Pembalasan Gadis Abnormal

Pembalasan Gadis Abnormal
Chapter 104


__ADS_3

Sheina mengelus oerutnya yang masih rata itu dengan senyum yang terus mengembang. karena di dalam perutnya kini, telah tumbuh dua janin yang mungkin akan menyempurnakan hari harinya.


"sayang, Bunda seneng banget kamu bisa hadir sekarang." Sheina tampak tersenyum bahagia. " maaf, maafkan bunda jika sempat tidak menginginkan kalian sayang," Sheina tampak menyeka air matanya.


tak lama, Rian datang menghampirinya dengan membawa obat yang telah di tebus itu. " maaf ya, nunggu lama," laki laki itu segera duduk di samping istrinya.


Sheina menoleh dengan senyumanengembang dan deraian air mata membasahi pipinya. sontak saja, hal itu membuat Rian terkejut.


"Ya Allah, sayang kamu kenapa,?" tanya Rian panik. laki laki itu berdiri hendak menuju ke ruang Dokter. siapa tau istri tengah menahan sakit dan memerlukan bantuan Dokter.


namun, pergerakannya di hentikan oleh Sheina. gadis ituenggelengkan kepala dan meminta Rian untuk segera duduk.


"Mas, aku nggak papa," Sheina tersenyum tipis. Rian yang mendengarnya, kembali duduk di samping gadis itu.


"aku hanya terharu karena kini, sebentar lagi, aku akan segera di panggil Bunda," senyumnya mengembang.


tangan Sheina meraih tangan besar suaminya. " terimakasih, terimakasih untuk semua kesabaran kamu yang menghadapi aku," Rian yang mendengarnya, hanya terswnyum tipis dan mengelus kepala sang istri.


laki laki itu swgera menarik tangan sang istri untuk masuk dalam dekapannya. " sekali lagi, terimakasih atas semua yang telah kamu berikan pada ku," Rian menangkup wajah istrinya.


sehingga mata mereka saling bertemu dan sama sama tersenyum. mereka bahkan tak memperdulikan longkungan sekitar.


mungkin jika Sheina sadar, gadis itu akan merasa malu karena Sheina mwmang pemalu orangnya.


"apa kamu sudah bisa mencintai aku,?" tanya Rian yang menatap dalam mata indah istrinya.


swketika, wajah Sheina langsung memerah dan segera menunduk. " dikit. " ucapnya lirih.


hal itu membuat Rian semakin bahagia. walau baru sedikit, jika sering di pupuk, akan menjadi semakin subur. dan Rian berjanji, dirinya akan memupuknya setiap hari bahkan setiap saat.


mereka segera keluar dari rumah sakit dan memasuki mobilnya.


"kita mau kemana,?" tanya Rian menoleh pada sang istri. Sheina yang mendengarnya, segera menoleh pada sang suami.


"kebetulan Mas, Anggun ngajak aku ketemuan di cafe Danur, boleh ya," Sheina meminta ijin dengan wajah memelas. karena gadis itu tau jika sang suami sedang masa masa pisesif.


"sayang," Rian ingin sekali kelarang sang istri. apa lagi, disana nanti akan ada banyak sekali mata laki laki yang memandangnya liar. dan Rian tidak menginginkan itu.

__ADS_1


"plis sayang ya," pinta Sheina dengan wajah memelasnya. hal itu sepertinya sukses membuat Rian luluh.


terbukti dengan anggukan kepala Rian yang di sertai senyuman. sontak saja, Sheina yang mendengarnya, segera bersorak senang seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan.


"yeee Makasih sayang," Sheina segera mengecup pipi sang suami.


dan hal itu membuat Rian tersenyum bahagia. karena selama ini Rian selalu yang memulainya. dan sekarang, sang istri juga ikut agak agresif.


hal itu membuat Rian tak henti hentinya tersenyum. dan hal itu membuat Sheina agak panik. karena merasa jika sang suami beneran kesurupan.


"mas ih, jangan bikin aku panik deh " tegurnya seraya mengusap tengkuk belakangnya..


Rian yang mendengarnya, segera mengacak acak rwmbut istrinya " siapa yang bilang Mas itu kesurupan. mas itu senyum karena kamu sekarang telah mengalami kemajuan." Rian tersenyum tipis.


Sheina yang awalnya merasa khawatir, kini berubah dengan ekspresi malu karena mendengar ucapan sang Suami.


"cie, kenapa malu,?" tanya Rian menggoda dan menoel dagu istrinya. Sheina segera menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.


Rian yang melihatnya, segera mengecup kepala sang istri berkali kali. kemudian menyalakan mesin mobilnya dengan masih dengan posisi di peluk oleh sang istri.


"Mas, kenapa nggak bilang kalau mau jalanin mobilnya. kan aku bisa memperbaikl duduknya," Sheina segera menjauhkan tubuhnya dan hendak duduk di kursinya.


"nggak usah geser, biarkan saja seperti ini," Rian memeluk tubuh istrinya dan tamgan yang satunya lagi, di gunakan untuk menyetir.


*****


tak lama, mereka telah sampai di depan restaurant Danur dan dengan perlahan, mereka segera turun dari mobil.


dan benar dugaan Rian, jika semuw mata laki laki itu menatap sang istri dengan tatapan kagumnya.


ingin rasanya, laki laki itu.menyongkel mata mereka yang berani beraninya menatap pujaanya dengan tatapan mendamba.


dengan cepat, Rian segera menganggandeng tangannya dan menariknya untuk segera masuk ke dalam.


Sheina yang menyadari raut wajah sang suami. gadis itu tersenyum tipis. " Mas kalau sedang cemburu, sangat menggemaskan," bisik Sheina pada Rian.


"jangan berani beraninya, kamu memancing Mas jika tidak mau menyesal. " Rian berkata dengan penuh penekanan.

__ADS_1


Sheina yang mendengarkan ucapan sang suami, hanya bisa tersenyum tipis. " coba kita lihat," gumamnya pelan.


mereka segera masuk ke ruang VVIP yang sudah di pesan untuk mereka. karena sama dengan Rian. Kenzopun juga tidak ingin gadis pujaanya di pandang oleh orang lain.


"Sheina!!" teriak Anggun dan langsung berlari kearah sang sahabat.


sama halnya dengan Anggun, Sheina juga memeluk Anggun dengan aangat erat. bahkan sampai mendapatkan teguran dari Rian.


"sayang jangan terlalu kuat memeluknya, ingat ada anak anak kita di sana," tegur Rian dengan nada lembut dan tegas.


sontak saja, Sheina yanh mendengarnya, hanya tersenyum tipis. " Maaf Mas terlalu semangat," cengirnya.


sementara Anggun dan Kenzo yang mendengarnya, hanya busa melongo.


"loe sekarang hamil kembar,?" tanya Anggun yang masih tak percaya.


"hehe iya Nggun,"senyum Sheina mengembang sempurna.


"wah selamat ya, semoga selalu sehat ya, ponakan ponakan Aunty," elusnya pada perut sahabatnya. "semoga segera menyusul," Anggun segera memeluk sahanatnya dari samping.


dan mereka segera menuju meja makan. guna menyantap makanan mereka.


dan diantara mereka, Sheina adalah orang yang paling lahap. semua orang tersenyum tipis.


"gitu ya, kalau udah hamil,?" tanya Kenzo bergumam pelan. dan untungnya, semua itu tak di dengar oleh yang lain.


"oh iya, kalian kapan ijab qobulnya,?" tanya Sheina setelah mereka berempat selesai makan.


"besok," jawab mereka berdua serempak. dan kemudian, tanganya terulur mengambil paperbag di dalam tasnya.


"ini buat kalian," Anggun menyerahkan paperbag itu pada Sheina.


"ini apa,?" tanya Sheina.


"itu seragam kalian kebaya dan juga baju batik untuk kalian berdua," Anggun terssnyum tipis. " drescodenya warna putih biru dan untuk akad nikah kita cuma undang kalian sebagai saksi. jadi kalian hatus datang lebih awal," lanjutnya.


Sheina yang mendengarnya, hanya mengangguk. dan mereka segera pamit untuk pulang.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2