PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )

PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )
Bukan PDKT


__ADS_3

Hari ini Mutia dan pak Jodi tengah berada dilapangan untuk mengawasi jalanya pembangunan bangunan gedung sekolah tersebut.


Sesuai ucapan Mutia tadi pagi, kali ini Mutia dan Pak Jodi datang dengan membawa makan siang yang dipesandari restoran yang cukup terkenal di kota itu.


Walaupun hanya nasi kotak tetapi menu yang dipesan Mutia kali ini adalah nasi komplit dengan lauk burung puyuh goreng lengkap dengan sambel lalap serta buah


" Waahhh .... kita dapat makan siang gratis, Terima kasih pak bu", Seru seorang mandor yang menerima bungkusan makan dari mobil pengiriman tersebut.


" Iya pak, silahkan dinikmati, dan bagi bapak bapak yang sudah dibekalin makan siang oleh istri istrinya, mohon maaf ya atas keterlambatan informasi makan siang ini soalnya kita spontan saja, tidak merencanakan sebelumnya, tolong sampaikan pada seluruh pegawai permintaan maaf kami pak Mandor", Ujar Mutia pada pak mandor proyek tersebut.


" Iya bu, mari ... pak", Mandor tersebut menunduk hormat padaMutia dan pak Jodi.


" Mari ", Jawab pak Jodi.


" Ternyata begini saja para pegawai itu sangat senang ya mbak, selama saya bekerja kok tidak pernah kepikiran sedikitpun", Pak Jodi menggeleng-gelengkan kepalanya, merutuki dirinya yang ternyata selama ini begitu abai dengan orang sekitarnya khususnya para pegawai yang bekerja keras mewujudkan dan ikut mensukseskan proyek proyeknya tersebut.


" Maaf Pak!".


" kenapa harus minta maaf Mbak justru yang begini sangat saya syukuri, mempunyai kesempatan bekerja sama-sama Mbak Mutia ternyata memberikan saya pengalaman baru yakni berbagi kepada karyawan bawah seperti mereka, lihatlah mereka makan dengan lahap dengan wajah yang sangat gembira", martabak jadi tak lepas memandangi para pegawai yang tengah makan dengan cara berkumpul duduk mengelilingi di bawah pohon yang teduh Ada pula yang mengambil tempat lain yang tidak panas ada pula yang menyendiri.


" Iya Pak, lihat bahkan ada yang tetap memakan bekal dari rumahnya, bekal dari istri mereka", Ujar Mutia pada pak Jodi yang masih mengamati kegiatan makan siang para pegawai tersebut.


" Lho, terus nasi kotaknya dimakan juga?", Tanya pak Jodi heran.

__ADS_1


" Bukan pak, biasanya mereka bawa pulang nanti ketika selesai kerja intuk dimakan bersama dengan istri dan anak mereka di rumah", Jawab Mutia


" Kok mba Mutia tahu?", Tanya pak Jodi terheran kembali.


" Ya memang seperti itu pak, saya dulu dari kampung dan sebagian warga kampung bekerja sebagai kuli bagunan dan saya tahu dari tetangga yang suka menyiapkan bekal untuk suaminya yang hendak berangkat kerja, walau kadang hanya membawa lauk seadanya, seperti hanya tumis, sambal dan juga ikan asin", Jawab Mutia seperti itu adanya.


" Hemmm....", Pak Jodi manggut manggut kembali.


" Saya jadi merasa terharu Mbak Mutia, pertama Karena Mbak Mutia menyadarkan saya akan kebiasaan berbagi ini, yang kedua melihat mereka begitu perlihatkan wajah bahagianya memakan makanan seperti itu saja membuat saya speechless, belum lagi seperti yang Mbak Mutia ceritakan ada yang dibawa pulang dan dimakan bersama dengan keluarganya itu lebih lebih membuat hati saya semakin turunnya, Terima kasih Mbak Mutia, kegiatan hari ini adalah sesuatu yang sangat sangat membuat saya tidak hanya membuka mata namun juga hati saya, luar biasa", ujar Pak Jodi dengan mata berkaca-kaca.


Sungguh pengalaman hari ini menurut Pak Jodi adalah pengalaman yang sarat akan makna sehingga membuat hatinya bergetar dan tersadar betapa orang-orang yang bekerja dengannya selama ini Mereka bertaruh segenap tenaga untuk mewujudkan kesuksesan yang Pak Jodi rasakan saat ini.


" Sama sama pak, saya harap perusahaan tidak akan merugi jika seminggu sekali kita sedikit memanjakan para pegawai dengan menu makanan yang jarang mereka bisa nikmati ya pak", Ucap Mutia dengan tersenyum lebar.


" Mari kita juga menikmati nasi kotak burung puyuh ini mbak", Pak Jodi seraya mengambil satu buah nasi kotak dan mencari tempat duduk yang nyaman.


" Mari pak".


" Big bos kok tidak ada yang kelapangan hati ini?", ujar Mutia seraya mengambil air mineral dan meminumnya.


" Saya dengar dari pak Fajar tadi pagi saat bertelepon, saat ini pak Fajar sedang ada nego dengan klien sementara pak Tristan berada dikantor sedang ada rapat menggantikan pak Arjuna yang kurang sehat", Jawab pak Jodi.


Mutiara hanya mamggut sekilas saja kemudian melanjutkan makannya dengan lahab.

__ADS_1


" Bukannya pak Tristan sedang PDKT dengan mbak Mutia?", Tanya Pak Jodi hati-hati dengan nada suara yang rendah.


" Hemmm...", mutiara hampir saja tersedap, dengan pertanyaan Pak Jodi barusan.


" Tidak pak!, dia memang ramah dan sering mengajak saya ngobrol nanya-nanya sesuatu itu tetapi dibilang pendekatan tidak juga Pak karena kami hanya ngobrol di sini saja jika bertemu kan jika pendekatan akan berlanjut melalui telepon atau saling berkirim pesan ini tidak sama sekali", jawab Mutia apa adanya setelah bisa menguasai keterkejutan dengan pertanyaan Pak Jodi barusan.


" Oh Saya kira kalau tak Tristan itu ada maksud dengan mbak Mutia ternyata tidak ya, karena memang beberapa kali saat kita saling bertelepon and suka menyelipkan pertanyaan tentang Mbak Mutia kepada saya, makanya saya berpikir kalau Pak jadi itu naksir sama Mbak Mutia", ujar Pak Jodi.


Deg


Hati Mutia mencelos, terkejut karena ternyata Tristan mengorek informasi tentang dirinya melalui Pak Jodi Untung saja antara Mutia dengan Pak Jodi baru akhir-akhir ini saja karena pekerjaan mereka dekat dan Mutia yakin pak Jodi tidak tahu banyak mengenai dirinya.


" Mungkin saya belum menginformasikan mengenai diri saya kepada bapak, jika ada yang mau mengenal saya, saya itu seorang single parent Pak, dengan 1 anak dengan kondisi sayang seperti itu saya akan sangat selektif sekali untuk mengenal orang apalagi itu jika menyangkut mengenai pasangan dan sepertinya untuk saat ini saya juga belum berpikir ke arah sana", jawab Mutia to the point langsung memberikan garis besarnya pada Pak Jodi itu dimaksudkan apabila nanti ada seseorang yang bertanya lagi mengenai dirinya kepada Pak Jodi.


" Oh iya Mbak, pastinya saya pun tidak akan sembarangan memberikan informasi mengenai Mbak Mutia kepada seseorang yang bertanya kepada saya, tenang saja Mbak", jawaban Jodi yang langsung menangkap arah pembicaraan dari Mutia.


" Iya Pak, saya saat ini sedang berada di kondisi yang sangat nyaman Pak, dengan satu putra yang sudah beranjak besar saat ini usianya udah hampir 4 tahun, sudah bersekolah di TK A, meskipun saya masih mengontrak tetapi sedikit demi sedikit hidup saya sudah mulai terarah pak, apalagi dengan pekerjaan saya saat ini, membuat saya sangat bersyukur dan belum berfikir untuk mencarikan Hilmy putra saya seorang ayah sambung", Jawab Mutia begitu terbuka karena merasa pak Jody seperti bapaknya sendiri.


-


-


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2