Pembalasan Gadis Abnormal

Pembalasan Gadis Abnormal
Chapter 33


__ADS_3

tanpa mereka sadari, sedari tadi ada yang menatap mereka, dengan tatapan tajamnya. bahkan laki laki itu, menghembuskan nafasnya berkali kali, untuk meredakan emosinya, yang naik ke ubun ubun.


dengan segera, laki laki itu keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah menenui kedua orang tuanya.


"Pah, Mah," ucapnya seraya duduk di kursi ruang keluarga.


"ada apa,?" tanya sang Papa yang merasa heran dengan ekspeesi wajah anaknya.


"Rian mau ngomong," ucapnya setelah menghembuskan mafas kasar.


"mau ngomong apa,? tanya Bu Selvy berkata lembut pada sang anak. sementaraPak Gibran, hanya terdiam. seraya mendengarkan lanjutanya.


"Rian mau melamar Sheina kembali," ucap Rian. membuat kedua orang tuanya langsung menatapnya dengan tatapan menyelidik.


"sayang, kita kan sudah pernah melamar, dan Sheina menolak kamu," ucap Bu Selvy.


"ya pokoknya, Rian minta di lamarkan sekarang," ucap Rian bak seperti anak kecil yang memaksa meminta mainanya.


membuat kedua orang tuanya menggelengkan kepala mendengar ucapan anaknya itu.


"Rian Rian, pantas saja kamu di tolak oleh Sheina, karena memang kamu belum ada sifat dewasa sama sekali," ucap Pak Gibran yang sedari tadi hanya berdiam diri.


"lagipula, bukanya kamu sudah memiliki kekasih,? bagaimana bisa kamu ingin mendekati Sheina,?" tanya Pak Gibran.


"aku udah lama putus sama Hanum pah, dia selingkuh di belakang aku," ucap Rian. seakan ogah untuk membahas wanita itu


membuat Pak Gibran menghela nafas lanjang mendengarnya.


"sudah papa duga, dia memang, tidak tulis padamu," ucap Pak Gibran.


membuat Rian, memutar bola mata malas. karena merasa muak dengan nama itu.


"sudahlah pah, aku nggak mau mendengar nama wanita itu di sebut lagi," ucap Rian. beranjak dari duduknya


membuat Rian seketika menoleh ke arah sang Papa. namun, dirinya tak menanggapi omongan sang Papa karena tujuanya saat ini, adalah mendapatkan Sheina.


entah dengan cara halus atau kasar. dirinya tak memperdulikanya. karena dirinya sudah hampir gila sekama beberapa bulan ini.


bahkan, dengan mantan kekasihnya dulu, Rian tak seperti itu. dan entah kenapa, dengan Sheina membuatnya jatuh cinta yang tak pernah dirinya rasakan.


katakanlah, dirinya egois, tapi sungguh dirinya merasa frustasi dengan kadaan ini.

__ADS_1


" Rian nggak peduli apa yang Papa katakan, yang pasti, Rian harus mendapatkan apa yang Rian mau," ucapnya seraya berlalu pergi dari sana.


membuat kedua orang tuanya, hanya bisa menggelengkan kepala seraya mengelus dada.


ini merupakan kesalahan mereka yang terlalu memanjqkan Rian. hingga saat ini, anak itu sudah berusia dua puluh satu tahun, tapi sifatnya masih seperti anak kecil.


mereka sangat mengharapkan hadirnya Rian di tengah tengah keluarga kecilnya. apalagi, saat mereka tau, jika mereka akan di karuniai seorang bayi laki laki. membuat Kebahagiaan Gibran dan Selvy, semakon membuncah. karena akan menjadi pewaris tunggal keluarganya.


maka dari itu, dengan segala sesuatu yang melatarbelakanginya, membuat Gibran dan Selvy, selalu memanjakan Rian.


dan membenarkan spapun yang anak itu perbuat. bahkan, perbuqtan menghina seseorang pun mereka biarkan karena mewajarkan sifat anak anak.


tapi kini, mereka berdua sangat menyesal dengan apa yang terjadi. jika boleh memilih, mereka akan memilih mendidik Rian sejak Dini, agar akhlaknya baik.


tapi, kini semua telah berlalu, dan tidak dapat memutar kembali waktu yang telah berlalu.


mereka hanya berharap, suatu saat Sheina bisa merubah sifat anaknya. oleh karena itu, Bu Selvy dan Pak Gibran setuju. saat Rian mengutarakan niatnya, untuk melamar Sheina.


karena Pak Gibran dwn Bu Selvy yakin dengan ketegasan seorang Sheina.


Rian segera menaiki anak tangga, untuk menuju kamarnya. ia merebahlan tubuh kekarnya, di ranjang dan menatap lsnhit langit kamar.


"semoga saja, aku bisa mendaoatkanmu, apapun yang terjadi," gumamnya seraya memandang foto yang berada di layar ponselnya.


tak lama,ponselnya berdering, dan tertera nama Hanum di sana.


dengan malas, Rian mencoba mematikan panggilan itu, tapi naas, Rian malah menerimanya. entah karena dirinya sedang melamun,atau apa, tapi yabg jelas Rian salah memencet tombol.


"halo sayang," sapa Hanum dengan nada majanya. dulu, jika Hanum sedang manja, Rian akan merasa senang dan gemas.


tapi sekarang, dirinya akan merasa muak dengan tingkah wanita itu.


"kenapa,?" tanya Rian dengan nada dinginnya.


"eh, sayang kamu kenapa, kenapa kamu jadi dingin gitu sama aku,?" tanya Hanum dengan nada semakin manja.


membuat Rian semakin ingin muntah di buatnya. " sudahlah aku lelah dan sekarang, ingin istirahat," ucap Rian. seraya langsung menutup ponselnya.


"sial, beraninya dia mengabaikan ku," gumam Hanum seraya menguatkan cengkramannya pada pinggiran meja


lalu, dengan cepat, Hanum keluar dari kamar, seraya menyambar kunci mobil yang berada di samping ranjang.

__ADS_1


kemudian dirinya turun dan menghampiri kedua orang tuanya yang berada di kolam ikan.


"Mom, Dad, Hanum pergi dulu ya," ucapnya, seraya meraih punggung tangan kedua orang tuanya.


"mau kemana,?" tanya Miranda, Momynya Hanum.


"mau kerumah Rian sebentar," ucapnya seraya semakin menjauh pada jedua orang tuanya.


"hati hati," ucap Wisnu pada putrinya. Hanum hanya menganggukan kepala.


dan segera menaiki mobilnya, melajukannya menuju ke rumah sang kekasih.


lima belas menit kemudian, wanita cantik nan elegan itu, sudah sampai di depan rumah Rian.


Hanum, segera mengetuk pintu pintu. dan tak lama seseorang membuka pintu.


"permisi, Rianya ada,?" tanya Hanum tersenyum manis.


"oh, Tuan Ruan ada Non, beliau ada di kamarnya," ucap wanita paruh baya dan mempersilahkan Hanum untuk masuk.


"silahkan menunggu di sini Non, sebentar lagi pasti Tuan turun," ucap wanita itu.


Hanum hanya menganggukan kepala. dan tak lama, ada seseorang yang turun dari tangga menghampirinya.


"eh, ada nak Hanum," ucap Bu Selvy mencoba masih bersikap ramah pada wanita itu.


"eh, tante apa kabar,?" ucap Hanum seraya mencium punggung calon mertuanya.


haish kau pede sekali nona, siapa yang ongin menjadikan dirimu Nyonya di keluarga Hutama. huh mimpi terus saja.


"baik nak, bagaimana keadaan kedua orang tua kamu,?" tanya Bu Selvy seraya duduk di sebelah wanita itu.


"semua sehay tante," ucapnya terawnyum tipis.


tak lama, Oak Gibran juga ikut turun, dan bergabung bersama Hanum dan sang istri.


"eh, ada Hanum, apa kabar,?" tanya Pak Gibran.


"baik om," ucapnya hanya tersenyum tipis. " huh, kenapa malah yang datang mereka, kemana Rian," gumamnya dalam hati.seraya matanya, sesekali, melirik ke sana kemari.


"cari Rian ya, Num,?" tanya Bu Selvy. membuat Hanum seketika tersenyum tipis dan menganggukan kepala. "Rian sedang istirahat sayang, kalau kamu nggak keberatan tunggu aja, kalau keberatan lebih baik pulang," ucapnya lembut tapi sarat akan sindiran.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2