
Mutia dan keluarga Bu Meri tampak tengah menunggu Bu Meri yang kini berbaring lemah di atas tempat tidur pasien.
Iya Bu Meri sudah siuman, dan observasi dokter mengatakan jika Bu Meri mengalami komplikasi meskipun kondisinya masih cukup stabil.
" Ibu ini sepertinya sering mengalami hipertensi ya pa? dan kini sakitnya itu sudah mempengaruhi ginjalnya, namun sejauh ini masih belum terlalu penanganan yang sangat khusus tapi harus di jaga dengan sangat baik agar tidak sampai pasien mengalami gagal ginjal", ucap dokter ada suamiku Meri dan juga keluarganya yang berada di dalam ruangan itu.
" Iya Pak betul istri saya ini sudah cukup lama mengalami hipertensi", jawab suami Bu Meri.
" dijaga ya Bu makannya agar tidak mempengaruhi organ yang lainnya, makasih dan semangat untuk ibunya ya", ujar dokter lembut pada Bu Meri yang di jawabannya dengan anggukan lemah.
Setelah dokter itu keluar maka anggota keluarga pemain 1 per 1 mendekati dan memberikan semangat kepada Ibu mereka termasuk juga dengan Mutia.
" Ibu semangat ya, pasti masih bisa sembuh seperti sedia kala", mati aku membelai lembut punggung tangan wanita yang telah mendunia selama ini.
Hingga sore hari menjelang Mutia barulah berpamitan dari tempat itu karena harus menjemput Hilmi.
Namun saat sampai di sekolah ternyata Hilmy sudah ada yang menjemput. dan ibu guru pengasuhnya mengatakan jika Hilmi dijemput oleh ayahnya
Dengan cepat Mutia juga langsung menghubungi Arjuna menanyakan tentang keberadaan putranya tersebut saat ini.
" Halo Assalamualaikum Pak Arjuna... apakah Hilmi bersama Bapak?", tanya Mutia begitu sambungan telepon langsung terhubung pada Arjuna.
" Ya waalaikumsalam, jangan panik Hilmi ada bersamaku, ada di rumah kalian saat ini aku baru saja sampai habis menjemputnya", jawab Arjuna, meski sebetulnya sebal ketika Mutia harus memanggil dirinya Pak, namun Arjuna harus bersabar dan lebih mendekati Mutia lagi agar ibu dari putranya tersebut tidak merasa canggung dan kikuk lagi pada dirinya.
__ADS_1
" Ya sudah saya pulang sekarang Terima kasih assalamualaikum", Mutia akhirnya mengakhiri panggilan tersebut.
Tidak membutuhkan waktu yang lama motor Mutia pun kemudian memasuki halaman rumahnya nampak di depan rumahnya sudah terparkir mobil Arjuna.
" Assalamualaikum jagoan Ibunda", sipa Mutia ketika memasuki rumah.
" Waalaikumsalam Bunda", pemandangan pertama ketika Mutia memasukin rumah adalah senyum ceria putranya yang baru saja selesai mandi.
Aroma sabun langsung mengoar di indra penciuman Mutia sesaat ketika kakinya telah melangkah memasuki rumahnya.
" Waaah tampannya anak Bunda sudah mandi Masya Allah ganteng sekali, mandi sendiri atau dimandiin?", siapa Mutia pada putranya yang terlihat wajahnya sudah sangat segar.
" Mandi sendiri dibantu sama ayah, bunda!", jawab Hilmi dengan tersenyum.
" Terima kasih Ayah karena sudah membantu Hilmi mandi di sore hari ini", lidah Mutia terasa kelu ketika akan mengucapkan kata ayah untuk Arjuna.
Berbanding terbalik dengan suasana hati Arjuna yang nampaknya langsung bersorak sorak kegirangan karena mendapati Mutia memanggilnya Ayah meskipun itu hanya membahasakan putranya di depannya saja karena Arjuna yakin besok-besok jika bertemu di tempat kerja Arjuna pun tetap akan dipanggil bapak oleh Mutia.
" Sama-sama Bunda, ini juga kan kewajiban Ayah untuk mengurus Hilmi jadi bunda tidak perlu sungkan ya!", Ucap Arjuna dengan wajah sumringahnya, membuat Mutia menjadi salah tingkah dan juga sebal karena sebetulnya jika bukan karena Hilmi sungguh Mutia tidak membenarkan sikap dirinya yang memanggil ayah kepada Arjuna maupun sikap Arjuna yang memanggilnya Bunda sungguh Mutia masih ingin menolaknya.
" Apa sih Pak, jangan lebay deh!, saya tadi memanggil Ayah karena di depan Hilmi saja jadi Bapak tidak usah Ge-er", Oceh Mutia kemudian meninggalkan Arjuna dan menuju kamarnya.
Hal tersebut membuat Arjuna tersenyum senyum senang tidak ada rasa tersinggung sedikitpun atas penolakan Mutia barusan.
__ADS_1
" Mau dimasakin apa nih?", seperti kebiasaan Mutia dikala sore hari sepulang dari kerja pasti akan menanyakan hal itu kepada sang putra.
" Bunda tidak perlu masak, tadi ayah sudah beli beberapa makanan untuk kita makan malam ini", Arjuna langsung menyahuti dan segera mengambil kunci mobil dan berjalan menuju ke mobilnya.
Mendengar kata-kata Arjuna barusan hati Mutia semakin dongkol namun tidak bisa memprotesnya mengingat ada Hilmi di dekat mereka sehingga Mutia tidak bisa protes dengan kata-kata Namun bukan Mutia namanya jika tidak bisa protes lewat gerakan dan juga laut mimik wajahnya.
Arjuna tahu jika Ibu dari putranya tersebut saat ini tengah dongkol terhadap dirinya namun bagi Arjuna tidak masalah bukan ingin menggoda ataupun mengerjai Mutia tapi Arjuna memang sengaja mengambil kesempatan untuk lebih mendekatkan diri pada Mutiara.
Tak berapa lama Arjuna masuk ke dalam rumah Mutia dengan tentengan di kiri dan kanan tangannya.
" Kok banyak sekali ayah?", Hilmy yang melihat ayahnya membawa 1 kantong besar belanjaan dan di sebelah kanannya juga membawa dua kantong makanan merasa heran pak soalnya tadi Hilmi tidak merasa dibawa ayahnya untuk ikut berbelanja tapi mengapa dari dalam mobilnya turun banyak sekali belanjaan.
" Iya itu apa-apa kenapa banyak sekali?", sahut Mutia.
" Yang ini belanjaan untuk dimasukkan ke dalam kulkas dan juga untuk kebutuhan sehari-hari lainnya ada beras, minyak goreng, telur, dan juga kebutuhan ke kamar mandi, dan yang di kantong satunya untuk dimasukkan ke dalam kulkas ada berupa daging-dagingan ikan dan juga sayuran", Arjuna menyerahkan kantong belanjaan Nya kepada Mutia.
" Dalam rangka apa Kakak membelanjakan saya, saya sudah biasa kok belanja sendiri untuk kebutuhan kami sehari-hari jadi Bapak tidak perlu repot-repot seperti ini", tolak Mutiara yang merasa sungkan untuk menerima barang-barang belanjaan pemberian Arjuna.
" Aku belanja ini karena sebagai ayah aku punya kewajiban untuk memenuhi kebutuhan anakku dan juga Ibu dari anakku ini hanya bentuk usaha untuk menyayangi kalian jadi jangan salah paham, tidak ada maksud apapun karena kamu tidak mau menerima kartu dariku", jawab Arjuna apa adanya tentang isi hatinya saat ini.
" Kenapa papa harus repot-repot Hilmi adalah anak saya jadi saya yang berkewajiban memberikan semua kebutuhan dia", penolakan Mutia jelas terlihat bukan dari kata-katanya saja namun wajahnya pun menampakan ketidaksetujuannya atas tindakan Arjuna tersebut.
" please terimalah Bunda, Aku hanya bisa menebus kesalahanku yang begitu besar hanya dengan cara seperti ini tolong terimalah dengan ikhlas karena aku pun melakukan semua ini juga dengan hati yang sangat-sangat ikhlas terima ya jangan ditolak karena nggak ada kata penolakan buat saya!", ujar Arjuna dengan wajah penuh permohonan yang sangat terlihat.
__ADS_1
Bersambug ....