PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )

PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )
Bertemu Irfan


__ADS_3

" Om teman kerjanya ibunda?", Tanya bocah ganteng itu pelan-pelan merasa ingin tahu.


" iya, Om ini teman kerja Bunda juga teman kuliahnya Bunda", jawab Irfan dengan mengusap kepala anak kecil yang menggemaskan itu.


" Om jangan sering-sering main ke sini ya".


" kenapa?".


" karena Hilmi nggak mau kalau om nanti merebut Bunda, Hilmi cuma mau Bunda sayang sama Hilmi itu nggak boleh sayang sama orang lain apalagi Om", bocah itu berbicara dengan nada yang sangat dingin.


" Tidak kok, Om tidak mau merebut Bunda dari Hilmi kau main ke sini malah pengen jadi temennya Hilmi".


" Ilmi sudah banyak temennya Om Day care, jadi kalau Bunda pulang kerja Bunda hanya milik Hilmi ndak boleh ada orang di rumah ini", Hilmi bersikeras tidak mau ber akrab dengan Irfan.


" Baiklah baiklah.... maafkan Om deh Karena Om sudah mengantar Bunda Hilmi ke rumah ini saat pulang kerja tadi".


" Iya tapi kamunya nggak boleh main lagi sama bunda, Bunda hanya sayang sama Hilmi".


" Duh ini bocah.... belum apa-apa Sudah ditolak, bagaimana aku mau sering main ke sini kecil-kecil udah bisa jadi bodyguard ibunya", kuman Irfan dengan bibir yang tersenyum.


" kok bingung sih, emang itu bocah tadi bicara apa sama kamu Fan?", ujar Mutia ketika menyajikan kopi untuk Irfan saat melihat Irfan hanya terdiam.


" Putra mau itu pintar sekali, baru main sekali aja dia sudah langsung menolak kurbannya, hufffttt....", ujar Irfan dengan menggeleng-gelengkan kepalanya merasa tidak terima ditolak oleh anak kecil itu.


" Iya dia memang sangat protektif sekali kepadaku Fan, senangnya aku memiliki anak seperti dia", senyum lebar terukir di bibir sensual milik Mutia.


" Tidakkah kau ingin mencarikan dia Bapak Mutia?".


" hahaha.... Kamu ini bicara apa Irfan, aku nggak pernah berpikir Karena dia sudah memiliki Bapak sih meskipun belum pernah bertemu", jawab Mutia dengan tersenyum.


" Memang ayahnya Ada di mana Mutia?".


" Hemmmm.....". Hanya itu jawaban Mutia.


" Maaf jika aku kepo", Irfan merasa tidak enak hati karena telah menyelidiki akan keberadaan ayahnya Hilmy.

__ADS_1


" Ada kok ayahnya dia, di luar negeri Karena saya tidak mau ikut akhirnya kami pisah dan dia sudah memiliki istri kembali, Eiittsss ... tapi jangan salah sangka istrinya tuh sangat baik bahkan yang membelikan mainan dan untuk biaya istrinya itu selalu mengirimkan uang untukku, sangat-sangat baik jadi jangan berprasangka kalau aku pisah dengan suamiku karena wanita kedua tidak sama sekali", Mutia buru-buru menjelaskan karena tidak mau terjadi kesalahpahaman karena di sini yang diakui oleh Mutia sebagai ayahnya Hilmi adalah Aldiano bukan apa karena diatur pecah itu tertulis nama Aldiano Sahputra bukan Arjun.


Dan buat apa mengakui Arjuna sebagai ayahnya Hilmi toh lelaki itu tidak pernah tahu kehadiran Hilmi di dunia ini.


" Oh begitu".


" Yups".


" Memang kamu enggak cinta dengan suamimu?".


" kami dijodohkan".


" oh".


" Sudah ya jangan membahas suamiku karena saya sudah berpisah dengan dia dan dia juga sudah punya keluarga yang sebenarnya dia orang yang sangat baik sangat sangat baik, saking baiknya aku sampai merasa berhutang Budi padanya", Mutia terkekeh hambar ketika berbicara di akhir kalimat itu memang sungguh Aldiano dan keluarganya adalah orang yang sangat baik bagi Mutia terutama tante Mary.


Irfan hanya manggut-manggut mengerti dengan maksud dan dia pun merasa bersalah karena telah mengungkit masa lalu wanita dihadapannya itu.


" dia tidak suka jika aku main ke sini Mutia, dia takut aku merebutmu dari nya, karena menurutnya Kamu adalah milik dia satu-satunya", Irfan pun memberikan penjelasan jika pendapat bocah kecil itu sudah sedemikian jauh mengenai bundanya dan tentang kedatangannya hari ini ke rumah itu.


" Iya kamu memang single mom yang hebat".


" Tidak begitu juga Irfan, Aku begini karena hidup yang mengajariku", Mutia tersenyum hidupnya kini sudah merasa lebih baik setidaknya sudah tidak menggantungkan dengan keluarga tante Mery meskipun hanya sekedar makan untuk dia dan anaknya Mutia sudah bisa mencarinya sendiri.


" Diminum dulu keburu dingin kopinya".


" wah ternyata kopi buatanmu enak juga", ujar Irfan memuji kopi seduh tubruk buatan Mutia memang cukup nikmat di lidah nya.


" pasti, karena racikan kopi itu seperti perjalanan hidupku", Mutia pun berkelakar kemudian terkekeh lebar.


" Aku tidak menyangka lo, wanita yang sangat pendiam seperti dirimu bisa juga ya garing!", Irfan pun ikut terkekeh.


" Dan itu juga menurun keputramu, dia juga pendiam seperti dirimu namun dia mempunyai sisi kelelakian yang sangat kuat meskipun matanya mirip sekali dengan Mu tetapi auranya berbeda dia terlihat dingin dan juga tajam sekali jika menatap", Irfan memang langsung memperhatikan dengan detail mengenai Hilmi yang terlihat sedikit acuh, cuek dan ketus.


" Dia anak lelaki yang sangat tegas", Mutia memuji sang Putra.

__ADS_1


" Jelas kok sangat terlihat!".


" Oke aku pulang, takut jika kelamaan nanti bodyguard mu itu mengusirku hahaha", Irfan tertawa mengingat penjagaan bocah kecil itu terhadap bundanya.


" Yups... Sebaiknya memang kamu segera pulang", ujar Mutia setuju dengan putranya.


" Assalamualaikum.... Hilmy Om pulang dulu ya... ", Pamit Irfan pada putra sahabatnya itu.


Bocah tampan itu hanya melirik sekilas dengan wajah tak acuhnya kemudian melambaikan tangannya namun wajahnya terlihat datar saja.


" Senyum dong biar Om lekas pulang!", Suara Irfan mengharap bocah itu sedikit bersahabat dengannya, namun nihil bocah itu tetap tanpa respon yang berarti.


" Jawab salam Om Irfan dong nak!", Mutia membujuk putranya untuk merespon dengan baik pada orang lain.


" Bye!", Hanya suara itu yang terdengar tanpa menatap Irfan, wajahnya masih datar.


" Waalaikumsalam Om", Akhirnya Mutia yang menjawab salam perpisahan dari Irfan.


" Maafkan dia ya Fan, emang anaknya seperti itu sih", Mutia merasa tidak enak hati dengan Irfan.


" Tak masalah, emang anak-anak ya begitu jika menyangkut orang yang kurang disukai", Irfan menanggapinya dengan santai.


" Bye, sampai ketemu hari Senin", Irfan melambaikan tangan dari dalam mobilnya kemudian melajukan mobilnya ke jalan raya.


Ketika memasuki rumah kembali Mutia mendapati jagoan kecilnya itu menjeda ucapkan tangannya di dada dengan bibir mengerucut dan wajah cemberutnya.


" Bunda besok jangan bawa pulang Orang itu lagi ya?". bocah kecil itu pun kemudian mengeluarkan kalimat protesnya.


" jadi besok-besok enggak boleh Om Irfan main ke sini?".


-


-


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2