Pembalasan Gadis Abnormal

Pembalasan Gadis Abnormal
Chapter 57.


__ADS_3

Senyum gadis itu, mengembang saat melihat sang Kekasih, sudah berdiri di samping mobilnya dengan senyuman manis.


"udah lama nunggu,?" tanya Sheina seraya masuk kedalam mobil saat Adrian membukakan pintu.


"bsru aja, gue juga abos dari perpus tadi," jawabnya seraya memakai sabuk pengaman saat mereka sudah berada di dalam mobil.


oh, " ucap Sheina yang hanya meresponya, denganber-oh ria seraya menatap keluar jendela.


melihat pemandangan dari dalam mobil, adalah kesenanganya sejak kecil. entah apa yang terjadi, yang jelas, gadis itu merasa tenang dan damai saat melakukan hal demikian.


"kamu mau mampir dulu nggak di kedai seblak,?" pertanyaan Adrian itu, membuat Sheina yang sedari tadi fokus melihat pemandangan, langsung menoleh kearah sang kekasih.


dengan bersemangat, gadis cantik itu menganggukan kepala dan terswnyum lebar." mau aku mau Ian," ucapnya seraya menampakkan wajah berbinarnya.


melihat hal itu, Adrian terkekeh pelan seraya menggelengkan kepala karena tingkah kekasihnya yang sangat lucu.


"kamu itu sangat menggemaskan sekali, jadi pengen,..." ucapan Adrian, tiba tiba berhenti saat mendapatkan tatapan tajam dari Sheina.


seakan gadis itu tau apa yang akan laki laki itu katakan. membuat Adrian seketika menampilkan senyuman cengir kuda.


"enggak enggak sayang, aku tau apa yang kamu fikirkan kok," ucap Adrian seraya mengusak rambut kekasihnya iti.


tak lama setelah itu, mereka telah sampai di kedai seblak langganan laki laki itu.


"eh mas Adrian, mau makan seblak ya,?" tanya bapak bapak penjual.


"eh, Pak Mamat iya Pak dua ya, yang satu level lima, yang satu level..." ucapan Adrian terootong saat mendengar suara gadis di sampingnya.


"level tiga puluh Pak," ucap Sheina cepat. membuat si penjual itu, seketika melongo mendengarnya.


"serius si neng mau makan level segitu,?" tanya si penjual memastikan.


"seriuslah Pak, masak enggak," jawabnya seraya menyunggingkan senyuman manis.


kemudian si Bapak Penjual, memandang Adrian meminta penjelasa. dan dengan cepat, laki laki itu, menganggukan kepala.


walau dalam hatinya, laki laki itu meringis membayangkan jika akan seperti apa warna makanan itu.


karena di level lima saja sudah sangat pedas. memang benar si Sheina ini adalah cerminan gadis tangguh.


tak lama, pesanan yang di pesan oleh mereka, telah matang dan salah satu oelayan kedai itu, menyerahkan dua mangkuk mie seblak.


Adrian meneguk salivanya swndiri saat melihat warna makanan kekasihnya itu.


dan dengan lahapnya, gadis cantik itu memakannya dengan semangat. seakan tak merasakan apapun pada lidah dan perutnya.


"sayang, apakah kamu baik baik saja,?" tanya Adtian saat menyadari jika makanan sang kekasih, sudah hampir habis.

__ADS_1


"hah, kenapa memangnya,?" tanya Sheina dengan ekspresi bingungnya.


'emm gak papa, kita lanjut makan aja setelah ini kita pulang," ucapnya seraya melahap aisa seblaknya.


tak lama, setelah membayar, Sheina dan Adrian keluar dari kedai itu dan menuju mobilnya.


"sepertinya, kamu kenal dengan penjual seblak itu,?" tanya Sheina saat berada didalam mobil.


"oh, itu namanya pak Mamat, langganan kedua orang tuaku dulu," ucap Adrian seraya tersenyum kecut.


ada setitik kesedihan dari wajah tqmpan laki laki itu. dan itu, sempat tertangkap oleh netra Sheina.


"kamu kenapa Ian, ?" tanya Sheina yang menyadari perubahan kekasihnya itu.


Adrian memggelengkan pelan kepala dan tersenyum tipis. " aku hanya sedang kangen aja sama mereka," ucapnya pelan.


Sheina yang mendengarnya, menjadi semakin penasaran. siapa yang di maksud mereka.


"mereka siapa,?" tanya Sheina yang begitu penasaran.


"orang tua aku," Adria menoleh swkilas kearah Sheina.


"memangnya, dimana mereka,?" tanya gadis itu yang semakin penasaran.


"di surga," satu kata itu, mampu membuat Sheina menegang dan mendadak merasa bersalah.


tak lama kemudian, mereka kini telah sampai di depan rumah Sheina.


"Ian, kamu nggak masuk dulu,?" tanya Sheina pada kekasihnya itu.


"enggak deh sayang, aku langsung pulang aja," ucap Adrian tersenyum tipis.


"sekali lagi, aku minta maaf ya Ian soal yang tadi," ucap Sheina merasa tak enak pada laki laki itu.


"enggak papa sayang, lagian pertanyaan kamu itu, tidak mengandung kriminal kok, kenapa harus minta maaf," ucap Adrian tersenyum tipis.


membuat Sheina seketika memukul lengan Adrian pelan.


"ish kamu mah, nyebelin!" ucap Sheina memanyunkan bibirnya. membuat Adrian terkekeh pelan.


"kamu janji ya, jangan pernah tinggalin aku sampai kapanpun," ucap Adrian tersenyum manis.


"pasti itu, kamu adalah salah satu orang, yang paling aku sayangi setelah orang tua aku," ucapnya seraya menggenggam tangan Adrian.


"dan kamu, adalah wanita yang paling aku sayang, dan satu satunya yang akan berada di hati aku," ucap Adrian membalas genggaman tangan Sheina. dan mengecupnya.


"terimakasih sayang, " ucap Sheina. dan kemudian, mereka berdua turun dari mobil.

__ADS_1


"aku pergi ya sayang, assalamu'alaikum," ucap Adrian seraya memasuki mobilnya kembali.


Sheina menganggukan kepala dan melambaikan tangannya.


setelah Adrian berlalu pergi, Sheina segera masuk kedalam rumahnya.


"assalamu'alaikum," ucapnya seraya membuka pintu.


"wa'alaikum salam," ucap semua orang, yang berada di ruang tamu.


Deg


jantung Sheina serasa ingin lepas dati tempatnya, saat mendapati kedua orang tua Rian.


"mau apa mereka disini,?" tanya Sheina dalam hati.


"sayang, sini " ucap Bu Rianti pada putri kesayangannya itu.


Sheina hanya menganggukan kepala dan menurut duduk di antara kedua orang tuanya.


"silahkan di lanjutkan karena sekarang, anaknya sudah berada di sini," ucap Bu Rianti pada tamunya itu.


"Sheina, tante boleh minta tolong,?" tanya orang itu. yang tak lain, adalah Bu Selvy dan Pak Gibran.


entah mengapa, dirinya menjadi gelisah saat mendengar pertanyaan Wanita paruh baya itu.


"ada apa,? " tanya Shena to the point. karena memang, dirinya masih merasa risih dengan keluarga Rian.


walaupun, mereka tak membuat salah dengan drinya. tapi entah mengapa, Sheina merasa malas saja.


mendengar jawaban ketus dari gadis di depanya, membuat Bu Selvy, menjadi ragu untuk mengatakannya.


"Sheina, jangan berbicara seperti itu, sama orang yang lebih tua, nggak sopan," tegur Bu Rianti dengan nada marah.


membuat Sheina seketika tersadar dari kesalahanya dan seketika menundukan kepala." maaf," ucal Sheina pelan.


"tidak apa apa Bu, mungkin saja, Sheina masih merasa kecewa dengan anak kami," ucap Bu Selvy.


"jadi begini Sheina, dua minggu lagi, di butik tante, sedang ada pameran kebaya modern. jadi, tante minta kamu jadi modelnya. apakah kamu mau,?" tanya Bu Selvy dengan hati yang was was.


"maaf, tapi Sheina tidak bisa," ucap Sheina menolak dengan halus.


"plis Sheina, kali ini aja ya,?" ucap Bu Selvy dengan wajah memelas.


dan mau tidak mau, Sheina akhirnya menganggukan kepala. karena merasa tidak enak dengan wanita paruh baya yang berada di depanya.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2