
hal itu, membuat swmua orang merinding di buatnya. apakah itu benar Sheina, ataukah orang lain, semua orang bertanya tanya.
"kalian semua memang jahat!!" Sheina berlari kearah lantai kamarnya,. krmudian membanting pintu itu, hingga membuat semua orang kaget.
tak bersselang lama, Sheina keluar dari kamar dengan membawa koper besar. gadis itu, menggeret kopernya, menuruni anak tangga.
"sayang, kau mau kemana,?" tanya Bu Rianti sangat terkejut. mendapati, sang Putri tercinta sepertinya, akan pergi dari sini.
"ini kan, yang Ibu sana Bapak inginkan,?" tanua Sheina seraya berlinang air mata.
"tidak sayang, itu tidak benar," Bu Rianti menggelengkan kepalanya.
"apanya yang tidak Bu, jika bukan seperti itu, seharusnya kalian mencari darah yang cocok sama Sheina. jangan malah memberikan kesempatan, untuk orang yang telah menghina putri kalian," Sheina berkata, seraya menatap tajam kearah Rian.
dengan terburu buru, Sheina meninggalkan kediamanya dan segera memanggil taksi online. Rian yang menyadari itu, segera mengejarnya.
"Edy, kita kejar istri saya sekarang," Rian berucap dengan melangkahkan kakinya, terburu buru.
"Nak Rian, tolong selamatkan Sheina, Ibu takut karena Sheina belum pernah semarah ini pada orang," Bu Rianti menangis sesenggukan.
untuk sesaat. Rian tertegun dengan ucapan Ibu mertuanya. berarti, ini adalah pertama gadis pujaannya itu marah, dan itu semua sebab dia,
oh, ayolah kenapa rasanya sangat menyakitkan, padahal, dirinya yang menginginkan hal ini.
dengan cepat, Rian mengwnggukan kepala dan segera masuk ke dalam mobilnya. tak lama, mobil itu, melesat dengwn cepat, minggalkan rumah Sheina.
sementara Bu Rianti hanya bisa menagis dengan memeluk suaminya.
"bagaimana, kalau Sheina bernasip sama seperti Kevin Pak, Ibu takut, takut sekali kehilangan putri kita satu satunya," ucap Bu Rianti swsenggukan.
"Bu, istighfar, semoga anak kita akan baik baik aaja"pak Rayn mencoba menengkan sang istri. walaupun di dalam hatinya, dia juga merasa ketakutan jika sesuatu, terjadi oada putri semata wayangnya itu.
sementara itu, kedua orang tua Rian yang sedari tadi hanya diam, kini tampak ikut bersedih.
"apa yang Mama takutkan, sekarang, terjadi juga kan Pa," Bu Selvy memeluk tubuh sang suami. Pak Gibran dengan tenang menghibur sang istri.
...****************...
sementara itu, di perjalanan, taksi yang di tumpangi oleh Sheina, mendadak di hentikan oleh sebuah mobil.
"neng, ada mobil yang menghadang kita," pak supir itu, tampak sekali raut cemasnya.
__ADS_1
dengan cepat, gadis itu segera keluar dari dalam taksi dan segera menghampiri mobil yang ada di hqdapanya itu.
plak
satu tamparan keras, lagi lagi mendarat mulus di wajah tampan Rian. rasa kebas dan perih, membekas kuat di wajah tampannya.
namun, laki laki itu, hanya bisa terdiam. karena memang, ini semua salahnya.
"mau anda itu apa sebenarnya,?" tanya Sheina dengan wajah berangnya.
"aku hanya ingin kamu ikut aku sekarang," Rian berusaha menarik tangan sang istri.
tapi dengan sekuat tenaga, gadis itu meronta minta di lepaskan.
"lepaskan!!," ucapnya seraya menepis tangan laki laki itu, dengan kasar.
dengan gerakan cepat, Rian memberikan kode pada Edy, dengan kedua matanya. dan tiba tiba,..
"emmph" Sheina meronta sekuat tenaga. tapi lama ke kamaan, tenaga gadis itu, mulai melemah dan beberapa saat kemudian, gadis itu tak sadarkan diri.
"maafkan aku ya sayang," ucap Rian berbisik di telinga gadis itu.
Rian dengan cepat, membopong tubuh sang istri dan membawanya pulang ke rumahnya sendiri.
"baik Bos," ucapnya, segera menyalakan mesin mobil dan mengendarainya, meninggalkan tempat itu.
"maafkan aku, tapi, hanya dengan ini, kamu bisa menjadi milikku sepenuhnya," bisik Rian pada telinga istrinya itu.
tak berapa lama, ponsel Rian berdering dan mendapati, nama sang Ibu di sana.
"halo, Mah assalamu'alaikum," ucap Rian saat sambungan itu terhubung.
"wa'alaikum salam, gimana Rian, apa kamu sudah menemukan Sheina,?" tanya Bu Selvy cemas.
"sudah Mah, aku sedang bersamanya, Mamah sama semuanya tenang saja, Sheina aman bersama Rian. dan sekalian, Rian mau minta izin, untuk membawa Sheina pulang ke rumah kami," ucapnya tersenyum tipis.
"iya Rian, Ibu titip Sheina ya, jaga dia, jangan buat anak Ibu menjadi trauma kembali," pesan Bu Rianti. seakan tau apa yang akan di lakukan oleh laki laki itu.
kini, terdengar suara Ibu mertuanya, yang sedang menelponya
Rian hanya tersenyum tipis menanggapi omongan mertuanya itu. " maafkan Rian Bu, tapi hanya ini satu satunya cara, agar Sheina menjadi milikku sepenuhnya," ucapnya dalam hati.
__ADS_1
tak berselang lama, mobil yang mereka tumpangi, telah sampai di depan rumah mewahnya. dan dengan swgera, laki laki itu, keluar dari dalam mobil, sembari menggendong tubuh istrinya.
"Ed, kau segera urus semuanya oke," ucap Rian pada supir sekaligus bodyguardnya itu.
"siap bos, laksanakan!!" ucapnya tegas dan masuk kembali, kedalam mobil.
saat di dalam mobil, Edy menghela nafas panjang, saat membayangkan apa yang akan terjadi pasa supir taksi tersebut.
Rian memerintahkan, Edy untuk menutup akses pekerjaan pada supir taksi itu. karena di anggap membawa kabur istri orang.
Edy menghela nafas berat mendapatkan pekerjaan semacam itu. bagaimana dia bisa, melumpuhkan pekerjaan orang, hingga orang itu menjadi pengangguran.
sementara itu. Rian telah sampai di dalam rumahnya Rian di sambut hormat, oleh semua para Maid di rumah itu.
"selamat datang, Tuan," sapa semua pelayan pada laki laki tampan itu.
"hmm," hanya itu yang di ucapkan oleh laki laki itu. tiba tiba, ada sebuah ide muncul dari otaknya itu. membuatnya, berhenti sesaat, dan memandangi satu persatu para pelayan di rumahnya itu.
membuat Para Maid yang sedang di perhatikan itu, menunduk ietakutan.
"kalian semua, persiapkan dekorasi kecil dan letakan, di kamar pribadi saya, buat semewah mungkin kamar pengantin kami," ucapnya datar tanpa ekspresi.
"baik tuan," ucapnya serempak dan kembali menundukan kepala.
"oh iya, kamu, dandani istri saya, menggunakan pakaian ini," Rian mrnunjuk salah satu dari para Maid yang tengah berdiri itu.
dengan sangat hati hati, salah satu dari mereka, segera menerimanya, dan mulai rnegikuti langkah majikannya itu.
sesqmpainya di kamar pribadinya, Rian segera meletakan tubuh istrinya itu, secara perlahan.
"maaf, "hanya satu kata itu, yang mampu keluar dari mulut laki laki muda itu.
entah mengapa, saat Rian menyadari jika dirinya sedang jatuh cinta dengan Sheina, laki laki itu, merasa seakan hatinya, menjadi selembut permen kapas.
bahkan, laki laki itu, hanya terdiam. saat istri kecilnya itu, melayangkan beberapa kali tamparan pada pipi mulus Rian.
membuktikan, jika kekuatan cinta itu sangat kuat dan dahsyat
BERSAMBUNG...
Nb: mampir sini kak di karya kak Muda Anna
__ADS_1