PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )

PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )
Pembahasan


__ADS_3

" Hilmi senang?", tanya Bu Meri dengan mengusap kepala serta tersenyum lebar pada sang cucu angkatnya.


" iya, itu artinya heal me mau punya ayah betulan kayak kak Kenzo", Jawa polos Hilmi.


" Lho, selama ini ayah Arjuna ya Ayah betulan buat Hilmi", sahut bu Aryanti.


" Ayah betulan ku itu papa Aldi", Hilmi bersungut sambil berlari kecil mendekat kaki Mutia.


Mendengar ucapan Hilmi tak turu membuat semua orang di ruangan itu kemudian terdiam kehabisan kata-kata, bingung untuk menjelaskan saat ini kepada Hilmi dengan bahasa seperti apa.


" O iya, Papa Aldi memang papanya Hilmi, tetapi dia berada jauh di negeri orang sayang, jadi di sini Ayah Arjuna yang dekat dengan Hilmi, iya kan?", Bu Hera akhirnya mendekat ke arah Hilmi dan membelai punggung bocah itu dengan lembut agar tidak cemberut lagi.


" Tapi Ilmi juga sayang banget sama papa Aldi".


" Iya itu harus ya, karena papa Aldi juga sayang sama Hilmy", Bu Hera merasa terharu dengan ucapan Hilmy, bocah itu nyatanya tulus mencintai putranya sebagai papanya meskipun bukan darah daging Aldi.


Mendengar ucapan yang keluar dari bibir Hilmi hati Arjuna akan disayat belati, perih dan pilu.


begitupun dengan Pak Abdul Muis dan juga Ibu Aryanti hatinya seperti tersayat, ngilu.


Mereka hanya bisa menarik nafas dalam kemudian membuangnya kasar merasakan dadanya yang tiba-tiba sesak kaki terhimpit nafas yang keluar seakan ingin mencari kelonggaran dari rasa sesak nya.

__ADS_1


" Mas, mbak saya mohon jangan diambil hati ucapan bocah polos ini, Dia berkata begitu karena memang dari bayi yang dah kenal adalah Aldi meskipun hanya lewat video call saja", ucap bu Hera merasa tidak enak hati kepada keluarga Arjuna.


" Pak!, Maafkan saya, karena kesalahan saya dan keikhlasan saya Ya makanya Ilmi begitu sayang sekali dengan Mas Aldi", Mutia pun merasa tidak enak hati dengan Arjuna dan kedua orang tua Arjuna.


" Bukan kamu yang salah bunda, tetapi aku lah yang egois di sini, dan terima kasih untuk kesempatan kali ini aku berjanji didepan semuanya untuk memperbaiki kesalahanku yang lalu untuk menjadi lebih baik", Ungkap Arjuna dengan serius.


" Iya ", Mutia hanya mengangguk, sementara Hilmy yang masih mendekap lutut Mutia mendongak menatap ayahnya.


" Ayah!, Ayah kan mau jdi pengantin dengan bunda, tapi nanti boleh ya jika papa Aldi telpon Hilmy!!?", Hilmy berbalik menatap Arjuna dan kemudian berbicara penuh permohonan pada Arjuna.


Hati Arjuna kembali terasa perih, namun dia tetap tersenyum dan mengangguk mengiyakan permintaan putranya.


" Boleh dong!, Hilmy kan nanti jadi punya papa dua, papa Aldi dan Ayah Arjuna sampai besar pun akan tetap seperti itu", Arjuna kemudian meraih putranya untuk direngkuh dalam dekapannya, Arjuna dengan gemas menciumi wajah putranya tersebut.


Semua orang jadi tertawa mendengar ucapan Hilmi.


" Hahaa.... ini bukan duri sayang tapi rambut yang baru dicukur tiga hari lalu", jawab Arjuna telapak tangannya membelai dagu dan pipinya sendiri merasakan memang benar terasa tajam.


" Rambut Ayah tajam, sakit kenapa pipi Hilmy!", bocah itu menampakan wajah cemberutnya.


" Duh... maaf ya jagoan ayah", Arjuna kemudian mengusap pipi putranya, Hilmy mengangguk saja.

__ADS_1


" Mbak Mas bu Meri dan Bapak serta Mbak Winda, sebaiknya kita bahas semuanya agar tuntas hari ini karena bagaimanapun Ibu ini harus segera mengurus segala persiapan untuk berobat di luar negeri", Ucap pak Abdul kemudian setelah mereka berkumpul dengan santai di ruang keluarga Bu Meri.


" Iya betul itu, Saya sangat berharap jika Arjuna dan Mutia meresmikan hubungan mereka sebelum marry berangkat untuk berobat", jawab Pak Bahar.


" Namun menurut saran dokter sebaiknya seminggu lagi sudah harus berangkat nah jika hanya beberapa hari persiapan apakah bisa?", Pak Abdul nampakkan sejenak berpikir setelah mengucapkan kata-kata tersebut.


" Jun, kalian mau nggak jika kalian harus menikah kembali di hotel meskipun bukan hotel yang kemarin lagi, karena yang bisa mempersiapkan dengan cepat pernikahan kalian mungkin jika dilaksanakan di hotel saja", ujar Pak Abdul meminta pertimbangan pada Arjuna.


" Bagaimana jika di Villa kita yang di pinggir pantai saja pah, kita sewa WO yang handal agar bisa mempersiapkan semuanya dengan cepat", Arjuna memberikan pendapatnya.


" Bagaimana pak Bahar dan semua keluarga jika acaranya diadakan di Villa kami yang di pinggir pantai jadi nanti undangannya terbatas saja karena memang villa nya juga tidak terlalu besar mungkin nanti acaranya outdoor begitu", Pak Abdul Muis minta tanggapan dari pihak keluarga Bu Meri.


" Bagaimana Mer kamu kira-kira kalau perjalanan sampai ke pantai masih mampu tidak?", tanya Pak Bahar kepada bu Meri karena biar bagaimanapun Pak Bahar pasti tahu jika pernikahan ini tidak akan membuatmu tiap bahagia kecuali dengan kehadiran Bu Meri yang mendampinginya.


" Iya kuat lah Mas, wong aku ini sehat kok, ya memang harus di atas kursi roda untuk sementara tapi aku ini nggak ada keluhan, sehat-sehat saja lagian momen sakral Mutia ini sudah aku impikan sejak lama jadi aku sangat bahagia karena nya dan tentu aura kebahagiaanku ini akan membuatku sembuh lebih cepat", jawab Bu Meri dengan penuh semangat.


" Aamiin ", jawab mereka semua serentak kemudian menu WhatsApp wajah mereka dan sangat berharap jika Bu Meri bisa hadir dan kemudian bisa berangkat perubahan dan sukses bisa pulang dengan keadaannya sehat walafiat seperti sedia kala.


" Oke saya simpulkan ya acara pertemuan kita hari ini, saya pertama ingin mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepada keluarga Bu Meri dan suaminya serta keluarga Pak Bahar, karena Ibu dari cucu saya ini benar-benar kalian anggap seperti keluarga sendiri support kalian selama ini dan perhatian kalian selama ini tentu tidak akan bisa aku balas meskipun dengan segunung berlian Terima kasih Terima kasih semoga Allah yang membalas kebaikan kalian semua, saya mohon doa restunya untuk Mutia dan Arjuna memulai kehidupan berumah tangga", ujar Pak Abdul Muis bernada penuh kesedihan.


" Dan yang kedua, acara akan diadakan di Villa kami inginnya sih ih malam jumat atau...", Pak Abdul sedikit berfikir menimbang-nimbang kapan hari sakral putranya itu akan dilaksanakan.

__ADS_1


" Begini saja mas, sebetulnya semua syarat-syarat untuk Meri berobat itu sudah mulai kami urus dari seminggu yang lalu dan kami akan berangkat itu di hari Senin jam 10 pagi karena akan bertemu dengan dokternya itu beliau menjanjikan kalau tidak Selasa jam 4 sore kemungkinan Rabu pagi jam 9, jadi sebaiknya acara ini kita adakan di hari Jumat malam Sabtu ataukah Sabtu malam Minggu atau mungkin Sabtu pagi saja, tidak masalah kan Mer? kamu tidak akan merasa capek kan dengan jeda waktu yang hanya di hari Minggu itu sebelum berangkat?", kali ini yang berbicara suami dari ibu Meri.


Bersambung.....


__ADS_2