
"mana, sini aku yang beli," gadis itu membuka helmnya kemudian melangkahkan kakinya, menuju abang cilok tersebut.
tak berapa lama, Neneng telah kembali dengan membawa dua kantung plastik berisi batagor dan cilok.
"emm sepertinya menggoda," gumam Sheina. dan di balas anggukan oleh Neneng. mereka segera melanjutkan perjalananya, menuju kediaman orang tua Sheina.
lima belas menit kemudian, Neneng dan Sheina sudah sampai di depan rumah bercat biru itu.
"assalamu'alaikum," sapa kedua gadis itu, seraya membuka pintu.
"wa'alaikum salam, kalian sudah pulang,?" tanya Bu Rianti kepada kedua gadis itu. dan di balas anggulan oleh keduanya.
Sheina dan Neneng, segera duduk di sofa ruang keluarga. dan mulai membuka plastik berwarna putih itu.
"sayang, kalian sedang makan apa,?" Bu Rianti dan Pak Rayn segera duduk di samping kedua remaja SMA itu.
"oh ini Bu, tiba tiba Sheina kepengen makan cilok dan kebetulan, pas lagi di jalan, nggak sengaja ketemu, yaudah beli deh," Sheina memasukan cilok ke dalam mulutnya.
"Ibu mau,?" tanya Neneng menawarkan. dan di balas gelengan oleh wanita paruh baya itu. dan akhirnya, mereka segera menikmati cilok itu, penuh dengan canda tawa.
*****
sementara itu, di dalam kamar, Rian tampak sedang menggeram kesal. seperti telah menemukan sesuatu yang di sbunyilan.
rahangnya, tampak mengeras dengan mata mrnyala penuh amarah. sesekali, laki laki itu, tampak menghembuskan nafasnya kasar.
dirinya mencoba memahami, semua yang telah terjadi. tangannya, menggenggam alat tes kehamilan yang bertanda dua garis itu.
"ternyata, kamu udah ada anak kita, kenapa kamu nggak pernah mau jujur,? sebenci itukah kamu padaku,?." gumam laki laki itu seraya menyeka air matanya.
tak lama, terdengar derap langkah yang mendekat. dan dengan cepat, laki laki itu, segera berdiri di balik pintu.
ceklek.
pintu segera di buka dan tanpa sadar, gadis itu segera masuk dan mengganti bajunya. tanpa dirinya sadari, laki laki itu mendekat dan..
hap
suara tubuh itu di peluk dari belakang. membuat Sheina terkejut dan sedikit melompat.
__ADS_1
"astaghfirullah," ucapnya seraya mengelus dadanya. dan menoleh kearah belakang. dan lagi lagi, gadis itu terkesiap.
dan dengan segera, Sheina membalikan badannya. mematap tajam sang suami.
"kenapa anda ada di sini,?" tanya Sheina sedikit menaikan satu oktav suaranya.
"kemapa memangnya, ada yang salah jika seorang suami, mengunjungi istrinya." Rian berucap, dengan menggenggam tangan sang istri.
Sheina menepis tangan laki laki di depannya itu. " atas dasar apa anda mengatakan, jika saya istri anda,? atas dasar pernikahan diam diam yang
anda lakukan,?" tanya Sheina.
Rian tampak menundukkan kepala dan berjongkok seraya menggenggam tangan istrinya itu. " aku mohon, maafkan aku, aku memang laki laki pengecut," Sheina dapat melihat ketulusan di dalam .mata laki laki itu.
dan entah mengapa, Sheina seperti terhipnotis dan menurut saat gadis itu di rebahkan di ranjang empuk miliknya.
hingga tubuh mungilnya di dekap erat, Sheina masih saja terdiam. gadis itupun merasa bingung. karena dirinya tak seperti biasanya.
"kenapa aku merasa nyaman dan damai ya, apa hatiku sudah mulai melunak, atau karena bayi dalam kandungan ini,?" tanya Sheina dalam hati.
gadis itu, memiringkan tubuhnya dan membelakangi suaminya. dan Rian, dengan perlahan memeluk dari belakang.
"lepas Mas," Sheina membulatkanatanya. saat mulutnya, tak sengaja menyebut dengan panggilan 'Mas,' hal itu, sukses membuat Rian terdiam sesaat.
"kamu tadi bilang apa,?" tanya Rian dengan semakin mengeratkan pelukannya.
"lepaskan saya Pak," ucap Sheina sedikiylt menjauhkan tubuhnya dari dekapan sang suami.
Rian menggelengkan kepalanya. " nggak! kamu tadi bilang bukan itu," Rian menghirup aroma di ceruk leher sang istri.
Sheina menghela nafas dan mengatur emosinya. sepertinya, gadis itu harus mulai menerima kenyataan ini.
"lepas Mas," akhirnya Sheina memutuskan untuk mengalah dan menurunkan egonya.
Rian tersenyum senang. dan dengan cepat, laki laki itu mengecup leher Sheina.
"sekarang, Mas bisa tolong, lepaskan pelukanya,?" tanya Sheina lembut.
entah mengapa, setelah mengatakan hal.itu, Sheina menjadi sangat tenang dan cenderung bahagia.
__ADS_1
"oke, sekarang kamu istirahat dan jaga anak kita," Rian mengusap perut sang istri dengan lembut.
tak lama kemudian, laki laki itu, terlelap. karena Sheina dapat mendengarderu nafasnya yang sedikit teratur itu.
kemudian, gadis itu, membalikan badan. tangannya terangkat, mengelus wajah laki laki yang selama ini dirinya benci itu.
"apa aku salah karena sudah menolakmu, tapi hati ini tetasa sakit saat teringat akan kata katamu, yang mengatakan aku bukan manusia," Sheina menyeka air matanya.
dan tiba tiba, Rian memeluk tubuhnya dan mendaratlan kecupan berrtubi tubi. hal itu membuat Sheina terperanjat kaget.
"maaf, maafkan aku karena kata kataku itu, kamu menjadi sebenci ini padaku."Rian tampak menyeka air matanya.
"aku akan berusaha untuk memaafkanmu, tapi itu perlu waktu," Sheina mengusap wajah sang suami.
Rian tersenyum tipis dan menangkap tangan mungil sang istri dan mengecupnya. " nggak masalah, yang penting kamu nggak nolak Mas saja, Mas sudah bahagia," Rian tersenyum tipis.
Sheina hanya menganggukan kepala dan menatap mata elang sang suami.
"aku akan berusaha yang terbaik. dan entah mengapa, rasa sakit ini, sedikit menguar dan itu sepertinya karenaanak ini," Sheina menunduk dan mengelus perutnya yangasih rata.
Rian yang mendengarnya hanya tersenyum dan mengecup perut rata istrinya itu. " makasih ya sayang, kamu sudah membuat Bundamu sedikit melunak," krmudian mengelusnya.
Rian kembali mendongak dan mengecup kening istrinya itu. " sekali lagi, Mas ucapkan terimakasih," laki laki itu mendekatkan bibirnya ke bibir sang istri dan..
Cup.
sebuah kecupan dan sedikit luma**n bersarang di sana. Sheinaemejamkan matamya dan sedikit membuka mulutnya.
hal itu, membuat Rian tersenyum tipis dan dengan segera, laki laki itu mulai menjamah tubuh sang istri. "apa boleh,?" tanya Rian.
dan Sheina, hanya menganggukan kepala. dan hal itu membuat Rian begitu bahagia. dan langsung tancap gas.
"Mas," Pangil Sheina lirih. Rian menoleh di sela sela aktivitasnya. " jangan kasar ya," pinta Sheina dengan wajah memerah karena malu.
Rian yang mendengarnya, hanya tersenyum tipis."mana mungkin, aku menyakiti buah hati kita, kamu itu ada ada saja," Rian mencubit gemas hidung Sheina.
dan akhirnya, ritual itu di lakukan dengan Sheina yang menerima dengan kesadaran penuh dan hal itu yang membuat Rian, sangat bahagia.
setelah hampir satu jam, akhirnya, mereka terlelap dengan penuh kebahagiaan. terutama Rian. karena, akhirnya sang istri bisa menerimanya.
__ADS_1
"terimakasih ya sayang, aku nggak nyangka kamu bisa memaafkan aku secepat ini," Rian tak henti hentinya menghujani wajah Sheina, dengan kecupan bertubi tubi
BERSAMBUNG.....