
" Ya.... Yaa... tidak apa-apa aku juga mengerti kok, Iya akan aku buktikan setelah kita nanti menikah, tapi kamu juga harus berusaha ya untuk cinta sama aku, dan jangan panggil aku bapak panggil aku Ayah atau Mas", Arjuna melirik kearah Mutia.
" Ayah saja ya, nanti panggil Mas nya kalau kita sudah resmi", ucap Mutia sambil memandang ke samping kaca mobil tak mau melihat Arjuna Karena sejujurnya ada rasa kikuk dan tak enak karena masih canggung dengan Arjuna.
" Amin semoga saat itu bisa terlaksana dengan lancar, pasti akan aku tagih janjimu bun", ujar Arjuna melirik sekilas pada Mutia kemudian kembali fokus menyetir tidak ingin membuat perempuan yang sudah hampir 6 tahun selalu menghantui mimpinya ini merasa canggung dan kikuk saat berada didekat dirinya.
" Boleh saya meminta sesuatu kepada aa- ayah?", bukan hanya kikuk dan jagung tetapi perkataanmu Tia jelas Terdengar sangat gugup.
" Katakan saja jika saya mampu pasti akan aku penuhi apapun itu permintaan mu bun", jawab Arjuna dengan sangat serius.
" Saat pernikahan nanti, Saya hanya ingin keluarga dekat saja yang hadir jika Bapak ingin mengundang rekan kerja Bapak pun yang sangat dekat hubungannya dengan perusahaan Bapak dan juga oppa Abdul, begitupun dengan saya hanya akan mengundang sedikit orang yang benar-benar dekat dengan saya saja, saya masih trauma", di akhir kalimat nya Mutia kemudian menunduk dengan suara yang tercekat dan bergetar, jelas hal itu langsung membuat Arjuna sangat khawatir.
Dengan cepat Arjuna kembali meraih tangan Mutia untuk digenggamnya agar memberikan kekuatan dan semangat bagi Mutia.
" jika hanya itu permintaanmu jelas akan ayah turutin Bun tapi sebelumnya saya harus berbicara dulu dengan bapak, bagaimanapun aku ini anak tunggal namun sejujurnya ayah sangat setuju dengan permintaan Bunda".
" Bunda harus yakin bahwa acara kita kali ini akan berjalan lancar tidak seperti waktu itu", Arjuna pun menarik nafas dalam pikirannya kembali ke saat itu bukan pestanya yang menjadikan mereka trauma namun kesalahan sedikit yang mereka perbuat Dan berakibat fatal lah yang terus mereka ingat sepanjang hampir 6 tahun ini.
" Tolonglah Bun jangan kamu ingat terus sesuatu yang membuatmu trauma, ingatlah masa indah kita yang pernah kita lalui Ayah yakin Bunda tidak pernah melupakannya", ucap Arjuna dengan sangat lembut.
__ADS_1
" Ah... apaan sih ayah, yang mana itu Aku tidak pernah ingat, setelah dua minggu itu aku telah menguburnya dalam-dalam Aku ingin melupakan semuanya justru itulah yang membuat aku trauma intinya hanya itu, sepanjang hidup saya belum pernah berpacaran jangankan pacaran punya temen cowok saja aku tidak pernah Pak, dan begitu dijodohkan dengan Mas Aldi oleh ibu Merry di situlah aku merasa kagum dengan sosoknya yang lembut yang perhatian meskipun dia tahu asal-usul saya, pekerjaan saya, tapi dia begitu baik memperlakukan saya, dan ketika kami menjadi pengantin apa yang seharusnya aku persembahkan kepada-nya sebagai suami sah aku sebagai seorang lelaki yang pertama aku kenal dan dengannya aku ada rasa kagum serta kehormatan luar biasa karena beliau Sudi menerima perjodohan itu dengan sangat baik padahal diri saya ini tidak pantas untuknya, dan memang benar ketika seharusnya aku mempersembahkan satu-satunya harta yang saya miliki ternyata Hiks hiks... ", Mutia langsung terisak ketika mengungkapkan letak trauma terbesarnya kepada Arjuna.
" Jangan nangis.... please jangan bersedih... hatiku sakit mendengar rintihan tangisanmu, Aku ingin membuat kamu tersenyum terus setiap hari bukan menangis, tarik nafas dalam-dalam dan berhentilah menangis", kali ini bukan hanya Mutia yang tergugu dalam tangisannya namun Arjuna malah lebih keras terisak mendengar tangisan Mutia sungguh hati Arjuna rasa sakit dan tidak bisa menahan gejolak yang dia rasakan.
Mutia hanya manggut-manggut menuruti perkataan Arjuna, melihat reaksi Arjuna yang sebegitunya Mutia pun sedikit syok.
" kok Ayah ikut menangis?", meskipun kondisi dirinya pun masih terisak mendapati Arjuna yang ikut tergugu Mutia pun melontarkan pertanyaan seperti itu dengan spontan.
" Makanya jangan nangis lagi, kita nanti akan sama sama buat kenangan yang menyakitkan itu menjadi kenangan indah, yakinlah bun... ", Arjuna menggenggam tangan Mutia lembut.
" Apakah yang yang berada duduk di bangku kemudi disampingku ini, betul pak Arjuna yang angkuh itu atau orang lainysng wajahnya mirip dengan pak Arjuna ya ", Mutia berbicara sambil meneteskan air mata meskipun air mata kali ini bukan air mata kesedihan seperti tadi, melainkan air mata penuh haru.
" Memang Arjuna yang kamu kenal itu seperti apa? orang yang angkuh, sombong, dingin, sering menatap tajam, tidak bisa tersenyum, atau yang bagaimana?", tanya Arjuna membuat perkiraan-perkiraan penelitian Mutia atas dirinya.
" Semua yang Bapak bilang itu benar itulah Pak Arjuna yang saya kenal", jawab Mutia jujur.
Arjuna langsung mengerutkan keningnya begitu dalam seakan sedang memikirkan semua kebenaran tentang dirinya.
" Oh jadi seperti itu diriku yang kamu lihat selama ini?", tanya Arjuna.
__ADS_1
" Lebih dari itu, kadang seperti orang linglung, maaf", kali ini Mutia keceplosan terlalu jujur mengatakan tentang Arjuna yang sering dilihat ketika mereka pernah bekerja bersama menjalankan 1 project yang tengah mereka lakukan.
Dibilang linglung oleh Mutia Arjuna pu hanya terkekeh seraya mengusap air matanya yang masih membekas.
" Apakah kamu tahu kenapa aku terlihat linglung seperti itu, Kamu mau tahu apa penyebabnya?", tanya Arjuna dengan fokus masih menyetir.
Tidak dengan menatap Mutia karena merasa sedikit malu dibilang linglung oleh Mutia.
" Maaf ... maaf banget ini ya Pak, mungkin Bapak masih terkena efek depresi kala itu", jawab Mutia menerka-nerka.
" Bukan!, tapi aku tengah kebingungan setiap kali bertemu dengan ibu putraku", jawab Arjuna terlihat sangat meyakinkan.
" Bingung kenapa?", Tanya Mutia terheran.
" Banyak hal yang menjadi penyebabnya".
" Karena saya?", Mutia menunjuk dadanya sendiri dengan mata menyorot tajam Arjuna.
" Iya semuanya karena mu bun, karena aku menyesal dengan segala keegoisanku aku menolak tidak mau menikah denganmu, aku setiap malam dihantui rasa berdosa dan selalu kepikiran tentangmu, namun di saat kita bertemu aku sudah jatuh cinta ketika belum melihat wajahmu pun bahkan baru matamu yang aku lihat melalui foto aku sudah tergila-gila, namun aku tidak bisa untuk mengutarakannya, Aku adalah suami dari seorang istri dan Bapak dari seorang anak tidak mungkin aku ke gegabah apalagi aku tengah merintis menjadi seorang pemimpin dari sebuah usaha yang telah ditekuni oleh Bapak itu bukan hal yang mudah untuk mengutarakan isi hati apalagi mengenai perasaan terhadap lawan jenis, pasti nanti semua orang akan menuduh bunda sebagai pelakor padahal kamulah Cinta sejatiku dan orang yang aku harapkan menjadi pendamping hidupku, bukan orang lain ".
__ADS_1
Bersambung....