
setelah berkumpul dengan keluarga Bi Inem, Sheina menutuskan untuk beristirahat..
tanpa sadar, dirinya meneteskan air mata. " kenapa, nasibku gini amat," Sheina memeluk tubuh dengan kedua tangannya.
"maafin gue ya Vin, gara gara gue, loe harus pergi ninggalin kita semua. andai saja, loe nggak nolongin gue, pasti sekarang, loe masih bareng bareng kita," Sheina berbicara seraya sesenggukan.
lama gadis itu menangis, tak terasa Sheina terlelap karena merasa lelah.
***
saat membuka mata, Sheina merasa sangat terkejut. karena kini, dirinya berada di sebuah hamparan rumput yang sangat indah.
dan di tengah tengahnya, ada sebuah taman bunga yang sangat indah.
karena seumur hidupnya, Sheina tidak pernah melihat bunga itu. membuat gadis itu terkagum kagum.
"bagus nanget bunganya," gumamnya seraya mengayunkan langkah, mendekati sekumpulan bunga itu.
baru dua jengkal melangkah, pundaknya seperti di tepuk dari belakang oleh seseorang. dan hal itu, refleks membuat Sheina menoleh.
dan mendapati, seseorang yang sangat dirinya kenal, tengah menatapnya, dengan senyumqn tipis di wajah tampannya.
"Ke-Kevin, loe,.." belum sempat gadis itu melanjutkan kata katanya, tangan Kevin, telah terlebih dulu mendarat di bibir mungil milik Sheina.
"sstt, loe nggak boleh ngomong apa apa. karena sekarang, adalah jatah gue untuk ngomong. soalnya, kalau loe yang ngomong, ntar nggak kelar kelar," Kevin berucap seraya menarik hidung Sheina.
hal itu, sukses membuat Sheina mendegus kesal. " ish nyebelin banget sih," gerutu Sheina seraya mengusap hidungnya dengan pelan.
Kevin hanya terkekeh kecil melihatnya. kemudian, kedua tanganya, menyentuh kedua bahu Sheina.
sejenak, Sheina dan Kevin saling menatap.dan tak lama, laki laki itu, tersenyum tipis pada gadis cerewet di depanya.
"Vin, maafin gue, gara gara gue, loe jadi pergi ninggalin kita semua," Sheina berucap seraya berlinang air mata.
Kevin menggelengkan kepala. " bukan itu, bukan salah loe, emang udah takdirnya aja, gue harus pergi ninggalin kalian," senyumnya, tak pernah luntur saat mengatakan hal itu.
"tapi, gara gara gue, loe jadi kepisah sama Anggun," Sheina masih menyalahkan dirinya sendiri.
"bukan, itu bukan salah siapa siapa, memang Anggun hanya milik kak Kenzo," Kevin berkata, seraya mengusap air mata Sheina.
"gue pamit ya, jaga diri loe baik baik, karena gue udah nggak bisa jaga loe lagi," lanjut Kevin seraya mencubit pipi sahabatnya itu. " maaf, jika gue belum bisa jadi sahabat yang baik, loe sama Anggun adalah orang orang baik yang pernah gue temui," Kevin mengayunkan kakinya menjauh dari sana.
"Vin!!" teriak Sheina. dan seketika itu juga, gadis itu terbangun dari tidur panjangnya. di lirik jam yang berada di atas kepala ranjang.
__ADS_1
disana, terlihat waktu sudah menunjukan pukul tiga pagi. dengan perlahan, Sheina beringsut dari tempat tidur, dan segera kekamar mandi.
entah mengapa, gadis itu merasa tubuhnya sangat gerah dan ingin sekali mandi.
"duh, nggak biasanya, gue gerah begini, dan nggak biasanya juga gue kelaparan seperti ini," gumam Sheina seraya berjalan ke kamar mandi.
kamar mandi di sinu, berada di belakang di samping dapur. sehingga Sheina, harus melewati lorong ruang tengah yang sangat gelap.
"duh, gelap banget lagi nih," gumam Sheina seraya berjalan berhati hati. dan tiba tiba, ada tangan yang menyentuh pundaknya.
"astaghfitullah, Neng, bikin kaget aja," seru Sheina seraya menyentuh jantungnya yang berdentum kencang akibat terkejut.
"hehehe Kak Sheina ngapain disini,?" tanya Neneng.
"aku mau mandi Neng, gerah banget ini," Sheina mengeluh ke gerahan.
membuat Neneng, mengerutkan kening karena kebingungan.
"gerah gimana kak, orang dingin begini,?" tanya gadis itu kebingungan.
karena memang, hawa di sini sangat dingin. sehingga, jarang orang yang mau mandi. dan mereka hanya memilih cuci muka saat berangkat bekerja.
"entahlah aku merasa gerah aja," ucapnya seraya mengedikkan bahunya.
akhirnya, mereka berdua, masuk kedalam kanar masing masing.
jika Neneng masuk ke kamar pribadinya. Sheina masuk ke dalam kamar mandi untuk segera membersihkan dirinya.
***
setelah melakukan aktivitas mandinya, Sheina bergegas keluar dari kamar mandi dan segera menuju ke dapur untuk membuat masakan.
kebetulan, semua penghuni di sini, masih terlelap. karena memang, waktu masih menunjukan pukul setengah empat pagi.
dengan telaten, gadis cantik itu, mulai memotong motong bahan bahan masakan untuk di olah. terlihat, tangannya begitu terampil saat memasak.
Sheina memasukan semua bahan yang akan ia masak. dan tangan yang satunya menggoreng ikan asin.
karena suara berisik itu, membuat Bi Inem dan Pak Heru, menghampiri Sheina.
"eh, Bi Pak, maaf ya, kalau Sheina jadi ganggu kalian istirahat," Sheina tampak merasa tidak enak.
"enggak papa Neng, Neng Sheina ngapain di sini,?" tanya Bi Inem melongokkan kepalanya.
__ADS_1
"oh, ini Sheina sedang masak Bi, soalnya Sheina gabut banget gabisa main ponsel," ucap gadis itu tersenyum tipis.
"loh, kalau gabut, kenapa nggak tidur aja Neng,?" tanya Bi Inem.
"gerah Bi, makannya Sheina kebangun terus mandi dan keramas. terus nggak tau mau apa, masak deh," senyumnya. seraya menuangkan ikan asin di piring.
hal itu, membuat sepasang suami istri itu, saling melempar pandangan.
"di sini, dingin banget lho neng, kenapa kok bisa kegerahan,? kayak orang yang sedang hamil aja," crletuk Bi Inem terkekeh kecil.
Deg
jantungnya berdebar sangat kuat saat mendengar penuturan wanita paruh baya itu
"ha-hamil,?" tanya Sheina dalam hati. mendadak, hstinya merasa gelisah sendiri. "apa mungkin aku hamil,?" tanya gadis itu, entah pada siapa.
"emm nggak mungkin lah hamil, orang baru sekali ini," Sheina mencoba menengangkan dirinya.
tak lama, masakanpun sudah siap. dan Sheina segera menatanya di meja makan.
Sheina kembali ke kamarnya, dengan mengganti baju dsn sedikit berdandan. agar wajahnya tak terlihat pucat.
setelah lima belas menit, Sheina keluar, dengan mengenakan jaket tebal dan celana jeans panjang.
***
saat ini, mereka semua, sedang melakukan sarapan di temani canda tawa. Sheina tersenyum hangat saat melihat pemandangan itu.
gadis itu, melihat gambaran keluarganya sendiri, sebelum perang dingin itu muncul. ada setitik rasa rindu dalam hatinya, hingga membuat Sheina menitihkan air mata.
namun, lebih banyak ego yang timbul. membuat Sheina, dengan cepat menghapus air matanya.
selesai makan, Sheina memutuskan untuk menagih janji Neneng, untuk mengajaknya berjalan jalan.
"Neng, ayo kita jalan jalan, kamu udah janji lho, sama aku,' Sheina mengetuk pintu kamar gadis itu.
"iya, sebentar Kak," sahutnya dari dalam kamar.
BERSAMBUNG...
Nb:mampir yuk di karya kakak kece yang satu ini Triple 1
__ADS_1