimana ke adaan Kevin,?" tanya Sheina
Bersambung.....
Nb: mampir nih kak, di karya kak Pipihpermatasari
IZINKAN AKU PERGI
(pipihpermatasari)
Suamiku, jika kamu bahagia bersamanya. Maka Izinkanlah aku pergi. Aku sungguh tidak sanggup bertahan seperti ini terus! Kamu sekarang sudah berubah, tidak seperti dulu lagi. Kamu sekarang melupakan kewajibanmu,memberikah nafkah dan batin kepadaku. Jika di rumah, tidak ada lagi surga untukku. Maka izinkanlah aku pergi dari hidupmu,agar kamu tidak menanggung dosamu karena kelalaianmu!
Akankah Chandra melepaskan Tika,saat istrinya meminta untuk pergi dari kehidupan suaminya? Atau justru Chandra mempertahankan Tika, dan berubah menjadi suami yang bertanggung jawab?
Atau kah, Tika akan memilih bersama hidup dengan Andrew dan menceraikan Chandra?
Yuk mampir, ceritanya disini .
__ADS_1