
Tok
Tok
Tok
" Assalamualaikum".
" Heh! siapa itu Hilmi yang ketok-ketok pintu?", model sedikit terkejut pasalnya dirinya baru saja hendak menyiapkan makan ke dalam mulutnya tetapi malah pintu terdengar ada yang mengetuk.
" Sebentar Bunda biar Hilmi saja yang membukakannya", bocah itu turun dari kursinya kemudian berlari menuju arah pintu depan untuk membukakan pintu sementara Mutia memperhatikannya dari tempat duduknya.
Begitu pintu dibuka nampaklah senyum dari seorang lelaki gagah yang kini tengah mengenakan kaos berwarna putih dengan kerah wangki serta celana jean warna navy.
" Waalaikumsalam ayah.... ", Hilmi menjawab salam dari ayahnya kemudian tersenyum sumringah membukakan pintu lebih lebar lagi.
" Bunda ada ayah bolehkah ayah masuk Bunda?", tanya Hilmi hati-hati takut bundanya marah.
" Hemm.... Ya sudah masuk aja Mas", jawab Mutia dingin yang kini telah berdiri di ruang tamu meninggalkan meja makannya.
" Silakan duduk atau mau bergabung makan bersama kami?", Tawar Mutia kemudian.
" Iya terima kasih", jawab Arjuna sedikit grogi.
" Ayah sama siapa datang ke sini, kenapa tadi tidak datang ke sekolah Hilmi, umpasa mau ma juga enggak ada yang datang ke sekolah, Hilmi tadi nungguin jadi aja Hermin pulangnya dijemput Bunda sudah mau gelap", Arjuna hanya tersenyum mendapati serangan kata-kata dari sang putra.
" Ayah sendiri nak, Maaf tadi Ayah tidak mau ke sekolah makanya Ayah ke sini untuk melihatmu", jalan Arjuna membelai rambut kepala sang putra.
__ADS_1
" Ya sudah ayo teman Hilmi makan Helmi lapar tadi bunda udah masakin ayo sini Ayah kita makan bersama-sama", bocah itu menarik tangan Arjuna menuju meja makan.
Sementara itu Mutia sudah duduk kembali di kursi makannya melihat Helmi mengajak Arjuna menuju tempat makan Mutia pun kemudian beranjak untuk mengambilkan piring dan sendok untuk Arjuna.
" Mas ikut makan aja ini cukup kok tapi ya maaf menunya sangat sederhana seperti ini", Mutia memberikan piring kepada Arjuna untuk ikut menikmati makan bersamanya.
" Mau disuapin ayah?", tanya Arjuna pada Hilmi dan pecah itu menggelengkan kepala sebagai jawaban tidak, karena mulutnya penuh.
" Ayah makan aja sendiri aku sudah pintar kok makan sendiri nanti juga habis", jawab Hilmi Setelah dia menelan makanannya.
Arjuna menyelidik menu yang ada di hadapannya kini nasi sambal tempe goreng ada capcay kuah serta ayam goreng kerupuk itulah yang nampak di meja makan mutiara saat ini.
" Makanlah Mas, jika sudah kenyang sedikit saja untuk menemani kami namun jika Mas merasa menikmati makanan ini silakan habisin nggak papa besok pagi ganti menu lagi", kali ini wajah Mutia terlihat lebih lama dibanding saat dia datang tadi.
" Terima kasih, jadi seperti aku minta makan ke sini ya", ujar Arjuna seraya terkekeh sambil menundukkan nasinya ke dalam piring.
Satu suap 2 suap Arjuna sangat menikmati makanan yang tengah dia nikmati saat ini.
Sebetulnya Arjuna saat ini tengah menjaga pola makannya karena saran dari dokter saat kemarin depresi itu tekanan darahnya seringkali naik turun bahkan cenderung tinggi sehingga dokter menyarankan untuk lebih memilih makanan yang sehat dan juga harus sedikit mengurangi karbo hidrat.
" Barusan masak sendiri?", tanya Arjuna pada Mutia.
" Ya, saya sampai rumah setengah jam sebelum azan Magrib, kemudian memasak nasi menggoreng tempe dan ayam serta menyanyi sayuran, setelah itu mandi dan sholat maghrib baru lah saya lanjut untuk masak sayuran ini, karena malas untuk keluar lagi membeli makanan, meski sebetulnya bisa via online tapi sayang juga ada ya bahan di kulkas ya sudah dimanfaatin saja", ucap Mutia.
Arjuna tersenyum senang mendengar suara Mutia yang begitu panjang lebar menerangkan kegiatannya barusan, namun tidak dipungkiri dalam hatinya pun sedih seandainya dulu dia bisa bertukar istri ketika Luna dia ceritakan dan kemudian Mutia yang seharusnya dia nikahi dia lakukan mungkin saat ini dirinya sudah sangat terbiasa menikmati makan malam bersama istri dan anaknya.
" Hemm", Arjuna berdehem setelah meneguk minumannya setelah makannya selesai.
__ADS_1
" Terima kasih karena makanan sederhana mu ini yang kamu berikan kepada anakku sehingga Hilmi bisa menjadi tumbuh dengan sehat dan kuat seperti saat ini", Arjuna berbicara dengan sedikit petunjuk karena malu pada mu Tia wanita dihadapannya ini wanita sederhana yang simpel dan tidak neko-neko dan apa adanya tapi sudah membesarkan putranya seorang diri yang kini terlihat sangat sehat gendut pintar serta bersih.
" Dia anakku Mas, milikku seorang, apapun akan saya lakukan seluruh hidupku untuknya, jangan berterima kasih karena mas tidak berhutang apapun padaku, dia tumbuh dan lahir dari rahim ku, serta berjuang hidup dari sari makanan yang aku telan, tidak mewah karena memang nggak ada, juga mungkin sangat kekurangan gizi atau vitamin lainnya tapi yang jelas insyaallah halal dan bersih", cara Mutia mengoleskan senyum manis di bibir nya.
" Ya aku tahu, kamu memang seorang ibu yang hebat, kamu luar biasa dan maafkan aku karena telah menyakitimu begitu dalam, aku berhutang banyak pada mu, biarkan aku membantu untuk urusan dia", cara Arjuna panah permohonan pada Mutia.
" Buatkan saja tabungan untuk nya Mas, karena aku tidak berhak memakan yang bukan hakku meskipun sepeser, Alhamdulillah tidak banyak yang aku hasilkan tapi untuk hidupku sendiri lebih dari cukup".
" Aku sangat berharap kamu bisa menerima yang aku berikan padamu lebih dari sekedar makanmu kebutuhanmu ataupun tempat tinggalmu, biarkan aku menebus dosaku Mutia", ujar Arjuna memelas mengharapkan kesediaan mutiara untuk menerima pemberian nya.
" Aku tidak punya hak untuk itu semua Mas, tembakan yang lebih berhak, tolong jangan bicara ngawur, kita tidak pernah memiliki hubungan apa-apa, jadi cukup kamu sayangi Hilmi jika kamu mau menyayanginya, aku tidak masalah tapi mengenai kebutuhanku aku bersyukur dengan pekerjaanku saat ini sangat sangat bersyukur, Mas juga punya anak punya istri aku tidak mau menyakiti mereka Mas jika suatu hari nanti mereka tahu dan salah paham aku tidak punya alasan untuk menerimanya", jawab Mutia membuat Arjuna hanya tersenyum kecut.
" Ayaahh ...", Hilmi yang tengah menonton TV dan sudah meninggalkan meja makan sedaritadi memanggil ayahnya sedikit agak keras.
" Iya nak ada apa?", jawab Arjuna masih di tempat duduknya.
" Sebentar Mut, kirimi memanggilku", Arjuna beranjak pergi dan menuju ke arah putranya.
Sementara itu Mutia kemudian membereskan meja makan dan bekas makan mereka semua tak lupa Setelah semuanya beres dia pun menyeduhkan kopi untuk Arjuna.
" Mas minum kopi?", tanya mutiara kuragu meskipun sudah diseduh kan tapi jika arjuna tidak meminum maka dia pun hendak menggantinya.
" Iya boleh, less sugar kan?", tanya Arjuna dan Mutia pun mengangguk mengiyakan.
" Bukankah tekanan darah masukkan naik, masih suka minum kopi?", sebetulnya pertanyaan Mutia ini tidak yakin karena dia sendiri tidak tahu riwayat kesehatan Arjuna.
" ya itulah keajaiban putramu ini Mutia, semenjak aku mengenalnya tekanan darahku stabil terus, normal", jalan Arjuna dengan tersenyum lebar.
__ADS_1
Bersambung ....